Saat pintu dibuka, sambutan hangat pertama kali kuterima dari mama mertua. Ya, malam ini kami makan malam di rumah orang tua Tanaka, kebetulannya lagi Tanaka selesai syuting lebih cepat hari ini. “Papa dan Rana sudah menunggu di ruang makan. Ayo.” Tanaka nggak lagi merangkulkan lengannya di pinggangku karena aku sudag dikuasai mama mertua. Wanita yang menjadi mama tiri Tanaka ini sangat baik sekali, bahkan bicaranya saja lembut. “Kimi capek, ya? Kenapa badannya kurusan?” “Eh, beneran, Ma?” tanyaku kaget. “Padahal Kimi ngerasa nggak kehilangan berat badan, kok. Perasaan Mama aja kali.” Mama menggeleng kemudian menoleh pada Tanaka. “Kamu juga menyadarinya, kan? Pasti kebanyakan diajak bergadang istrinya. Lain kali, beliin vitamin, ya, Naka.” Kekehan Tanaka terdengar. “Akan Naka catat di