Bab 19 Terungkap

1200 Kata

Setelah Bramasta datang ke Malang dan pergi lagi dengan tergesa, rumah itu kembali sunyi. Terlalu sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, tapi sunyi yang menekan—seperti ruangan yang menyimpan gema percakapan yang belum selesai, janji yang menggantung, dan pertanyaan yang sengaja dihindari. Inari duduk di ruang tamu, memandangi cangkir teh yang sudah dingin di atas meja. Uapnya telah lama hilang, menyisakan cairan kecokelatan yang tak lagi menggoda. Sama seperti hatinya. Ponselnya tergeletak tak jauh dari jangkauan, layar hitam, tanpa getar, tanpa suara. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Aneh. Kali ini, bukan itu yang paling menyakitkan. Yang paling menyakitkan adalah rasa asing yang perlahan tumbuh di dadanya—rasa ketika ia menyadari bahwa hidupnya sendiri mulai terasa seperti rumah o

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN