Raisa mulai bertanya dengan cara yang paling tidak mencurigakan. Bukan dengan tuduhan atau suara tinggi melainkan dengan kalimat-kalimat kecil yang diselipkan di antara rutinitas harian seolah ia hanya istri biasa yang ingin tahu, bukan perempuan yang sedang mencium aroma rahasia. “Mas, kemarin di Malang nginep di mana?” tanyanya suatu pagi sambil menuang kopi. “Hotel,” jawab Bramasta singkat, matanya tetap pada layar laptop. “Sendiri?” “Iya.” Tidak ada penjelasan lanjutan. Tidak ada cerita tambahan. Jawaban itu selesai dan tertutup. Hari lain, Raisa mencoba lagi. “Kok Mas kelihatan capek terus?” tanyanya sambil melipat baju. “Kerjaannya lagi berat, ya?” Bramasta mengangguk. “Biasa.” Raisa tersenyum tipis. “Kalau capek, cerita aja. Aku kan istrimu.” “Iya,” jawab Bramasta singkat

