Anton tidak pernah benar-benar pergi dari hidup Raisa. Ia hanya melangkah setengah langkah ke belakang, cukup jauh untuk tidak mengganggu, tapi cukup dekat untuk selalu tahu apakah Raisa baik-baik saja. Sejak kecil, rumah mereka bersebelahan. Hanya dipisahkan pagar besi rendah yang catnya mulai mengelupas. Dari pagar itu, Anton tumbuh besar bersama suara tawa Raisa. Tawa yang selalu terdengar lebih keras dari radio pagi ibunya, lebih jujur dari salam para tetangga. Lebih indah dari bunga manapun yang pernah dilihatnya. Anton ingat Raisa kecil dengan rambut dikuncir dua, seragam TK kebesaran, dan tas bergambar kartun yang selalu ia seret karena terlalu berat untuk pundaknya yang kecil. Dia tumbuh dengan kenangan itu. “Ton, tungguin aku!” teriak Raisa setiap pagi karena Raisa selalu meng

