Pertemuan itu berakhir menyakitkan. Bramasta menyusul Raisa, mungkin mencoba bernegosiasi tentang poligami yang dilakukannya. Namun, dia melupakan Inari. Pada akhirnya, Inari pulang dengan kendaraan umum. Selama dua jam, Inari hanya terdiam, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Inari pulang sendirian dengan senyap yang terus menumpuk di dalam hati. Ia bahkan tidak menyalakan lampu teras. Pintu rumah ditutupnya perlahan, seolah takut suara sekecil apa pun bisa membuatnya pecah sebelum waktunya. Namun begitu kunci berputar dan klik logam itu terdengar, tubuhnya menyerah. Punggungnya bersandar ke daun pintu, lututnya melemas, dan ia melorot ke lantai seperti boneka yang talinya diputus. Tangisnya meledak. Bukan tangis yang indah. Bukan tangis yang terkontrol. Napasnya terse

