Kamar bernuansa princess Disney itu terlihat tenang. Abby duduk di bangku kecil di sudut, memperhatikan Ester yang dengan tangan terampil menyisir rambut ikal cokelat Suri yang masih lembap. Gadis kecil itu duduk anteng di atas karpet bulu, memeluk boneka kelinci yang sudah usang, jarinya yang kecil-kecil memutar-mutar telinga boneka itu dengan ritme yang konstan. Aroma sabun bayi yang lembut memenuhi udara.
Ester menangkap pandangan Abby dari balik cermin, dan senyum hangatnya terpantul. Abby membalas dengan senyuman tipis yang tidak sepenuhnya menghilangkan kerutan di dahinya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Suara Abby pecah dalam keheningan yang nyaman.
"Tentu, Abby silakan." Ester mengikat rambut Suri dengan karet elastis halus, lalu bergeser duduk di bangku rendah di sebelah Abby, memberikan ruang bagi Suri dan dunianya.
"Apa dia … selalu seperti ini?" tanya Abby, suaranya rendah, sementara matanya tidak lepas dari sosok kecil itu yang sedang membisikkan sesuatu pada boneka kelincinya.
Ester menghela napas pelan. Gelengannya halus, penuh beban. "Dulu tidak. Nona Suri dulu riang. Suka tertawa dan lari-larian di taman. Tapi sekitar dua tahun lalu, semenjak mulai Paud … sikapnya perlahan berubah." Tangannya meremas lipatan apronnya. "Tuan sudah berganti beberapa pengasuh. Mereka tidak tahan dengan teriakan dan sikap Nona Suri yang kadang ... menolak keras. Semua pergi."
Abby melipat bibirnya. "Pasti ada pemicunya. Seorang anak tidak berubah tanpa alasan."
"Mungkin," bisik Ester, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Abby. "Dari psikiater yang didatangkan Tuan.… ada yang menyebut kemungkinan bullying. Dikucilkan." Kata terakhir itu diucapkan dengan suara hampir tak terdengar, seolah takut ditangkap oleh telinga mungil di seberang ruangan.
Mata Abby membelalak. "Dikucilkan? Di usia segitu?" Rasanya tidak masuk akal, namun tatapan kosong Suri tiba-tiba terasa seperti sebuah benteng yang didirikan untuk melindungi sesuatu yang sangat rapuh di dalamnya.
"Itu hanya dugaan, Abby." Cepat-cepat Ester menambahkan, melihat ekspresi Abby. "Tapi … tampaknya masuk akal."
Abby tidak segera menjawab. Ia mengamati cara Suri memeluk bonekanya, begitu erat, seolah itu satu-satunya pelabuhan yang aman.
"Kamu … kamu pasti pengasuh khusus pilihan Tuan," ujar Ester, mengalihkan topik dengan nada penasaran sekaligus penuh hormat. "Beda dengan yang dulu."
Abby menoleh padanya. "Bukankah semua pengasuh dipilih oleh Tuan Damian sendiri?"
Ester menggeleng, matanya berbinar dengan pengetahuan yang hanya dimiliki oleh orang dalam. "Tidak selalu. Dua pengasuh terakhir, yang cuma bertahan beberapa bulan dibawa oleh Nyonya Sandra, adik ipar Tuan. Sebelumnya ... ada seorang Bibi yang mengasuh Nona Suri sejak bayi." Suaranya semakin rendah, berubah menjadi bisikan serius. "Dia dipecat setahun lalu. Setelah setelah Nona Suri hampir tenggelam di kolam renang dalam."
Abby menahan napas. Perutnya meringkuk dingin.
Ester tersadar, tangannya menutup mulutnya. "Aduh, aku terlalu banyak bicara."
"Tidak," balas Abby cepat, meletakkan tangan di lengan Ester sebentar. Sentuhan itu mengejutkan mereka berdua. "Tidak apa-apa. Aku … aku perlu tahu." Ia memandang kembali ke arah Suri, yang kini telah berbaring miring di karpet, boneka kelinci tetap melekat di dadanya. Setiap informasi baru seperti sepotong puzzle yang jatuh, membentuk gambar yang semakin kompleks dan menyedihkan dari benteng kecil yang harus ia tembus.
Malam itu, setelah usaha yang melelahkan untuk membujuk Suri makan malam, Abby akhirnya berhasil menidurkannya dengan membacakan dongeng. Suaranya pelan dan datar, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri daripada gadis kecil yang matanya sudah mulai terpejam.
Setelah memastikan Suri tertidur, Abby turun dari ranjang kecil itu. Pandangannya tertuju pada jarum jam dinding yang menunjukkan pukul delapan lebih. Dari bawah, terdengar gemerisik perangkat makan dan suara samar-samar percakapan Damian dan anak-anaknya yang lain sedang menikmati makan malam. Kaki Abby mulai berjalan mondar-mandir di atas karpet kamar yang lembut. Langkahnya tidak tentu arah, cemas. Ingatannya kembali pada perintah Damian, "Malam ini Abby." Perutnya bergejolak.
"Aku bahkan belum mengenalnya," gumamnya lirih pada dirinya sendiri, tangan mengepal di sisi tubuhnya. "Bagaimana mungkin aku harus ... berbagi ranjang dengan seorang asing, meski secara hukum dia suamiku?"
Di tengah kegelisahannya yang semakin menjadi, pintu kamar terbuka perlahan. Abby membeku. Damian berdiri di ambang pintu, mengenakan kaus dan celana panjang kain yang membuatnya terlihat lebih santai, namun tak kalah mengintimidasi.
"Dia sudah tertidur?"
"B—baru saja," jawab Abby dengan nada gugup yang tidak bisa disembunyikan.
"Kamu sudah makan malam?"
Abby menggeleng, tidak percaya bahwa di tengah kekacauan pikirannya, pria ini menanyakan hal yang begitu biasa.
"Turun dan makan. Setelah itu, saya tunggu di kamar." Kalimat itu diucapkan dengan nada datar, sebuah pernyataan, bukan permintaan.
"Tapi, Pak—"
Damian memotongnya dengan pandangan yang tajam dan dingin, membuat kata-kata Abby terhenti di tenggorokan. "Saya tidak suka penolakan." Pintu tertutup kembali, meninggalkan Abby sendirian dengan jantung yang berdebar kencang.
Dengan langkah berat, Abby menuruni tangga. Ruang rumah yang megah terasa sangat sunyi dan luas, membuatnya semakin kecil. Lampu-lampu temaram menyoroti perabotan mewah yang seolah mengamatinya. Di dapur, dia menemukan Ester.
"Ah, Abby! Aku sudah menyisakan makan malam untukmu. Tadi Tuan bilang kamu pasti belum sempat makan." Ester dengan ramah menuntunnya ke meja makan besar yang kini sudah bersih, kecuali satu seting makan lengkap yang terpajang di satu sisinya.
"Ini ... untukku? Tapi aku bisa makan di meja dapur kecil," bantah Abby.
"Perintah Tuan, Abby. Silakan dinikmati. Kalau sudah selesai, tinggalkan saja di sini. Nanti ada yang bereskan."
Abby duduk di kursi yang terasa dingin. Dia makan dengan cepat, rasa lapar kalah dengan gelisah yang menggerogoti. Setelah selesai, bertentangan dengan izin Ester, dia membawa piring kotornya ke wastafel dan mencucinya sendiri. Aktivitas sederhana itu memberinya sedikit ilusi kontrol.
Saat naik ke lantai dua, koridor yang sepi terbagi menjadi dua arah, satu menuju kamarnya, satu menuju kamar utama milik Damian. Kakinya terpaku sesaat. Nafasnya dalam dan bergetar. Akhirnya, dia berbelok ke arah kamarnya sendiri, untuk berganti pakaian, untuk mengumpulkan keberanian, atau sekadar menunda yang tak terhindarkan. Setiap detik terasa seperti hitungan mundur.
~
Abby duduk di tepi ranjangnya, jari-jemarinya menggenggam erat kain kimono yang menutupi dress tidur sutranya. Di nakas, segelas air dan sebuah pil kontrasepsi berdiri seperti penanda waktu. Jarum jam terus bergerak, pukul sembilan lewat, kemudian sembilan tiga puluh, mendekati pukul sepuluh. d**a terasa sesak, napasnya pendek-pendek dan dangkal.
"Tenang," bisiknya pada dirinya sendiri, suara bergetar. "Ini hanya malam pertama. Setiap istri pasti melewatinya." Tapi rasanya tidak sama. Ini bukan puncak dari kisah cinta, ini adalah klausul dalam kontrak. Prosesnya terbalik, ranjang dulu, baru mungkin pengenalan.
Dengan tangan gemetar, ia menyambar pil dan gelas. Menelannya dalam sekali teguk, air yang dingin terasa menyusuri tenggorokan yang kering. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan dari Damian. Hanya ancaman diam dari perintah beberapa jam sebelumnya.
Ia berdiri, kimono terbuka sedikit. Kaki telanjangnya terasa dingin menyentuh lantai marmer di koridor yang sunyi. Setiap langkah menuruni tangga terasa seperti menuju podium hukuman. Hingga akhirnya, ia berdiri di depan pintu kamar utama, kayu solid yang tampak kokoh dan menakutkan. Tangannya terkepal, berkeringat dingin, lalu mengetuk, suara pelan, hampir tak terdengar.
Pintu terbuka tiba-tiba, sebelum ketukannya selesai. Damian sudah berdiri di baliknya.
"Jangan pernah mengetuk," gumamnya, suara rendah dan dalam, seolah rahasia yang hanya untuknya.
Abby terkesiap, lalu dengan gerakan panik ia menyelipkan diri masuk secepat Damian memberi ruang. Ia membalikkan badan, menyandarkan punggungnya pada pintu yang tertutup, seolah mencari penahan. Napasnya tersengal.
Damian sudah berada di sisi tempat tidur besar. Ia tidak mengenakan baju, hanya celana piyama katun longgar yang menggantung rendah di pinggang. Otot-otot torso-nya terbentang jelas di bawah pencahayaan lampu samping yang temaram, garis rambut halus di d**a menurun hingga menghilang di balik kain. Abby menelan ludah, tiba-tiba saja pikiran liar itu menyerbunya.
"Apa kamu akan berdiri di sana sepanjang malam?" Suara Damian memotong diam, datar namun berisi teguran.
"Tidak," jawab Abby, terdengar seperti bisikan. Ia memaksakan kaki untuk melangkah, pelan, mendekati sisi ranjang yang lain. Tangannya secara naluriah melingkari tubuhnya sendiri, seolah melindungi dirinya dari apapun.
"Lepaskan ketakutanmu, Abby. Jangan-jangan kamu belum pernah tidur bersama pria?" Damian menyandarkan tubuh pada tiang ranjang, mengamatinya.
Abby menggeleng, cepat dan tegas. "Belum. Sama sekali belum."
"Usiamu dua puluh tujuh tahun, Abby. Sulit dipercaya kamu tidak pernah tidur dengan satu pun pria." Damian menyeringai, tapi matanya yang kelabu mengamati dengan saksama, seolah memindai kebohongan.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuktikannya?" tanya Abby, suaranya sedikit lebih keras, terdengar seperti tantangan kecil yang lahir dari keputusasaan.
Damian terdiam sejenak, lalu mendorong dirinya dari tiang ranjang. Ia mengambil satu langkah mendekat, jarak antara mereka menyempit.
"Bercinta denganku," ucapnya, kalimat itu menggantung di udara yang tiba-tiba terasa panas dan sesak, sebuah pernyataan yang tidak bisa dibantah.