Abby menahan napas, dadanya sesak. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia melangkah lagi. Matanya lurus ke depan, ke arah kamarnya yang hanya beberapa meter di belakang Audrey. Ia berusaha melewati Audrey seolah gadis itu tidak ada di sana. Tapi Audrey bukan tipe yang bisa diabaikan. Tangan Audrey melesat, mencengkeram lengan Abby keras. Cengkeraman yang panas, jari-jari yang mencengkam hingga Abby menghentikan langkah. Tatapan mereka bertemu. Sorot tajam Audrey menusuk, penuh amarah dan rasa tidak percaya. "Aku bertanya padamu!" desis Audrey, suaranya rendah tapi bergetar, antara marah dan terluka. Abby menatapnya lekat. Dengan gerakan lambat, penuh kesengajaan, ia melepaskan jemari Audrey dari lengannya. Satu per satu. "Tanyakan sendiri pada ayahmu." Suaranya sengit, tidak kalah tajam

