Bramasta tidak pernah membayangkan hidupnya akan terbelah seperti ini. Bukan dengan ledakan. Bukan dengan pengkhianatan yang tertangkap basah. Melainkan dengan sunyi—sunyi yang perlahan menggerogoti, membelah hidupnya menjadi dua ruang yang sama-sama ia huni, sama-sama ia pertahankan. Di satu sisi, ada rumah yang ia bangun bertahun-tahun. Raisa, dengan ketenangannya yang nyaris tak pernah berubah. Langit, yang memanggilnya Ayah dengan suara paling jujur yang pernah ia dengar. Rutinitas yang rapi, pagi yang terukur, reputasi sebagai suami baik dan ayah bertanggung jawab yang ia jaga dengan disiplin. Di sisi lain, ada satu nama yang datang kembali seperti api kecil yang ditiup angin. Inari. Perempuan yang sudah dia sukai dan cintai sejak remaja. Perempuan yang merupakan cinta pertama dan p

