Bertemu orang tua Michael

1458 Kata
Aku duduk menghabiskan malamku di halaman belakang sambil menikmati segelas coklat panas. Sedangkan Michael berada di ruang kerjanya, ia mengerjakan materi untuk meetingnya besok. Aku memandangi langit malam tiada bintang, seperti hatiku yang gelap. Aku memejamkan mata sejenak untuk menenangkan pikiran, tapi wajah Chris menghantuiku. Entah kenapa aku sangat sulit untuk menghapusnya dari ingatanku. “Michelle, kamu harus istirahat,” ucap Michael dari balkon atas. Aku mendongak untuk melihatnya keberadaan Michael, “iya, sebentar lagi aku masuk.” “Gak ada nanti – nanti, kamu harus istirahat sekarang,” perintah Michael. Aku menghela nafas, “nanti, aku belum ngantuk.” Mendengar jawaban itu Michael masuk ke dalam rumah. Aku membaringkan kepalaku dan melanjutkan untuk memandang langit malam kembali. Namun tiba – tiba Michael menyentuh bahuku, “ayo ke dalam sekarang.” “Nanti aja, aku masih mau di sini,” tolakku. Permasalahan Chris membuatku ingin menyendiri malam ini. Aku butuh udara segar agar pikiranku bisa kembali jernih seperti semula. Michael memegang lenganku, “sekarang bukan cuma kamu aja yang aku jaga, tapi calon anak kita juga harus kita jaga sama – sama.” Ucapan Michael ada benarnya, aku harus memikirkan kehamilanku, “iya, aku minta maaf.” Aku berjalan masuk ke rumah bersama Michael, lalu kami langsung masuk ke kamar kami untuk beristirahat. Aku merebahkan badanku di tempat tidur, malam ini aku tidak mau melihat wajah Michael karena Chris terus muncul di kepalaku. Michael memelukku dari belakang, “aku minta maaf kalau aku agak keras sama kamu, aku gak mau kalau terjadi sesuatu dengan kamu dan kehamilan kamu.” Aku membalas perkataannya hanya dengan anggukan kepala. “Kamu harus tidur ya, aku matiin lampu,” ujar Michael, lalu ia mematikan lampu kamar. Michael memelukku sampai aku tertidur nyenyak. *** Aku terbangun dari tidurku, kepalaku sangat sakit sehingga aku bisa merasakannya dalam tidurku. Aku menyalakan lampu meja di samping tempat tidurku, lalu aku melihat jam dinding. Sekarang masih pukul jam 3 pagi. Michael tertidur pulas di sampingku, aku mendekatkan diriku kepadanya dan memandangi wajahnya yang terlihat tampan. Aku menyentuh alis matanya yang tebal. Tapi kepalaku sangat sakit, sehingga aku tidak bisa berlama – lama memandanginya. Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Aku membasahi wajahku untuk menenangkan sedikit rasa sakit yang kurasakan, tetapi tidak berhasil. Keadaan diperburuk dengan perutku yang tiba – tiba terasa sangat mual. Aku membuka tutup toilet dan memuntahkan isi perutku. Rasa sakit yang aku rasakan membuat air mataku menetes dan membasahi pipiku. Aku sungguh tidak kuat menahan rasa pusing dan mualku. “Michael,” panggilku dengan nada pelan. Suaraku tidak cukup keras untuk membangunkannya. “Michael,” teriakku. Kali ini aku berhasil membangunkannya dari tidur nyenyaknya. “Astaga, Michelle,” ujarnya panik. Ia langsung beranjak dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Michael menghampiriku yang sedang duduk di samping toilet. “Kamu ngapain?” tanya Michael cemas. Ia membelai rambut yang menutupi wajahku, lalu ia menggendongku dan menidurkanku di tempat tidur. “Aku pusing banget, gak kuat lagi,” keluhku. “Tunggu sebentar,” kata Michael seraya panik berjalan keluar. Kemudian ia kembali ke kamar dan membawa segelas teh hangat serta obat pusing. Lalu ia memberikannya kepadaku. Namun saat aku hendak meminum obat tersebut, ia langsung mencegahnya, “eh, jangan,” larangnya. “Kenapa?” tanyaku. “Aku baru ingat kalau kamu lagi hamil. Aku takut kalau obat itu tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang,” jawab Michael. Lalu Michael menggendongku dan mendudukkanku di dalam mobil. Aku sudah tidak sanggup untuk menggerakkan badanku. Saat ini aku hanya pasrah. “Sabar ya sayang,” ucap Michael untuk menenangkanku. Michael menancapkan gas dan langsung mengeluarkan mobilnya dari garasi. Ia melajukan mobil dengan cepat. Aku memejamkan mataku hingga kami sampai di rumah sakit terdekat. Sesampainya kami di rumah sakit, Michael menggendongku dan membawaku ke UGD. Dokter langsung memeriksa keadaanku, aku merasakan suhu tubuhku yang sangat panas dan kepalaku yang semakin sakit. “Istri anda mengalami demam dan harus di rawat di rumah sakit,” ujar Dokter kepada Michael. “Oke, lakukan apa aja Dok agar Michelle sembuh,” balas Michael dengan panik. Dokter menusukkan jarum infus di pergelangan tanganku, lalu para perawat membawaku menuju kamar pasien. Michael mengelus kepalaku seraya ikut mengantarku ke kamar. Aku di tempatkan di kamar vvip. Selesai aku di tempatkan, Michael duduk di sampingku. Ia terlihat sangat panik melihatku yang tidak berdaya. “Michael,” panggilku, aku berusaha untuk menyentuh kepalanya. “Iya sayang, aku ada di sini kok,” Michael menggenggam tanganku dan mendaratkan ciuman di punggung tanganku. Tiba – tiba hp Michael berdering, ia bergegas keluar dari kamar dan menjawab panggilan telfon. Aku memperhatikan Michael yang mondar – mandir dari jendela kaca kamar. Ia mengacak – acakkan rambutnya, wajahnya pun terlihat sangat kesal. Lalu ia masuk ke kamar, “Orang tuaku mau datang ke rumah sakit.” “Ha?” aku terkejut bukan main mendengar perkataannya tersebut. Michael kembali duduk di sampingku, “kamu gak perlu khawatir, mereka cuma menjenguk kamu kok,” “Tapi kamu tadi kelihatan pusing banget pas jawab telfon mereka,” balasku. Michael mendekatkan kepalanya, “gak kok, kamu gak usah khawatir ya. Sekarang lebih baik kamu tidur, mereka besok pagi kok ke sininya. Good night, I love you,” lalu Michael mencium kening dan bibirku. “Kamu kemana kalau aku tidur?” tanyaku kepada Michael. “Aku tidur di sofa itu, aku mau pinjam selimut dulu ya,” jawab Michael lalu ia mematikan lampu dan keluar dari kamar. Aku memejamkan mataku dan tertidur sampai pagi. *** “Sarapan paginya,” kata suster yang baru saja masuk ke dalam kamar. Michael langsung terbangun dari tidurnya. Suster meletakkan sarapanku di atas meja di sampingku, lalu ia membuka meja lipat yang menempel pada tempat tidur. Lalu ia meletakkan obat – obat yang harus aku minum pagi ini. “Jangan lupa untuk minum ke tiga obat ini setelah makan ya,” ujar suster. “Terima kasih sus,” balasku. Lalu suster tersebut keluar dari kamar. Michael beranjak dari sofa dan pindah duduk di sampingku, lalu ia mengambilkan segelas air mineral untukku, “kamu minum dulu.” Aku meminum segelas air putih dengan bantuan Michael, “kamu harus minum yang banyak ya.” Aku mengangguk pelan. Kemudian Michael menaikkan sandaran tempat tidurku, “ayo makan dulu,” ucapnya, lalu ia mengambil sesendok bubur dan menyuapkannya padaku. “Hmm, hambar ya buburnya,” keluhku. “Masa sih?” Michael mencicipi bubur yang aku makan. “Enggak kok. Buburnya hambar karena kamu lagi sakit, ayo makan lagi.” Suruh Michael. Aku memakan bubur tersebut sampai habis, walaupun rasanya hambar tetapi aku terus memikirkan kehamilanku. Aku harus tetap makan demi anakku. “Nah gitu dong, makannya habis,” ujar Michael, lalu ia mengambil obat – obatku untuk aku minum. Setelah satu butir obat yang aku minum, aku merasakan pahit di lidahku, “obatnya pait banget,” keluhku, lalu aku menghindar dari Michael. “Ayo minum obat lagi biar kamu cepat sembuh,” perintah Michael sambil menyodorkan obat kapsul kepadaku. Dengan terpaksa aku menelan obat tersebut dengan bantuan air mineral. “Kamu gak sarapan?” tanyaku kepada Michael. “Abis ini aku makan kok,” jawab Michael. “Makan dimana?” “Di kantin rumah sakit,” balas Michael. Michael menyandarkan dagunya di sampingku, kemudian ia mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang, “siang ini orang tuaku datang.” “Bukannya dulu orang tua kamu gak suka ya sama aku?” tanyaku kepada Michael. “Itu kan dulu, kamu jangan ingat – ingat soal itu lagi ya,” bujuk Michael. Aku memegang keningku, tiba – tiba aku merasakan pusing dan mual yang luar biasa hebatnya. Aku menutup mulutku dengan tangan. Michael dengan sigap mengambil plastik muntah untukku, “ini sayang,” ucap Michael. Morning sickness membuatku tidak nyaman, untung saja Michael dengan sigap membantuku. Aku beruntung bisa berada di sisi Michael sekarang, walaupun hubungan kami sempat tidak baik, tetapi ia tidak seburuk yang aku kira. Setelah semua hal yang pernah aku lalui dengan Michael, aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan bersamanya seperti sekarang ini. Dulu aku pernah membencinya, dia pun juga pernah berkata kasar padaku tapi semua itu seakan sirna, apalagi aku sekarang mengandung anaknya. “Sini aku bantuin untuk bersihin badan kamu,” ucap Michael, lalu ia membantuku ke kamar mandi. Setelah aku sudah selesai membersihkan badan, Michael mengantarku lagi ke tempat tidur. Kemudian seseorang mengetuk pintu kamarku, Michael langsung membuka pintu. “Ayah, ibu,” sapa Michael. “Apa kabar kamu?” tanya Mr. Anderson. Jantungku berdetak kencang ketika aku melihat ayah Michael lagi untuk ketiga kalinya. Terakhir aku bertemu dengan Mr. Anderson adalah momen yang tidak mengenakkan bagiku. “Baik yah,” jawab Michael seraya menunduk. Aku mengatur nafasku dan berusaha untuk tenang ketika ayah dan ibu Michael mulai berjalan mendekatiku
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN