Bab 30 Kesadaran

1162 Kata

Inari memblokir nomor Bramasta pada pukul dua dini hari. Jam itu bukan kebetulan. Itu adalah jam ketika pikirannya sudah terlalu lelah untuk berdebat, ketika air mata sudah kering tanpa sisa, dan dadanya terasa kosong—bukan hancur, bukan pula lega, hanya hampa seperti ruangan yang lampunya sudah dimatikan tapi pintunya belum ditutup. Inari menatap layar ponsel beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, seolah menunggu sesuatu berubah dengan sendirinya. Tidak ada. Satu sentuhan jari. Blokir. Nama Bramasta menghilang dari daftar panggilan. Tidak ada bunyi. Tidak ada peringatan. Tidak ada getaran kecil yang menandai akhir dari sesuatu yang besar. Hanya layar yang kembali ke beranda, dingin dan biasa saja. Justru itu yang membuatnya terasa kejam. Inari meletakkan ponsel di meja kecil

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN