Bab 34 Langkah Lanjutan

1172 Kata

Raisa memilih duduk di teras belakang rumah orang tuanya sore itu. Kursi kayu tua yang catnya mulai terkelupas berderit pelan saat ia menggeser tubuhnya. Ia memeluk lutut, menatap halaman yang ditumbuhi rumput liar dan pohon jambu yang sejak kecil tak pernah ditebang ayahnya. Udara tidak panas, tidak juga sejuk—seperti perasaannya yang menggantung di antara ingin marah dan ingin menyangkal. Langit berwarna kelabu muda, seolah ragu hendak hujan atau tidak, persis seperti hatinya yang belum tahu harus menjatuhkan diri ke arah mana. Dari dapur terdengar suara ibunya menyiapkan teh. Bunyi sendok beradu dengan gelas, denting yang biasanya menenangkan, kini justru terasa asing. Dari dalam rumah, televisi menyala dengan volume rendah—berita sore yang diputar tanpa benar-benar didengarkan. Semua

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN