Bab, 3. Wanita aneh.

1023 Kata
Pagi menjelang.. Victor bangun dari tidurnya, dan di saat ia membuka mata, pandangan pertama yang ia lihat adalah wajah cantik dari Diandra. Wajah gadis itu terlihat tenang, dan Victor sungguh tidak tahan tak melihat wajah cantik itu. Dia mengulurkan tangannya dan mulai menyentuh wajah wanita yang memberikan mahkotanya pada dirinya. Sentuhan lembut dari Victor akhirnya membangunkan Diandra. Perlahan ia membuka matanya dan... Beberapa saat Diandra mencoba mengedipkan kedua matanya berulang kali. Ia menatap ke depan dan..., Seketika ia menatap ke arah Viktor dan..., "Agh! Kenapa kamu ada di kamarku?!" pekik Diandra. Seketika ia bangkit dari tidurnya, namun..."Aduh, sakitnya...," gumam Diandra di saat ia merasa bagian bawahnya begitu sakit. Pinggangnya serasa remuk, dan kakinya juga lemas. Bukan hanya itu, ia juga merasa kepalanya sakit dan berat. Victor menatap ke arah Diandra dengan tatapan yang tampak terlihat tenang. Ia hanya menyaksikan segala hal yang wanita itu lakukan. "Bukankah kamu yang memaksaku melakukan hal itu? Maka dari itu — tidak usah bereaksi berlebihan begitu." terang Victor. Diandra terdiam di saat ia mendengar ucapan dari Victor. "Oh, iya..., aku lupa. Berarti, aku tidak perlu pusing-pusing saat meminta pertanggung jawaban darimu." celetuk Diandra. Victor mengernyitkan dahinya di saat mendengar apa yang di katakan oleh Diandra. "Apa maksudmu?" "Kalau aku hamil, aku akan minta pertanggung jawaban padamu." balas Diandra dengan suara yang terdengar tenang. Mata Victor terbelalak lebar di saat mendengar apa yang Diandra katakan. Ia kini baru benar-benar menyadari, mungkin ia sungguh benar-benar di jebak. "Jangan-jangan kamu sengaja ingin menjebak aku?!" sentak Victor. Diandra melirik ke arah pria itu dengan tatapan yang tampak sangat santai. "Untuk apa aku melakukannya, aku tahu siapa kamu, jadi — apa yang mau aku incar darimu? Aku tidak mau tahu, kamu harus datang ke rumah dan meminang ku. Mau bagaimanapun, kamu sudah menitipkan benih dalam rahimku." balas Diandra. Victor tercengang di saat mendengar ucapan Wanita yang menghabiskan malam panas dengannya, dan sesaat kemudian — ia baru ingat jelas apa alasan wanita itu sampai rela memberikan tubuhnya pada dirinya..., "Diandra, kamu menjadikan diriku hanya pelampiasan saja, 'kan?" tanya Victor sembari menatap tajam ke arah Diandra. Diandra yang tengah mengenakan pakaiannya akhirnya menoleh ke arah Victor. "Yang jelas, aku tak akan pernah mempermasalahkan apapun kekurangan dan kelebihan mu." balas Diandra. Victor terdiam di saat mulai mendengar ucapan dari Diandra. Setelah mengatakan hal tersebut, Diandra tampak pergi meninggalkan kamar mewah itu sembari kesulitan berjalan. "Akh! Sakit sekali sih?! Dia sungguh banyak stamina, aku sampai kewalahan meladeninya. Sekarang, aku malah terlihat terseok-seok saat berjalan." gerutu Diandra. *** Diandra cukup terkejut di saat ia keluar dari kamar. Ia yang benar-benar keluar dari kamar akhirnya baru sadar bahwa ia ternyata baru saja keluar dari salah satu kamar hotel bintang lima. "Eh, siapa yang bayar kamar ini?" gumam Diandra. Mata Diandra terbelalak di saat mengira-ngira berapa kira-kira biaya satu malam di kamar itu. "Aku harus segera pergi dari sini! Aku tak mau membayar kamar ini. Bisa habis uangku kalau tetap di sini." gumam Diandra. Diandra akhirnya pergi dari sana, ia langsung menghentikan taksi yang ia temui. *** Victor sendiri tampak masih berada di dalam kamar yang tadi malam ia pesan. Pria itu kembali merebahkan tubuhnya di ranjang dan menutup matanya dengan lengannya sendiri. "Wanita aneh, tapi..., nikmat." gumam Victor. *** Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, akhirnya taksi yang di naiki Diandra sampai juga ke kediamannya. Diandra membayar ongkos dan setelahnya ia berjalan menuju rumah. Suasana rumah tampak terlihat sunyi. Diandra yakin, semua orang di dalam rumah itu mungkin tengah sibuk dengan urusan masing-masing, dan mungkin mereka hendak pergi ke tempat tujuan masing-masing. Diandra berjalan dengan pelan karena kakinya serasa begitu pegal, langkahnya terseok karena hal yang ia lakukan tadi malam bersama Victor benar-benar membuat dirinya merasa ada yang terasa aneh dalam dirinya. Hari sudah pagi, dan Diandra tampak terburu-buru untuk segera sampai ke kamarnya. Meski keadaannya tengah tak baik-baik saja, tapi ia harus tetap bekerja. Diandra bukan anak kesayangan seperti kakak dan adiknya, sedari kecil — ia harus berjuang bila menginginkan apapun. Diandra mencoba membuka pintu rumahnya, dan sesaat kemudian pintu itu terbuka. Langkah kakinya mulai memasuki ruang tamu rumahnya, dan..., Tiba-tiba saja... "Dari mana saja kamu?!" tegur seseorang pada saat itu. Diandra tak lantas langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. Ia malah menatap orang itu lama. Perasaannya sudah hancur lebur, dan ia bahkan sampai tak bisa berkata-kata lagi. "Dari mana aku? Bukan urusanmu." balas Diandra dengan suara datar. "Diandra! Sopan kah kau bicara begitu pada Ayahmu?!" pria itu mulai meninggikan suaranya, namun, Diandra masih tampak acuh. "Ayah? Seharusnya kamu harus bisa berperilaku seperti sosok ayah bila memang kamu mau aku hormati sebagai seorang ayah." balas Diandra dengan suara yang terdengar tenang. Sebenarnya ia tengah menahan tangis dan mencoba menahan semua rasa sesak yang sudah menjalar di dadanya. Untuk pertama kalinya, Diandra melawan ayahnya. Entah ini hal yang akan ia lakukan untuk terakhir kalinya, atau ini adalah awal dari sikap buruknya. "Ayah, kamu tidak melihat ada yang aneh?" celetuk seseorang tiba-tiba. Diandra yang mendengar ucapan orang itu akhirnya ikut menoleh ke arah sumber suara. Disana, Damian terlihat berdiri sembari menatap ke arah Diandra. "Apa maksudmu?!" tanya ayahnya dengan nada suara yang terdengar mulai penasaran. "Lihat, seluruh tubuh Diandra. Sepertinya ada sesuatu yang terlihat ganjil." balasnya sembari menatap Diandra, lalu ia juga tampak menyeringai. Diandra masih terlihat sangat tenang, dan ayahnya yang kini menatap ke arahnya sudah tampak murka. "Diandra! Apa yang kau lakukan tadi malam?! Katakan pada ayah, dengan siapa kau melakukan hal terkutuk itu?!" teriak sang ayah dengan suara yang mulai terdengar murka. Airmata yang tadi Diandra tahan, akhirnya tumpah juga..., lolos begitu saja, dan luka di hatinya juga semakin menganga. "Apa yang aku lakukan, bukanlah urusan kalian. Dan ayah, Diandra yang lama sudah mati! Kini yang tersisa hanya bayang-bayangnya yang penuh dengan luka. Apapun yang aku lakukan, maka semua itu bukan urusan kalian! Kamu urus saja anak laki-laki mu, dan anak bungsu kesayanganmu itu!" tekan Diandra dengan suara yang terdengar bergetar. Setelah mengatakan hal itu, akhirnya Diandra mencoba berlari ke arah kamar. Meski langkahnya tak lagi sama, namun dengan tekat yang kuat, akhirnya ia dapat berlari kecil ke arah kamarnya. "Diandra! Diandra!" Suara teriakan mulai terdengar di segala penjuru ruangan, namun, meskipun demikian, Diandra sama sekali tidak perduli.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN