Raisa tidak langsung mencari Inari. Meskipun hatinya sakit karena suami yang sudah dipercaya dan menjadi kebanggaannya selama lebih dari tujuh tahun, tiba-tiba ingin berpoligami, dia tidak mau langsung menyerang wanita yang sudah membuat suaminya berpaling darinya. Raisa bukan perempuan yang bergerak karena emosi sesaat. Tangisnya sudah habis malam itu. Amarahnya sudah tumpah. Yang tersisa hanya sesuatu yang jauh lebih berbahaya yaitu kejernihan pikiran yang dingin. Hari-hari setelah pertengkaran itu berjalan nyaris normal, terlalu normal untuk sebuah rumah yang retak. Raisa tetap bangun pagi, menyiapkan sarapan Langit, mengantarnya ke sekolah, menyapa tetangga dengan senyum tipis yang sopan. Ia tetap menjadi Raisa yang dikenal orang-orang. Tenang. Tertata. Tidak meledak-ledak. Raisa j

