Bab 41 Tekad Wanita

1032 Kata

Raisa tidak langsung pulang. Ia duduk di balik kemudi mobilnya cukup lama setelah Bramasta turun dan menghilang di balik pintu kafe. Tangannya masih di setir, tapi matanya kosong menatap ke depan. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantul di kaca depan seperti garis-garis tak beraturan. Dunia tetap berjalan, padahal ada sesuatu di dalam dirinya yang baru saja berubah arah. Ia menarik napas perlahan. Dalam dan terukur. Bukan karena ia tenan melainkan karena ia tidak boleh runtuh. Raisa sudah menduga Bramasta akan menyusulnya. Negosiasi, penjelasan dan dalih agama. Alasan logis yang dibungkus rasa bersalah. Semua itu mudah ditebak. Namun yang tidak ia duga adalah betapa cepatnya lelaki itu melupakan perempuan yang duduk bersamanya tadi—Inari. Seolah keberadaan perempuan itu h

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN