Kontrasepsi

1268 Kata
Abby duduk bersila di atas karpet kamar Suri, menjaga jarak yang cukup agar si kecil tidak merasa terancam. Di tangannya, ponsel terasa berat. Pikirannya masih terpaku pada pesan Damian, "Cek rekeningmu." Dengan jari yang sedikit gemetar, ia membuka aplikasi bank digitalnya. Matanya membesar. Angka-angka di layar, yang biasanya hanya terdiri dari beberapa digit di depan koma, kini memanjang, menunjukkan jumlah yang membuatnya harus memeriksa ulang jumlah nolnya. Napasnya tersangkut di tenggorokan. "Astaga," desisnya dengan suara bergetar antara rasa syok dan tak percaya. Dari seberang ruangan, Suri mengangkat kepala. Tatapan gadis kecil itu tampak tajam dan penuh pertanyaan, seolah menangkap gelombang kecemasan yang tiba-tiba memancar dari Abby. "Maaf," bisik Abby cepat, memaksa senyum kecil. "Lanjutkan menggambarmu." Suri memandangnya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya kembali menunduk, krayonnya kembali bergerak di atas kertas. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Abby. Ponsel di genggamannya bergetar tiba-tiba, membuatnya hampir menjatuhkannya. Nama Damian berpendar di layar. Jantungnya berdebar kencang. Ia buru-buru berdiri dan berjalan ke sudut dekat jendela, berusaha menjauh dari jangkauan pendengaran Suri. "Halo?" Suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya. "Semuanya baik-baik saja?" Suara Damian di seberang sana terdengar datar, namun ada semacam intensitas yang tersembunyi di baliknya. Abby melirik jam dinding. Pukul sebelas lewat sepuluh. "Ini bahkan belum tengah hari," jawabnya, berusaha terdengar biasa. "Apa saya tidak boleh menanyainya?" "Boleh, tentu saja. Saya tahu Anda hanya ingin memastikan." Abby mencoba menenangkan diri. "Jika Suri tidur siang nanti, pergilah ke dokter." Abby mengerutkan kening. "Dokter? Untuk apa?" "Untuk mendapatkan kontrasepsi." Udara di paru-paru Abby seolah menghilang. "Apa?" Katanya nyaris tercekik, suaranya parau. Dari sudut matanya, ia melihat Suri kembali mengangkat wajah, alis mungilnya berkerut. Tatapan itu membuatnya semakin tidak nyaman. Tanpa pikir panjang, Abby berbalik dan keluar dari kamar, berjalan beberapa langkah di koridor sebelum bersandar pada dinding yang dingin. Dadanya naik turun. "Maksud Anda ... aku harus menggunakan kontrasepsi?" tanyanya, berbisik keras ke telepon. "Apakah saya harus menjelaskannya dengan lebih … eksplisit, Abby?" Nada Damian dingin, nyaris mengolok. Seketika, percakapan pagi tadi di teras rumah menghantamnya. "Anda sungguh-sungguh dengan apa yang Anda katakan pagi ini?" tanyanya, masih berusaha menyangkal. "Apakah saya terlihat seperti sedang bercanda?" "Tapi … kupikir aku masih punya waktu enam hari. Mengapa—" "Dengarkan baik-baik, Abby. Malam ini—" "Tidak." Kata itu keluar lebih keras dan lebih tegas dari yang ia kira. Tanpa menunggu jawaban, jari Abby menekan tombol 'akhiri panggilan'. Dia menatap layar ponsel yang kini gelap, napasnya masih tersengal-sengal. Pipinya memerah oleh campuran kemarahan, penghinaan, dan ketakutan. Dia baru saja menutup telepon Damian Callahan. Dan entah mengapa, di balik gemetar di lututnya, ada sedikit kepuasan memberontak yang hangat menyala di dadanya. Tepat saat Suri sudah terlelap dalam tidur siangnya, Abby bergegas untuk pergi ke dokter seperti yang diinginkan oleh Damian. "Apa Tuan sudah memberi izin?" tanya Ester saat dia hendak berpamitan. "Ya, beliau memberi izin. Jika tidak percaya, anda boleh menghubunginya sekarang." "Bukan begitu. Aku hanya khawatir kamu kabur karena tidak betah dengan Nona Suri." "Oh, tidak seperti itu, Ester. Aku hanya ada keperluan diluar. Aku akan kembali satu jam lagi." "Baiklah kalau begitu." Abby tersenyum, kemudian berlalu dari hadapan Ester. Di ruang tunggu klinik, Abby duduk di antara beberapa perempuan lain, tangannya erat menggenggam tas di pangkuannya. Setiap kali nama dipanggil, jantungnya berdetak sedikit lebih kencang. "Nyonya Abigail Rosalie?" Abby nyaris melompat. Ia bangkit dan masuk ke ruang konsultasi yang bersih dan steril. Seorang bidan berusia muda dengan jas lab putih menyambutnya dengan senyum profesional. "Ibu Abigail Rosalie?" tanyanya sekali lagi, memastikan. "Iya, benar," jawab Abby, suaranya terdengar kecil di ruangan yang hening. "Silakan duduk. Mengonsultasikan tentang kontrasepsi?" "I-Iya." Abby merasakan telinganya memanas. "Saya ingin tahu kontrasepsi ... yang cocok untuk ...." Kalimatnya terputus, tersangkut di tenggorokan yang terasa kering. "Sudah menikah?" tanya bidan itu, pena sudah siap di atas formulir. "Sudah." "Nama suami?" Pertanyaan itu membuat Abby terkesiap. "Apa itu harus dicantumkan?" "Prosedur standar, Ibu. Untuk catatan medis." Senyum bidan tetap tak berubah. "Damian. Damian Callahan." Mengucapkan namanya dalam konteks ini terasa aneh. "Usia suami?" "Empat puluh dua." Setiap jawaban terasa seperti mengungkap bagian dari sebuah rahasia besar. "Ada alasan khusus ingin menggunakan kontrasepsi?" Bidan bertanya, masih menatap formulir. "Kami … kami baru menikah. Suami saya duda, punya tiga anak. Kami masih … sedang menyesuaikan diri." Kata-katanya tersendat-sendat, terdengar seperti alasan yang dibuat-buat bahkan di telinganya sendiri. Bidan itu hanya mengangguk, mencatat sesuatu. Setelah penjelasan singkat tentang beberapa pilihan, Abby keluar dari klinik dengan secarik kertas resep di tangan yang terasa asing dan sekotak pil kecil di dalam tasnya. ~ Café di sudut jalan itu ramai dengan obrolan dan bunyi mesin kopi. Abby memilih kursi di dekat jendela, memandangi orang-orang lalu lalang. Di hadapannya, segelas air putih sudah separuh berkurang, tapi ia belum menyentuh pesanannya. Jarinya tanpa sadar mengetuk-ngetuk permukaan kotak kecil di dalam tasnya. Setiap detik menunggu Erica terasa panjang, dan ia sangat membutuhkan sahabatnya itu sekarang, seseorang yang bisa menerima semuanya tanpa catatan medis atau tatapan penilaian. "Abby." Suara itu membuatnya menoleh dari kekosongan yang ia tatap. Erica berdiri di antara meja-meja café, wajahnya penuh perhatian. Abby segera berdiri, hampir menumpahkan air minumnya, dan merangkul sahabatnya itu erat-erat, seperti mencari penahan di tengah gempa kehidupan barunya. "Bagaimana kabarmu?" tanya Erica saat mereka duduk berhadapan. Abby mengangkat bahu, senyumnya tipis dan lelah. "Seperti yang kamu lihat. Sedikit lebih baik, selebihnya … aku coba ikuti arusnya saja." "Semua untuk ‘kehidupan yang stabil’ itu, kan?" Erica mencoba menyalakan percakapan dengan nada ringan. "Ya," bisik Abby, jarinya memutar-mutar gagang gelas. "Hidup yang stabil." Kata-kata itu terasa seperti mantra yang harus ia yakini. "Aku akan kembalikan uang yang dulu aku pinjam," ucap Abby tiba-tiba, meraih tasnya. "Kamu tidak perlu terburu-buru, Abby. Kalau belum—" "Ingat, aku sudah menikah, Er. Dan, kamu pasti tau siapa pria yang menikahiku." Erica tertawa kecil. "Dia memberi banyak tunjangan padamu, ya?" bisiknya masih dengan senyum kecil. Abby mengangguk pelan. Dia mulai membuka ponselnya dan mentransfer sejumlah uang yang pernah dipinjam dari Erica saat di masa-masa sulitnya dulu. "Apa om dan tantemu tau kamu sudah menikah, Abby?" "Aku sama sekali tidak memberi tahu mereka. Itu tidak penting, saat nenek meninggal pun aku tidak memberi tahu. Mereka tahu setelah satu Minggu dan marah padaku. Semenjak itu aku menutup komunikasi dengan mereka." Erica meraih jemari tangan Abby yang ada di atas meja. Menggenggamnya erat. "Aku tau apa yang sudah kamu lewati, Abby. Aku yakin tanpa mereka kamu akan baik-baik saja." Abby membalas genggaman itu, senyumnya kali ini lebih hangat dan nyata. "Terima kasih, Er. Aku bersyukur memilikimu." "Ceritakan tentang suamimu. Jika kamu tidak keberatan." "Dia ... sangat tidak sabaran." Cerita tentang Damian dan anak-anaknya mengalir begitu saja, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahi pertemuan karena Abby tidak bisa berlama-lama. *** Saat Abby kembali ke rumah Callahan, koridor lantai dua yang sepi terasa lebih menusuk dari biasa. Ia baru saja sampai di depan kamar Suri ingin melihat keadaanny, ketika sebuah suara mencemooh menyambutnya. "Aku pikir kamu sudah kabur.". Abby menoleh. Audrey bersandar di pintu kamarnya, kedua tangan disilangkan, dengan ekspresi menantang. "Kenapa aku harus kabur?" tanya Abby, berusaha tenang. Pintu di sebelahnya terbuka. Aidan muncul, wajahnya netral. "Dia pikir kamu tidak tahan dengan Suri, dan memutuskan untuk pergi," ujarnya polos. Abby memutar tubuhnya menghadap pada kakak adik itu. Lalu, sebuah senyuman tipis yang mengandung sedikit kepahitan dan banyak tekad muncul di bibirnya. Ia menatap mereka berdua, remaja yang mengujinya dengan sinisme dan pengabaian. "Ini bahkan baru hari kedua," ucapnya, suaranya lebih jelas dan lebih mantap dari yang ia duga. "Kalian sudah putus asa untukku?" Audrey mendengus, tapi Abby tidak selesai. "Kalian salah. Cepat atau lambat ...." Dia melanjutkan, matanya berbinar dengan tekad baru yang membara, "aku akan membuat adik kalian takluk padaku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN