bc

Naura, Trauma Medusa

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
forbidden
love-triangle
BE
family
age gap
forced
pregnant
badboy
boss
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
serious
loser
city
secrets
affair
friends with benefits
wild
like
intro-logo
Uraian

Tak ada yang lebih dingin daripada kalimat yang keluar dari mulut Maxim Dirgantara ketika menghancurkan hidup Naura. Di usianya yang baru 23 tahun, Naura terperangkap dalam neraka yang diciptaakan paman kandungnya sendiri.

Dua kali rahimnya terisi akibat perbuatan keji itu, dua kali pula Maxim memaksanya melenyapkan nyawa di dalamnya tanpa belas kasihan.

"Gugurkan kandunganmu itu! Aku tidak mau istri tercintaku, Mona, mengetahui anak haram itu!"

Ucapan Maxim meremukkan sisa hati Naura yang hancur. Ia ingin menjerit, berlari, dan membongkar seluruh kebusukan sang paman kepada keluarga besarnya. Namun, setiap kali Naura mencoba mengadu, tatapan tajam Maxim mencengkeram langkahnya, disusul bisikan ancaman yang mematikan.

"Coba saja mengadu. Aku jual tubuhmu pada para lelaki hidung belang di luar sana."

Terjebak di antara trauma mendalam dan ancaman masa depan yang hancur, Naura tak punya pilihan selain menelan penderitaan dalam diam. Sanggupkah Naura menemukan celah untuk lepas dari kekuasaan sang paman, ataukah ia akan selamanya menjadi tawanan dalam bayang-bayang rahasia kelam ini?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 01
Langkah kaki Naura tergesa-gesa menapaki lantai marmer dingin rumah megah itu. Deru napasnya sedikit memburu, bercampur dengan rasa antusias yang sudah ia tahan sepanjang perjalanan. Suara riuh sambutan dari beberapa anggota keluarga di ruang tamu menjadi penanda bahwa sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya benar-benar telah kembali. Lima tahun. Waktu yang cukup lama untuk merindukan seseorang yang dahulu begitu dekat dengannya. Tanpa memedulikan tatapan heran dari kerabat yang sedang berkumpul, gadis berusia dua puluh tiga tahun itu langsung melintasi koridor utama. Matanya berbinar begitu menangkap sosok pria bertubuh jangkung yang berdiri membelakangi pintu. Pria itu memakai kemeja abu-abu yang tergulung rapi hingga siku, tampak gagah dan matang di usianya yang kini menginjak tiga puluh lima tahun. "Paman Maxim!" Panggilan itu meluncur begitu saja dari bibir Naura. Sebelum pria itu sempat berbalik sepenuhnya, Naura sudah mengikis jarak dan melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan sang paman. Ia memeluk pinggang dan d**a tegap itu dengan erat, menyandarkan kepalanya sejenak seperti yang sering ia lakukan sewaktu kecil. Kenangan masa lalu mendadak memenuhi benak Naura. Sebelum Maxim pergi ke Amerika Serikat untuk mengurus bisnis dan melangsungkan pernikahan dengan Tante Mona, pria itulah yang paling memanjakannya. Naura mengingat jelas bagaimana ia sering duduk di pangkuan Maxim tanpa canggung, tertawa lepas saat dibujuk makan, hingga disuapi dengan penuh kesabaran. Bagi Naura, Maxim adalah temmpat aman, sosok pelindung yang selalu menghadirkan hangatnya perhatian. "Aku kangen banget sama Paman... Kenapa lama sekali di Amerika?" bisik Naura, suaranya teredam di balik kain kemeja Maxim. Kekehannya terdengar jujur, penuh kepolosan seorang keponakan yang akhirnya meluapkan rasa rindu. Maxim sempat membeku. Lingkaran lengan Naura yang begitu mendadak membuatnya menghentikan obrolan dengan Mona yang berdiri tak jauh di sampingnya. Namun, perlahan kedua tangan berurat itu bergerak membalas dekapan Naura. Jemarinya menepuk punggung sang keponakan dengan gerakan yang terkesan canggung pada awalnya, sebelum akhirnya merengkuh tubuh molek itu lebih rapat. "Naura... Kamu sudah besar sekarang," suara Maxim terdengar berat, bergema tepat di d**a tegapnya yang kini menempel ketat pada tubuh Naura. Di balik nada suaranya yang tenang, Maxim menarik napas dalam-dalam. Kontak fisik yang tiba-tiba itu mengirimkan sensasi yang asing dan berbahaya. Keponakannya yang dulu masih remaja bertubuh kurus kini telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa dengan lekuk tubuh yang matang sempurna. Terpaan kelembutan b*******a Naura yang menekan dadanya secara langsung membuat napas Maxim mendadak tertahan. Sebuah geraman halus dan sangat tipis lolos dari tenggorokan Maxim, hampir tak terdengar oleh siapa pun di ruangan itu. Senyum ramah yang tadinya terpasang di wajah tampannya perlahan luntur, berganti dengan kilat mata yang memgelap secara drastis. Ada dorongan liar yang mendadak bangkit di bagian bawah tubuhnya, menjalar cepat dan membakar akal sehatnya dalam hitungan detik. Sensasi asing itu memicu kepalanya dipenuhi oleh isi pikiran yang beracun. Maxim melirik sekilas ke arah Mona yang sedang sibuk menyapa kerabat lain di sudut ruangan, lalu kembali menatap puncak kepala Naura yang berada di dalam pelukannya. Aromaterapi manis dari rambut gadis itu makin memperkeruh gairah terlarang yang mulai menjalar di alir darahnya. Ia tahu ini salah. Ia tahu gadis di dalam dekapannya adalah darah daging keluarganya sendiri, keponakan yang seharusnya ia lindungi. Namun, d******i dan hasrat gelap yang selama ini tersembunyi di balik topeng pria terpandang mendadak bangkit, dipicu oleh kehangatan tubuh Naura yang menyerahkan diri dalam pelukan tanpa curiga sedikit pun. Pikiran kotor itu mulai menyusun skenario liar. Maxim merasakan bagaimana tubuh muda itu bergetar halus karena kegirangan, sama sekali tidak menyadari bahwa paman yang dipeluknya dengan penuh kasih sayang justru sedang membayangkan hal buruk yang sanggup merusak masa depannya. "Paman kenapa diam saja?" Naura akhirnya mendongak, menatap wajah Maxim dengan mata bulatnya yang polos. Senyum di bibirnya masih mengembang manis, tanpa ada rasa curiga sedikit pun terhadap perubahan raut wajah pria di hadapannya. Maxim memaksakan sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman hangat yang biasa ia gunakan untuk mengelabui orang-orang. Tangannya mengusap lembut rambut panjang Naura, mengabaikan dorongan impulsif di jemarinya yang ingin mencengkeram lebih kuat. "Paman cuma kaget. Ternyata keponakan Paman yang dulu kecil dan manja sekarang sudah jadi gadis yang sangat cantik," sahut Maxim dengan nada rendah yang teratur, menyembunyikan getaran gairah dan niat jahat yang mulai bertunas di dalam dadanya. Naura tertawa kecil, menganggap pujian itu sebagai bentuk kasih sayang keluarga yang tulus. Ia melepaskan pelukannya perlahan tanpa menyadari bahwa sejak detik itu, tatapnan mata Maxim tak lagi memandangnya sebagai seorang keponakan, melainkan sebagai mangsa yang siap diseret ke dalam neraka.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.6M
bc

The Silver Wolf

read
609.9K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.2M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
905.7K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.3M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook