Hari yang sibuk setelah lebih dari sepekan tidak masuk kantor, tak membuat seorang Dimas kelelahan sama sekali, yang ada aura kebahagiaan begitu terpancar seiring ia melakukan setiap gerakan. Seperti paska istirahat siang kala itu. Dimas yang belum sempat makan karena banyaknya pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya, tak terlihat kesal atau badmood. Ia justru begitu senang karena mampu menyelesaikan satu demi satu pekerjaan yang hampir selesai setengahnya. Ketika sang sekretaris —Kevin, mengetuk pintu lalu berjalan mendekat ke arahnya, Dimas masih saja terlihat bugar. "Bapak mau makan siang apa? Biar saya siapkan." "Kamu sudah makan?" Bukannya menjawab pertanyaan karyawannya, Dimas malah balik bertanya. "Sudah, Pak. Baru saja." "Hem, syukur kalah begitu." Dimas hanya tersenyum