Setelah Raisa berhenti memukulnya, rumah itu tidak langsung tenang. Justru sebaliknya, keheningan yang datang terasa seperti hukuman. Lebih menyakitkan daripada teriakan, lebih menyesakkan daripada air mata. Bramasta berdiri di ruang tengah dengan napas tersengal, bibir terasa perih, dan dadaa berdenyut bukan karena pukulan, melainkan karena satu kalimat yang baru saja ia ucapkan sendiri. Aku tidak bisa meninggalkanmu atau dia. Kalimat itu berputar di kepalanya seperti gema yang tidak mau pergi. Ia tahu ia salah. Ia selalu tahu. Sejak awal, sejak pertama kali ia membiarkan perasaannya tumbuh pada perempuan lain, sejak ia memelihara kebohongan kecil yang kemudian menjelma menjadi hidup ganda, ia tahu. Namun mengetahui salah dan mampu berhenti adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Kes

