Setelah menangis cukup lama di pelukan Anton, Raisa tidak langsung merasa lebih kuat. Justru sebaliknya, ia merasa kosong. Seperti seseorang yang akhirnya berhenti menahan napas lalu sadar paru-parunya sakit. Ada lega, tapi juga nyeri yang aneh. Sebuah ruang sunyi yang seolah menuntut ia menata kembali dirinya sendiri, tanpa ada panduan. Anton tidak bertanya apa-apa lagi sore itu. Ia hanya mengantarnya masuk ke rumah ketika matahari hampir tenggelam, memastikan ibunya tidak curiga, memastikan Raisa tampak “baik-baik saja”. Raisa berterima kasih untuk pengertian Anton. Malamnya, Raisa tidak tidur nyenyak. Ia terjaga berkali-kali, menatap langit-langit kamar masa kecilnya yang familiar tapi kini terasa asing. Ia memeluk Langit, yang tidur di sampingnya, anak kecil yang tak tahu apa

