Bab, 2. Tragedi Malam Panas 2

1131 Kata
Suasana di tempat di mana Diandra kini masih sepi. Ya! Dia memang datang terlalu cepat. Meski perjalanan menuju ke tempat itu cukup jauh, dan memakan waktu lama, ternyata tak membuat tempat itu ramai, karena malam belum terlalu larut. Diandra masuk ke sana, dan langsung menuju ke tempat Bartender berada. Tanpa pikir panjang, Diandra memesan minuman beralkohol pada saat itu. Cukup lama ia duduk sembari minum seorang diri, hingga tanpa ia sadari, kini hari sudah larut malam, dan suara ramai beserta dentuman musik mulai terdengar memekikkan telinga. Sudah entah berapa botol ia minum, ia memesan cukup banyak. Tapi, karena Diandra kuat soal minum, ia akhirnya belum terlalu mabuk. Sudah tak terhitung jumlah pria yang mengajaknya pergi, atau menghabiskan waktu dengan Check-in di hotel, tapi sayangnya — tak ada satupun yang memasuki kriteria pria idaman Diandra. Hingga pada suatu saat, mata Diandra menangkap sosok seseorang yang sepertinya ia kenali. Dengan mata yang setengah tertutup, Diandra mencoba melihat lebih jelas siapa yang ada di salah satu sofa yang tengah ia perhatikan sedari tadi. Setelah merasa yakin, ia akhirnya bangkit dari duduknya pada saat itu. Jalannya mulai sempoyongan, namun – untungnya penglihatannya masih cukup bagus. "Kak?" panggil Diandra sebelum akhirnya ia duduk di samping seorang pria yang tampak memakai pakaian sederhana dengan serba hitam. Pria yang tampak memakai celana jeans hitam, kaos hitam dan jaket kulit hitam dengan wajah tampan itu menatap heran ke arah Diandra. "Kak, kamu masih kenal aku, 'kan?" tanya Diandra sembari mencoba untuk tidak tumbang. "Viktor, siapa wanita ini? Apa kamu mengenalnya? Atau bahkan pernah memakainya?" tanya seorang teman pada Victor. "Sembarangan! Aku mengenalnya, dan jangan berani-berani ganggu dia, dia ini adik sahabatku." balas Victor, ia adalah salah satu sahabat lama Damian. Pria yang tadi bicara akhirnya memandang ke arah Victor dengan dahi yang mengernyit. "Sahabat? Siapa?" tanya temannya pada saat itu. "Damian," "Astaga, Victor..., Sahabat kamu bilang? Perasaan dia selalu mengolok-olok kamu, kamu masih sudi menganggapnya sahabat?! Aku tak habis pikir dengan apa yang kamu katakan." timpalnya lagi. "Sudahlah, mau bagaimanapun dia sahabatku. Sekarang memang aku akui dia sedikit keterlaluan, tapi dulu dia tidak begitu, kok. Dulu dia baik." balas Victor sembari tersenyum kecil. Diandra menatap pria itu dengan mulut terbuka lebar, ia bahkan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya karena tidak percaya. Apa yang dilakukan Diandra ternyata menarik perhatian banyak orang. Meski pada saat itu suasana sedikit remang, tapi, mereka masih dapat melihat betapa cantiknya wajah gadis itu. "Diandra, sepertinya kamu sudah mabuk, aku antar pulang sekarang." Victor mencoba menarik pergelangan tangan Diandra, dan ia hendak membawanya pergi, namun.. "Aagh! Aku tidak mau, ayah, ibu, kakak.. mereka semua jahat! Aku tidak mau pulang." balas Diandra sembari memeluk erat perut Victor. Mata Victor terbelalak lebar di saat ia merasa ada sesuatu yang begitu hangat dan kenyal yang menempel di dadanya. Teman-temannya tentu memperhatikannya, dan mereka akhirnya menyadari suatu hal yang aneh pada diri Victor. "Wah, tumben nih, si anti wanita tidak mengamuk, ada yang bangun ya?" goda salah satu teman Victor. "Tutup mulutmu, Brengs*k!" Victor sampai bicara dengan nada tinggi dan kasar di penghujung kata yang ia ucapkan. Ia sungguh merasa kesal pada teman-temannya yang menggodanya. "Berarti kamu normal." timpal yang lain. Gelak tawa akhirnya terdengar, dan pada saat itu, Victor yang tak lagi sanggup menahan ejekan dari teman-temannya akhirnya memilih membawa Diandra pergi. Namun, di saat ia hendak pergi, ia malah dihadang seseorang. "Maaf, Anda belum boleh pergi." ujar salah satu orang yang menghadang Victor. "Apa maksudmu?!" balas Victor dengan sangat kesal. Ia sudah kesulitan membawa Diandra, dan kini ia malah kembali di hadapkan dengan suatu hal yang membuatnya makin kesal. "Maaf sebelumnya, Tapi, wanita ini belum membayar minumannya." ujar orang yang menghampiri mereka. Viktor langsung menoleh ke arah Diandra, ia menatap ke arah gadis itu. Diandra masih diam, seperti enggan menjawab, tapi sebenarnya ia sudah mulai mabuk. "Benar kamu belum bayar, Diandra?" tanya Victor. "Hm, hehe..., Bayarin dong, Kak. habis ini kita Check-in, yach." gumam Diandra tepat di depan telinga Victor. Seketika Victor merasa merinding di saat mendengar ucapan dari Diandra. Ia tak memikirkan banyak hal lagi, Victor akhirnya mau tak mau membayar minuman yang sudah di minum oleh Diandra, dan betapa terkejutnya dia di saat mengetahui seberapa banyak gadis itu minum. "Astaga, untung kamu bertemu denganku, coba saja kalau tidak. Mungkin kamu sudah di bawa kabur sama om-om jelek!" gerutu Victor. "Hm, kalau gitu, bawa aku kabur saja, Kak. Aku ngga mau pulang, aku mau sama Kakak." gumam Diandra. "Diandra, kamu tidak boleh begitu. Mau bagaimanapun, mereka keluarga kamu." Victor berusaha memberi nasehat baik untuk Diandra. Namun, semua percuma.. Luka hati Diandra sudah cukup dalam dan menganga. Ia sendiri bahkan tak lagi sanggup menahan semuanya seorang diri. Diandra tersenyum pahit di saat mendengar hal tersebut, "Keluarga, apa mereka bisa disebut keluarga setelah apa yang mereka lakukan? Kak, mereka menjodohkan Devan dengan Lumina, padahal mereka tahu, aku sangat mencintai Devan. Sa–sakit, Kak." gumam Diandra. Degh! batin Victor. Ia akhirnya terdiam di saat mendengar apa yang Diandra katakan. "Lalu, kenapa kamu datang padaku, Diandra?" "Kak, tidurlah denganku, dan menikahlah denganku, aku ingin mengobati luka ini, dan mungkin–Kakak yang bisa melakukannya." balas Diandra. Apa yang Diandra katakan akhirnya membuat Victor makin terkejut. "Apa?! Kamu gila!" Victor bahkan meninggikan suaranya di penghujung kata. "Ya, aku gila..., tiduri aku, Kak." pinta Diandra sembari melepaskan satu persatu pengait di bajunya. "Apa kamu tidak menyesal nanti? Aku bukan orang kaya seperti keluargamu." "Itu yang aku cari, Aku hanya ingin menikah dengan pria sederhana sekarang. Dan pilihanku jatuh ke kamu, karena kamu lebih tampan dari orang-orang yang tadi mengajakku tidur. Jadi, ayo kita lakukan." balas Diandra sembari mendekatkan dirinya pada Victor. Bibir mereka bertemu.. Victor dapat merasakan benda lembut nan kenyal itu menyentuh permukaan bibirnya. Alih-alih menghindar, ia justru menikmati dan semakin berani. Victor meraih pinggang ramping itu dan mulai mendekapnya. "Karena kamu memaksa, maka aku menurutinya." balas Victor dengan suara serak. Ia membopong tubuh Diandra ala bridal style. Namun, bibir mereka kembali bertemu meski kini Victor tengah membawanya ke suatu tempat. Diandra tak tahu pasti ia di bawa kemana, tetapi, dia akhirnya menyadari, dirinya berada di sebuah kamar mewah. Tubuhnya sudah terbaring di sana, Victor benar-benar mencumbunya. Tak sedikitpun Victor lewatkan. Dan sebenarnya, ia sudah menaruh perasaan pada gadis itu sejak lama. Waktu berlalu, dan pada saat itu, mereka akhirnya sudah sampai tahap di mana akan memulai hal yang sungguh tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Victor tertegun di saat melihat ukiran indah yang selama ini hanya ia pandangi dalam diam, dan sebentar lagi, dirinya akan mengambil kendali permainan, dan mengungkungnya di bawah kekuasaannya. Perlahan ia kembali mendekat, dan saat rasa panas mulai menjalar, mereka akhirnya masuk ke inti permainan dengan perlahan. Victor awalnya sulit masuk kedalam benteng pertahanan yang terasa sangat rapat dan sulit di tembus. Hingga... "Ah! Pelan, Kak!" pinta Diandra. "Kamu masih Virgin, Diandra?" tanya Victor dengan mata yang terbelalak lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN