Perangkap di Balik Pintu Terkunci
Lyra berdiri di depan cermin kamar pengasuh. Ia menatap pantulan dirinya sendiri di bawah pendar lampu kamar yang temaram. Rambut cokelat gelapnya yang bergelombang sengaja diurai bebas, jatuh membingkai bahu dan punggungnya dengan sangat alami. Ia mengenakan seragam pengasuh berpotongan sederhana berwarna biru tua, namun ia sengaja melepas dua kancing paling atas. Terlalu terbuka akan terkesan murahan dan memicu kecurigaan, tetapi menyisakan celah tipis yang memperlihatkan garis leher serta tulang selangkanya yang menonjol halus adalah umpan yang sempurna.
Ia menyemprotkan sedikit parfum dengan aroma vanilla lembut bertumpu racikan melati segar di titik-titik nadinya. Aroma yang tidak menusuk hidung, melainkan tipe wewangian yang akan mengendap halus di udara, membelai indra penciuman siapa pun yang di dekatnya dan meninggalkan jejak yang sulit dilupakan.
Wanita muda itu menghela napas panjang, menetralkan detak jantungnya yang mendadak berdebar kencang. Ini bukan berdebar karena takut, melainkan dorongan adrenalin dari seorang pemburu yang tahu jebakannya akan segera mengunci mangsa. Ia melangkah ke dapur lantai atas, menyeduh secangkir teh herbal chamomile hangat dengan sedikit perasan lemon dan madu. Asap tipis mengepul dari cangkir porselen putih yang ia tata rapi di atas nampan kecil.
Dengan langkah kaki yang tidak bersuara di atas karpet tebal, Lyra menyusuri lorong menuju ruang kerja Killian. Di bawah celah pintu kayu jati berukir yang kokoh itu, garis cahaya kuning keemasan masih menerobos keluar. Pria itu masih di dalam, tenggelam dalam tumpukan berkas pekerjaan seperti malam-malam sebelumnya.
Lyra mengetuk pintu tiga kali secara perlahan. Suaranya terdengar lembut namun cukup jelas untuk memecah keheningan malam.
"Masuk," sahut suara berat dan serak dari dalam ruangan.
Tangannya memutar gagang pintu dan melangkah masuk dengan gerakan anggun. Ruang kerja Killian sangat luas, didominasi warna kayu gelap, rak buku setinggi langit-langit, dan aroma maskulin khas perpaduan kulit, kayu cendana, serta tembakau mahal. Killian duduk di balik meja kerja raksasa berbahan kayu mahoni, mengenakan kemeja putih yang lengannya sudah dilipat hingga ke siku. Dasi hitamnya sudah dilonggarkan, dan kancing teratas kemejanya terbuka, memperlihatkan jakun tegas dan lehernya yang kokoh.
Pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop saat mendengar langkah kaki mendekat. Wajahnya yang tegas dengan garis rahang tajam terlihat lelah. Ada bayangan gelap di bawah matanya, menegaskan betapa pria itu jarang mendapatkan istirahat yang berkualitas, baik secara fisik maupun emosional.
"Saya membawakan teh herbal hangat untuk Anda, Tuan Killian," suara Lyra mengalun rendah, tenang, dan sangat menyejukkan di tengah heningnya ruangan.
Killian akhirnya mendongak. Pandangan matanya yang tajam dan pekat seperti malam menatap Lyra yang kini berdiri di samping mejanya. Selama beberapa detik, Killian hanya diam, memandangi wanita muda di hadapannya dari ujung kepala hingga d**a. Tatapannya tertahan sejenak pada leher terbuka Lyra sebelum kembali menatap mata wanita itu.
"Aku tidak meminta dibawakan minuman, Lyra," kata Killian dengan nada datar, namun ada getaran kelelahan yang nyata di dalam suaranya.
"Saya tahu," Lyra tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang terkesan sangat tulus dan penuh perhatian. Ia meletakkan nampan secara perlahan di sisi meja yang kosong. "Tapi saya melihat lampu ruang kerja Anda masih menyala. Anda bekerja terlalu keras belakangan ini, dan teh ini bisa membantu Anda tidur lebih nyenyak nanti."
Saat membungkukkan badan untuk meletakkan cangkir porselen itu tepat di sebelah kanan tangan Killian, Lyra sengaja mendekatkan tubuhnya. Kerah kemejanya yang terbuka melonggar secara alami akibat posisi tubuhnya, menyisakan pandangan sekilas ke arah kulit mulusnya yang tersiram cahaya lampu meja. Pada saat yang sama, wewangian tubuhnya terhempas lembut, persis mengenai wajah Killian.
Killian menahan napas secara refleks. Aroma tubuh Lyra langsung menusuk indra penciumannya, terasa begitu kontras dengan bau kertas kantor dan kepengapan ruangan ini. Bau ini tidak seperti parfum menyengat dan mahal yang biasa dipakai Fiona. Aroma Lyra terasa manis, menenangkan, namun secara tidak sadar memicu dorongan liar di dalam dadanya.
Ketika Lyra hendak menarik kembali tubuhnya untuk berdiri tegak, gerakan jemarinya yang sengaja diperlambat menyapu kulit punggung tangan Killian yang berada di atas meja. Sentuhan itu hanya berlangsung seperkian detik, namun efeknya seperti sengatan listrik bertegangan rendah yang merayap cepat ke seluruh pembuluh darah Killian.
Killian membeku di tempatnya. Sudah berbulan-bulan—bahkan bertahun-tahun—ia tidak merasakan desiran hangat seperti ini. Rumah tangganya dengan Fiona sudah lama mendingin dan berubah menjadi medan perang dingin yang hanya berisi tuntutan, teriakan, dan keluhan tanpa henti. Tempat tidurnya terasa seperti gurun es yang tandus. Kehadiran Lyra di rumah ini selama beberapa minggu terakhir memang sudah seperti angin segar, tetapi malam ini, wanita itu terasa seperti dahaga yang menuntut untuk dipuaskan.