“Chris masih ada rasa kamu,” kata Michael saat aku sedang memasukkan sayuran ke troli.
“Aku gak tau juga, lagian dia kan udah punya pacar,” balasku,
Michael mendorong troli mengikutiku berjalan, “aku tau dia punya pacar, tapi aku yakin kalau dia masih cinta sama kamu.”
“Michael, kamu gak perlu khawatir. Aku sekarang lebih fokus ke hubungan kita bertiga,” balasku.
Michael menahan tanganku, “bertiga? Siapa satu lagi?” tanya Michael kebingungan.
Aku mengelus perutku, “ini dia, kamu lupa?” tanyaku balik kepada Michael.
Ia menepuk jidatnya dan tersenyum malu, “oh iya ya, aku lupa.”
Setelah sudah selesai berbelanja, kami langsung ke kasir untuk membayar barang belanjaan kami. Aku melihat ke semua antrian di kasir, sangat penuh dan membuatku sesak. Akhirnya kami terpaksa mengantri.
“Kamu tunggu di mobil aja, nih kuncinya,” perintah Michael kepadaku.
“Tapi nanti kamunya sendirian,” balasku.
Michael menghela nafas, “ya gak masalah lah kalau aku sendirian, kamu di mobil aja sana. Nanti kamu kecapekan.”
Aku mengangguk, “oke kalau gitu, jangan lama ya.”
Aku pergi meninggalkan Michael dan berjalan menuju parkiran mobil, tiba – tiba seseorang memegang lenganku, “Michelle,” panggil Chris.
“Chris? Apa lagi?” tanyaku dengan sedikit emosi.
Chris menarik tanganku dan membawaku ke ujung parkiran, ia menyandarkanku di sebuah mobil yang terparkir.
“Aku mau kamu jujur sama aku, kamu gak hamil kan?” tanya Chris. Chris terlihat sangat tidak percaya dengan kehamilanku, entah harus bagaimana lagi aku menjelaskan kepadanya.
“Chris, harus berapa kali sih aku harus bilang sama kamu kalau aku ini ham-“
Chris langsung mencium bibirku sehingga aku tidak bisa melanjutkan pembicaraanku. Aku langsung mendorong Chris dan hendak menghindar tetapi tangannya dengan cepat menghalangiku, “stop, aku tau kamu marah sama aku gara – gara aku menghilang. Tapi gak gini caranya.”
Aku menutup mulutku dan berusaha menahan kekesalanku kepadanya, “stop, biarin aku pergi,” murkaku, lalu aku mendorongnya lagi namun aku tetap tidak berhasil.
Chris menatapku tajam dan ia mendekatkan wajahnya kepadaku, dengan refleks aku menamparnya dengan kuat, “aku bilang stop!” teriakku.
“No, aku gak akan nyerah sebelum aku miliki kamu,” jawab Chris.
“Aku udah sama Michael, dan kamu juga udah pacaran sama Anny. Terus apa lagi yang kamu mau dari aku?” tanyaku.
“Aku tau kamu gak cinta sama Michael, dan aku juga gak cinta sama Anny. Stop pura – pura hamil dan kita jalani hubungan yang baru,” bujuk Chris.
Aku menengadahkan kepala agar air mataku tidak membasahi pipiku, lalu aku mengusap air mataku. Aku mengambil hasil cek dari Dokter kandungan dari tasku dan menunjukkannya kepada Chris, “liat ini.”
Chris membaca hasil cek tersebut, ia berjalan mundur hingga tersandar di sebuah mobil, “kamu beneran hamil,” kata Chris.
Aku mengambil kertas itu dari tangannya dan berjalan meninggalkan Chris, namun Chris tetap menahanku. Ia menarik tanganku dan menyandarkan aku di sebuah mobil di sampingku. Ia kembali mendaratkan ciuman di bibirku. Aku berusaha melawannya dengan sekuat tenagaku hingga ia jatuh tersungkur, “jangan dekat – dekat denganku lagi,” larangku.
Aku pergi dari hadapannya dan berjalan menuju mobil Michael, aku masuk ke dalam mobil dan menyandarkan kepalaku di kursi. Aku sangat tidak menyangka bahwa Chris akan senekat itu. Aku menangis dengan kencang sehingga aku tidak menyadari kehadiran Michael.
Michael membuka pintu mobil, “kamu nangis? Kenapa?” tanya Michael khawatir.
Ia masuk ke dalam mobil dan langsung memelukku, “bicara denganku.”
“Chris menciumku,” jawabku.
Michael langsung murka dan memukul stir mobil.
“Aku udah ngelawan tapi dia tetap menarik tanganku,” tambahku.
Michael langsung turun dari mobil dan menutup pintu dengan keras, aku mengikuti Michael yang sedang mencari keberadaan Chris.
Kami melihat Chris yang sedang memasuki mobil bersama Anny, dengan cepat Michael langsung menyeret Chris keluar dari mobil, “b******n lu sialan!” teriak Michael, lalu melayangkan tinjuan tepat di wajah Chris.
“Gue bilang jangan dekatin Michelle, anjing,” murka Michael.
Perkelahian Michael dan Chris menarik perhatian para pengunjung termasuk Anny, ia bergegas keluar dari mobil, “ada apa ini? Kalian berhenti,” larang Anny.
Chris mendorong Michael dengan kuat sampai kehilangan keseimbangan. Lalu Chris berdiri dan membalas pukulan kepada Michael,
“Tolong berhenti,” kataku kepada mereka, tetapi perkelahian mereka semakin sengit.
Mereka berdua berkelahi sampai hidung Michael mengucurkan darah. Aku semakin khawatir dengan Michael, aku tidak mau terjadi apa – apa dengannya.
“Please, stop!” larangku lagi, tetapi mereka tidak menggubrisku.
Hingga dua orang security memisahkan mereka, “berhenti!”
Kedua security berhasil memisahkan Michael dan Chris. Namun Michael masih sangat murka dengan Chris, “lu jangan dekat – dekat dengan Michelle, ngerti gak lu?” teriak Michael. Chris hanya diam dan masuk ke dalam mobil dibantu oleh Anny.
Aku memegang tangan Michael dan membantunya masuk ke dalam mobil. Kemudian aku mengelap darah yang keluar dari hidungnya. Michael memejamkan matanya, ia terlihat sedang kesakitan.
“Kita harus ke rumah sakit,” kataku.
Michael menggelengkan kepalanya, “gak perlu, lukaku gak parah kok.”
Aku menyalakan mobil kemudian menyetir mobil sampai ke rumah. Kemudian aku membantu Michael untuk berjalan ke dalam dan aku mendudukkannya di sofa.
Michael memegang tanganku, “Maafin aku ya, gara – gara aku kamu jadi kerepotan gini.”
“Ini bukan salah kamu kok, wajar kalau kamu emosi,” kataku, lalu aku mengecup kepalanya.
“Sebentar ya aku ambil air dingin untuk kompres luka kamu,” tambahku, kemudian aku pergi ke dapur. Aku mengambil beberapa es batu dan air dingin, lalu aku kembali ke sofa dan duduk di samping Michael.
“Kamu gak boleh dekat – dekat lagi dengan Anny atau siapapun namanya,” perintah Michael.
“Iya, awalnya juga aku malas untuk berteman dengannya. Tapi dia terlalu baik untuk ditolak.” Balasku.
Michael merebahkan kepala di sofa, “aku gak tau lagi gimana caranya buat menjauhkan Chris dari kamu, aku nyerah.”
“Nyerah gimana? Michael, aku ini lagi hamil anak kamu loh.”
“Aku tau, tapi kesal dengan si b******n itu yang udah nekat nyium bibir kamu,” balas Michael dengan emosi.
Aku menaruh kompresan ke atas meja dan ikut bersandar dengan Michael, “aku juga gak suka dia kayak gitu. Aku ngerasa kesal sama diri sendiri, mungkin aku mendorongnya kurang keras.”
Michael menoleh kepadaku, ia menyentuh pipiku, “itu bukan salah kamu kok, ini salah Chris. Dia sudah keterlaluan.”
“Ayo kita ke kamar, kamu harus mandi,” ucapku.
***
Sehabis kami mandi, aku dan Michael memesan pizza untuk makan malam. Kami memakan pizza seraya berbaring di tempat tidur dan menonton film ‘The Lord of The Rings’
“Aku suka sama film ini, aku udah nonton ini berkali – kali,” kata Michael sambil memakan pizza.
“Aku juga. Walaupun film ini durasinya lama tapi tidak membosankan,” balasku.
Michael mengambil hpnya, “ayo kita foto selfie.”
“Lah, wajah kamu ada lebamnya itu. Walaupun samar – samar tapi kan tetap aja kelihatan,” ucapku penuh kekhawatiran.
“Yaudah, aku fotoin kamu aja. Senyum dong,” pinta Michael seraya mengarahkan kamera ke arahku.
Aku menuruti permintaan Michael dan langsung tersenyum dengan pose memegang pizza.
“Oke, kamu cantik banget deh. Aku mau upload di story aku,” ucap Michael.
“Serius?” tanyaku.
“Serius banget lah. Captionnya, pregnant girl.” Jawab Michael sambil asik memainkan hpnya.
“Oke, done,” lanjutnya.
Aku lanjut menonton film, lalu aku merebahkan kepalaku, “Semua orang bakalan tau dong kalau aku hamil,”
“Kan emang itu tujuannya, biar semua orang tau kalau kamu milik aku sekarang,” balas Michael kepadaku.
Saat sedang bersantai dengan Michael, tiba – tiba bel pintu depan berbunyi.
“Aku akan bukain pintunya,” kataku sambil beranjak dari tempat tidur.
Michael ikut beranjak dari tempat tidur, “aku ikut.”
Kami berdua berjalan ke pintu depan dan membukakan pintu, “Anny? Ngapain kamu di sini?” tanyaku heran.
“Boleh aku masuk?” tanya Anny kepada aku dan Michael.
“Kamu tau rumah kami dari mana?” Michael membalikkan pertanyaan Anny.
“Chris memberitahuku, boleh aku masuk?” ujar Anny.
“Silahkan,” kata Michael.
Kami bertiga duduk di ruang tamu, wajah Anny tampak serius. Sepertinya dia akan membicarakan soal permasalahan tadi sore.
“Mau minum apa?” tawarku kepada Anny.
“Gak usah,” jawabnya singkat seraya tersenyum tipis.
“Aku ke sini mau membicarakan masalah tadi sore, aku mau tau ada apa di antara kamu dan Chris?” tanya Anny seraya menatapku tajam.
Aku melirik Michael sebentar, “hmm, aku dan Chris gak ada hubungan apa – apa kok. Kenapa kamu tanya seperti itu?” aku membalikkan pertanyaan kepada Anny.
“Chris gak ada jawab pertanyaan ini tadi, jadi aku mohon kepada kalian untuk jujur. Aku berhak tau,” balas Anny.
Michael memajukkan badannya, “Michelle dan Chris gak pernah ada hubungan spesial. Semua itu tadi cuma salah paham aja, kamu gak usah khawatir. Chris is yours,” jelas Michael.
“I know that, tapi kenapa kalian tadi berantem?” tanya kepada Michael.
“Cuma salah paham aja. Jangan salah paham dengan Chris ya, dia itu memang kadang nyebelin orangnya. Michelle dan Chris gak ada hubungan apapun, kami juga sedang fokus dengan kehamilan Michelle,” jelas Michael lagi.
Anny mengangguk, “oke kalau gitu, aku pulang dulu. Maaf sudah menganggu malam kalian.”
Aku mengantar Anny untuk keluar dari rumah, Anny tersenyum kepadaku dan tidak mengatakan sepatah katapun. Aku bersyukur ia tidak berbasa – basi lagi seperti kemarin, karena aku tidak mau berteman dengannya lagi.
Aku menutup pintu rumah dan menghampiri Michael, “kamu mau aku buatin kopi?” tanyaku kepada Michael.
Michael menggelengkan kepalanya, “gak usah princess.”
“Kamu kok tadi gak bilang aja permasalahan yang sebenarnya?” tanyaku kepada Michael.
“Kalau jawab jujur, pasti hubungan mereka hancur. Aku gak mau Chris menghancurkan hubungan kita. Aku gak mau dia dekatin kamu lagi,” jawab Michael.
“Benar juga,” balasku singkat.
“Kamu mau minum s**u gak? Aku buatin ya,” tawar Michael, lalu ia beranjak dari sofa dan pergi ke dapur.
Beberapa menit kemudian Michael menghampiriku dan membawakan aku segelas s**u hangat, “ini susunya, biar kamu dan bayi kita sehat terus.”
“Makasih ya,” balasku dengan tersenyum manis.
“Abis ini kamu harus makan lagi ya, jangan sampai enggak,” perintah Michael.
Aku mengangguk, “iya.”