Kafe itu terlalu terang dan terbuka. Itu hal pertama yang disadari Inari begitu melangkah masuk, seolah cahaya lampu sengaja diarahkan untuk membongkar semua kebohongan yang dibawa. Lampu putih kekuningan menggantung rendah, memantul di permukaan meja kayu yang bersih dan mengilap. Aroma kopi memenuhi udara, harusnya hangat, harusnya menenangkan, tapi justru membuat perut Inari melilit, seperti ada sesuatu yang menolak masuk ke tempat ini. Semua terlihat normal. Padahal pertemuan ini bisa menjadi titik runtuh hidup seseorang. Langkah Inari melambat ketika matanya menangkap sosok yang sudah duduk lebih dulu di sudut kafe. Raisa. Ia mengenalinya tanpa perlu dikenalkan. Ada jenis perempuan tertentu yang langsung terasa keberadaannya, bukan karena suara atau gerakannya, tapi karena cara ia

