"Bangun, Rayya," ucap Dimas membangunkan istrinya yang masih tertidur pulas di waktu yang sudah menunjukkan pukul enam pagi. Terlihat Dimas beberapa kali mengecup pipi Rayya yang menempel di bantal dengan selimut yang masih menutup tubuh hingga dadanya. Masih belum ada pergerakan pada perempuan itu, membuat Dimas tersenyum melihatnya. "Hei, ini sudah siang. Apakah kamu masih mau terus tidur sampai tengah hari?" ucap Dimas lagi yang kini mulai membelai pipi sang istri. Sedikit pergerakan kala Rayya merasakan geli atas sentuhan jari Dimas di pipinya. Dimas menikmati semua pemandangan itu dalam diam dan senyum yang terus tersungging. "Kenapa kamu menggemaskan sekali sih!" gumamnya yang kembali mengecup pipi Rayya. "Apakah anak gadis Bapak Seto ini kebluk sekali kalau tidur? Eh, ka