“Michelle, gimana kabar kamu?” tanya ayah Michael kepadaku.
Aku menegakkan badan dan mencengkeram seprai di balik selimut. Aku berusaha untuk tenang di hadapan orang tua Michael. Aku takut sekali jika ayah Michael tidak menerimaku sebagai pasangan anaknya, “hai om,” sapaku.
Dengan ekspresi wajah yang dingin ayah Michael berdiri di sampingku, “kamu udah hamil berapa bulan?”
“Sekitar 2 minggu lebih om,” jawabku dengan nada sopan.
Michael duduk di sampingku seraya memegang tanganku, “kami sudah memutuskan untuk merawat anak kami. Ayah pasti senang bisa punya cucu,” ucap Michael kepada ayahnya.
Ayah Michael melirik anaknya sekilas, kemudian ia melihatku lagi dengan tatapan dingin, “tujuan saya ke sini adalah untuk memberitahu bahwa saya gak menyukai hubungan kalian, lebih baik kalian berpisah.”
Michael beranjak dari tempat duduk dan ia menatap ayahnya dengan penuh emosi, “kenapa ayah gak suka sama Michelle, dia ini perempuan baik – baik. Aku sayang sama dia, aku gak mau perempuan lain.”
“Perempuan yang baik tidak menjadikan dirinya sebagai piala bergilir,” ujar ayah Michael.
Aku memegang tangan Michael agar ia tidak terlalu emosi menghadapi ayahnya. Tangannya sangat dingin, menandakan bahwa emosi yang dirasakannya cukup besar.
“Maksud ayah apa? Ayah gak bisa ngomong seperti itu tentang Michelle, She’s my everything,” balas Michael.
Ayah michael terlihat sangat membenciku. Aku sudah tau hal ini akan terjadi, aku bingung harus bersikap bagaimana. Mungkin yang dikatakan ayahnya tentang aku itu benar, aku w************n yang tidak pantas bersanding dengan Michael, seorang laki – laki tampan yang kaya raya.
“Kamu itu sudah dibutakan oleh wanita rendahan ini,” Hina ayah Michael.
Ayah Michael mendekati anaknya dan mengacungkan jari, “kamu itu bodoh ya, jelas – jelas kamu sudah dipermainkan tapi malah menyerang saya, ayah kamu sendiri.”
“Bukan menyerang, tapi aku berhak untuk memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidupku sendiri. Michelle sedang mengandung anak Michael, aku cinta sama dia dan anakku. Dan sekali lagi Michelle bukan wanita rendahan ataupun piala bergilir,” kata Michael membelaku.
Laki – laki paruh baya itu tidak bisa menahan emosinya lebih lama lagi sehingga ia menampar anaknya, “kamu rela – relanya mengabaikan Anderson Company untuk dia. Kamu itu seorang CEO. Kamu seharusnya bisa melanjutkan perusahaan ayah, bukannya menelantarkannya begitu saja.”
“Dari dulu aku udah muak dengan ayah yang selalu mengatur – atur hidupku. Aku gak mau melanjutkan perusahaan ayah, aku lebih suka menjalankan usahaku sendiri,” balas Michael.
“Usaha apa? Hotel? apa kamu yakin dengan keputusan kamu yang meninggalkan Anderson Company demi perempuan ini? Demi hotel kamu yang seberapa itu?” tanya Ayah Michael.
Saat ini aku tidak bisa berkata apapun. Ayah Michael juga tampak sangat meremehkan anaknya, di sisi lain Michael sudah tampak kesal mendengar ayahnya yang terus – terusan mengatur kehidupannya.
“Hotel itu hasil kerja aku selama di New York. Selama ini aku sudah menuruti keinginan ayah untuk menjadi apa yang ayah mau, apa aku salah untuk sekali ini aja aku jalani hidup sesuai yang aku mau?” tanya Michael.
“Sekarang kamu kembali ke New York ikut ayah dan ibu. Kemas barang – barang kamu sekarang!” perintah ayah Michael.
“Enggak!” murka Michael.
Ayah Michael langsung membelalak, “Kamu ya, sudah dikasih hidup enak malah lebih milih perempuan gak jelas ini.”
“Sudahlah jangan berantem di sini, kasian Michelle yang lagi sakit,” ucap ibu Michael seraya mengelus punggung suaminya.
Ayah Michael menjolak istrinya dan menarik kerah baju Michael, “kamu ikut saya sekarang balik ke New York atau kamu akan menyesal,” ancam ayah Michael.
Michael menunduk dan menatapku, “aku minta maaf,” kata Michael dengan pelan.
Aku tidak kuasa menahan air mata saat Michael berjalan keluar dari kamar, “jangan tinggalin aku sendirian.”
Michael meneteskan air mata, “I will be back for you soon,” bisiknya sebelum menutup pintu kamar.
Aku mencengkeram seprai dan berteriak. Perasaan sedih dan emosi menjadi satu membuat badanku seakan – akan runtuh tidak bertenaga. Aku menarik jarum infus dari tanganku dan berjalan cepat mengejar Michael.
Aku melihat dia yang masuk ke mobil orang tuanya dengan terpaksa. Aku tau dia sebenarnya tidak mau pergi dariku, tapi karena ia takut kalau ayahnya akan berbuat macam – macam kepadaku ia terpaksa meninggalkan aku sendiri.
Aku kembali ke kamar dan duduk di pinggir tempat duduk, aku memandang keluar jendela dengan pikiran kosong. Hingga aku melihat kunci mobil Michael yang terletak di atas meja. Aku mengambil kunci tersebut dan memutuskan untuk kabur dari rumah sakit.
Aku mengganti pakaianku dan berjalan pelan berusaha agar aku tidak ketahuan. Sesampainya di parkiran mobil, aku berlari dan masuk ke dalam mobil. Kepalaku tiba – tiba sakit sampai membuatku tidak bisa menggerakkan kepalaku.
Aku berdiam sejenak, kemudian aku menancapkan gas keluar dari area rumah sakit. Aku tidak tau keberadaan Michael sekarang, jadi aku memilih untuk pulang ke rumah.
Setibanya di rumah aku melihat Michael dan orang tuanya yang sedang mengambil barang – barang Michael. Aku keluar dari mobil, “Michael,” teriakku.
Michael menoleh kepadaku, “Michelle, kamu kok ada di sini? Kamu kan masih sakit.” kemudian ia memegang wajahku dan mencium bibirku.
“Aku gak mau sendirian di sini. Tolong jangan pergi,” pintaku.
Michael diam sejenak melihat ke arah orang tuanya yang memperhatikan kami sejak aku sampai, “oke, aku gak akan pergi. Tapi aku taku kalau ayah aku bakal nyakitin kamu.”
“Kamu gak usah takut, aku siap kok menghadapi ayah kamu asalkan kamu tetap di sisi aku. Apa kamu tega ninggalin aku sendirian yang lagi hamil anak kamu?” tanyaku kepada Michael dengan penuh harapan agar dia tidak akan meninggalkan aku.
“Aku gak akan ninggalin kamu sayang, gak akan pernah,” jawab Michael.
Kemudian Michael menggenggam tanganku dan membawaku masuk ke dalam rumahnya.
Ayahnya sedang duduk di sofa sambil menatap kami dengan sinis.
“Aku gak akan ikut kalian ke New York. Aku memutuskan untuk tinggal di sini bersama Michelle,” ujar Michael dengan tegas.
Ayah Michael mengangguk, “oke kalau gitu, tapi kamu harus tau kalau uang kamu selama ini adalah hasil dari kerja di perusahaan ayah. Kalau kamu lebih memilih perempuan itu ayah akan sita rumah ini dan semua harta kamu.”
“Ayah gak bisa dong kayak gitu, ini semua aku beli dengan uangku sendiri,” balas Michael dengan emosi.
“Ayah bisa lakukan apa saja. Ayo kita pergi,” ajak Ayah Michael kepada istrinya.