Raisa sudah mengambil sikap. Dia bersedia bertemu bertiga, bukan untuk mengiyakan ajakan suaminya untuk berpoligami, dia hanya ingin tahu apakah wanita itu masih bisa hati nurani atau tidak. Dia juga ingin tahu perempuan tidak tahu malu seperti apa yang sudah membuat suaminya berpaling dari dirinya. Jujur, itu bukan rasa cemburu. Ini hanya sebuah ledakan karena harga dirinya diinjak oleh orang asing yang sama sekali tidak terdeteksi kehadirannya. Setelah duduk di teras hingga senja habis, ada sesuatu yang tak bisa ia lepaskan dari dadanya. Rasa curiga itu bukan ledakan emosi—lebih seperti jarum kecil yang terus menusuk, pelan tapi pasti. Ia sudah menyiapkan segala daftar pertanyaan dan berbagai simulasi yang mungkin terjadi untuk menghadapi perempuan bernama Inari di kepalanya. Malamnya

