Kamu Istri Saya

1304 Kata
"Dia pasti tidak akan bertahan lama. Satu bulan, paling-paling." Audrey menusuk telur dadarnya dengan garpu, suaranya terdengar jelas di ruang makan yang sunyi. "Seperti yang lain-lainnya." "Mau bertaruh?" gumam Aidan tanpa mengangkat pandangannya dari semangkuk serealnya, sendoknya berputar-putar dengan malas. "Tentu saja aku yang menang," sahut Audrey dengan senyum percaya diri, matanya berbinar menantang. "Kita lihat saja nanti. Mungkin dia bisa tahan lebih dari sebulan." Damian, yang duduk di ujung meja dengan secangkir kopi hitam, mengalihkan pandangan dari tabletnya. Matanya yang tajam berpindah antara kedua anaknya yang sedang bertukar tebakan tentang masa depan Abby di rumah mereka. "Kalau aku menang, aku mau tiket konser," lanjut Audrey, menegosiasikan hadiahnya. "Tiket konser? Yang mana?" tanya Aidan, akhirnya menoleh. "Yang bulan depan. Yang band indie itu." "Hei," suara Damian memotong, rendah namun berwibawa. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" Audrey dan Aidan serentak menatap ayah mereka. Audrey tak ragu. "Aku cuma bilang, pengasuh baru itu paling cuma bertahan sebulan. Seperti yang dulu-dulu. Begitu terima gaji pertama, langsung kabur karena tidak kuat dengan Suri." Damian mengerutkan kening, lalu memandang Aidan. "Dan kamu? Kenapa kamu pikir dia bisa bertahan lebih lama?" Aidan mengangkat bahu, tapi matanya yang biasanya acuh tak acuh kini terlihat berpikir. "Dia … Dia berbeda." "Beda bagaimana?" sergah Audrey, penasaran sekaligus skeptis. Damian juga menunggu, cangkir kopinya tertahan di tengah udara. "Dia tidak terlihat … seperti pengasuh." Aidan melanjutkan, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Cara dia memandang, caranya berdiri … Dia cantik. Seperti ... seperti foto Mommy dulu." "Hey!" protes Audrey, wajahnya merona marah. "Jangan bilang begitu! Tidak ada yang seperti Mommy! Tidak ada. Dan, dia hanya pengasuh." Tapi Damian terdiam. Cangkir kopinya diturunkannya perlahan ke atas tatakan, bunyinya terdengar halus. Di balik wajahnya yang terkendali, ada sesuatu yang berkedip, sebuah kejutan yang tertahan, mungkin sebuah kenangan yang tersentuh tanpa sengaja oleh perbandingan polos putranya. Dia menatap Aidan, mencoba membaca lebih dalam. "Aku cuma bilang apa yang aku lihat." Aidan melanjutkan, dengan keyakinan polos seorang anak berusia sebelas tahun. "Aku rasa Suri perlahan-lahan akan suka padanya." Audrey menghela napas dramatis, tapi Damian tidak lagi mendengarkan. Pikirannya tertuju pada kata-kata Aidan, sementara matanya menatap pintu ruang makan, seolah-olah membayangkan sosok Abby yang mungkin sedang berusaha mendekati Suri di lantai atas, tidak menyadari bahwa dirinya sudah menjadi bahan taruhan dan pembanding yang tak terduga di meja makan keluarga Callahan. "Selesaikan sarapan kalian. Pak Irwan sudah menunggu di luar," ujar Damian sambil menutup tabletnya. Audrey dan Aidan saling memandang sebelum bergegas menghabiskan sarapan mereka. Suara gesekan kursi dan langkah cepat mengisi ruangan sejenak sebelum mereka menghilang, meninggalkan aroma roti panggang dan sunyi. Damian tetap duduk, jari-jarinya mengetuk permukaan meja kayu yang dingin. Lalu, dengan gerakan yang tiba-tiba, ia berdiri dan menuju tangga, langkahnya mantap menuju lantai dua. Pintu kamar Suri terbuka lebar. Dari balik ambang pintu, Damian bisa melihat Abby duduk bersila di lantai, menjaga jarak beberapa langkah dari Suri yang asyik dengan balok kayunya. Cahaya pagi menyinari rambut ikal Abby yang tergerai, membuatnya terlihat lebih muda dan rapuh. "Pagi," sapa Damian, suaranya memecah kesunyian. Abby menoleh, matanya sedikit lebar, tapi tidak membalas sapaan Damian. Suri tidak bereaksi, tetap fokus pada dunianya. Damian mendekat, jas kerjanya yang rapi kontras dengan karpet lembut dan mainan berserakan. "Saya akan ke kantor. Kamu sanggup menemaninya sendirian?" Abby melirik ke arah gadis kecil itu. "Mungkin. Tapi … bukankah ada pelayan lain juga?" "Ya. Ester atau yang lain ada di bawah jika butuh bantuan." Damian menatapnya sekilas sebelum memalingkan wajah ke arah putrinya. "Sudah waktunya sarapan. Seharusnya kamu ajak dia turun." "Bagaimana caranya? Dia tidak mau mendekatiku." "Suruh Ester yang menyiapkan. Dia tahu caranya." Damian tidak menawarkan bantuan lebih dari itu. Abby mengangguk pelan, lalu bangkit, berusaha tidak membuat gerakan tiba-tiba. Ia berjalan keluar kamar, melewati Damian dengan sikap hati-hati. Begitu Abby pergi, Damian mengeluarkan napas panjang yang terdengar berat. Ia mendekat dan berlutut di sebelah Suri, tangan besarnya meraih tangan mungil putrinya. "Daddy akan berangkat ke kantor," bisiknya, suaranya rendah dan lembut, jauh berbeda dari nada bicaranya kepada Abby. "Suri akan ditemani Abby hari ini." "Dia … jahat?" tanya Suri, matanya yang jernih akhirnya menatap ayahnya. Damian menggeleng, senyum tipis muncul di bibirnya. "Dia tidak jahat. Dia baik, seperti ... seperti Mommy dulu." "Mommy?" Suri menyipitkan mata, seperti mencoba mengingat sesuatu yang kabur. "Iya, Mommy." "Tapi Elsa bilang … Mommy Suri sudah mati." Nada datar gadis kecil itu menusuk. Damian menarik napas dalam, mencoba menahan sesuatu di dadanya. "Mommy Suri ada di surga. Tapi Abby … Abby bisa menjadi teman baru. Atau, mungkin nanti, menjadi Mommy baru untuk Suri." Wajah Suri tiba-tiba merengut. "Tidak mau. Aku tidak mau Mommy baru." Damian menghela napas, mengusap lembut punggung tangan putrinya. "Baiklah, tidak ada Mommy baru. Tapi ingat, Abby bukan orang jahat. Dia di sini agar Suri tidak sendiri. Jadi, jangan teriak-teriak lagi padanya, ya?" "Kalau dia ternyata jahat?" "Dia tidak jahat, Sayang. Percayalah pada Daddy." Damian menekan sebuah ciuman lembut di dahi Suri sebelum berdiri, meninggalkan gadis kecil itu dengan balok kayu dan pertanyaannya yang belum terjawab, sambil harapannya yang tersembunyi tertuju pada wanita yang baru saja ia nikahi, wanita yang kini menjadi kunci bagi kedamaian putri bungsunya. Setelah dari kamar Suri, Damian memutuskan untuk segera berangkat. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, dan jadwalnya hari ini padat. Saat menuruni anak tangga terakhir, ia berpapasan dengan Abby yang sedang naik. "Sarapan Suri sudah di atas meja." Abby memberi tahu, tangannya memegang pinggul dengan sikap sedikit gugup. "Kenapa bukan Ester yang memberitahu?" tanya Damian tanpa memperlambat langkah. "Aku pikir … mungkin aku bisa mencoba membujuknya turun sendiri." Damian berhenti, menatapnya sekilas. "Ide yang bagus. Sekarang, tolong ambilkan tas kerjaku dari ruang kerja." Abby membeku, matanya membelalak sedikit. "Apa?" "Sekarang, Abby." Suaranya datar namun mengandung tekanan yang tak terbantahkan. "Aku bahkan tidak tahu ruang kerja Anda di mana." "Pintu paling ujung di lorong itu." Damian menunjuk ke arah koridor di balik tangga. Abby mendengus pelan, lalu berbalik dengan langkah agak keras. Dia menemukan pintu yang dimaksud, gagangnya terbuat dari kuningan dingin. Ruangan di dalamnya gelap dan beraroma kayu mahoni serta kopi. Cahaya dari lorong menyinari setumpuk dokumen rapi di atas meja besar. Di lantai, di samping kursi kulit, tersandar sebuah tas kulit berwarna cokelat tua. Saat membungkuk untuk mengambilnya, pandangannya tertangkap oleh sebuah figura perak di atas meja. Di dalamnya, sebuah foto keluarga, Damian yang tampak beberapa tahun lebih muda, dengan senyum samar, seorang wanita cantik berambutan pirang dengan mata yang ramah, serta Audrey dan Aidan yang masih kecil. Tidak ada jejak bayi atau anak ketiga. Tidak ada Suri. Perutnya terasa melingkar dingin. Dia cepat-cepat mengambil tas itu dan berbalik, meninggalkan ruangan dan bayangan keluarga yang tampak sempurna itu. Damian sudah menunggu di ujung lorong, tangan tergantung di saku celananya. Abby menyerahkan tas itu tanpa sepatah kata. "Antarkan saya ke depan," perintah Damian, lalu berjalan mendahuluinya. Abby mengikutinya, sepatunya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer yang dingin. Mereka berhenti di teras depan, di mana mobil hitam sudah menunggu dengan mesin yang bergetar halus. Damian berpaling, mengambil tas dari tangan Abby. "Cek rekening bankmu. Saya sudah transfer tunjangan pertama." "Aku … aku bahkan belum mulai benar-benar bekerja," bantah Abby, bingung. "Kamu lupa, Abby? Saya tidak mempekerjakanmu." Damian melangkah setengah langkah lebih dekat, suaranya rendah namun tegas. "Jangan lupa peran sebenarnya kamu di sini." Abby terdiam, menatap mata kelabu pria itu yang seolah bisa membaca setiap keraguan di hatinya. "Kamu adalah istri saya. Ingat itu." "Rasanya … masih sangat aneh," gumam Abby, tangannya secara naluriah melingkar menyilang di perutnya, seperti pelindung. "Apa kamu tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang istri suatu hari nanti?" "Pernah. Tapi bukan … menjadi istri seorang duda dengan tiga anak." Sekilas, sesuatu berkedip di mata Damian, sebuah cahaya tajam, mungkin amarah atau tantangan yang tersulut. "Baiklah, Abby," ucapnya perlahan, seolah mempertimbangkan sesuatu. "Tampaknya menunggu sampai Minggu depan adalah ide yang buruk. Bagaimana kalau malam ini kamu bersiap?" Wajah Abby langsung pucat. "Apa? Tidak!" protesnya, suaranya nyaris tercekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN