Ruangan itu terasa sempit meski ukurannya luas. Sandra berjalan mondar-mandir di depan sofa, tumit haknya berdetak di lantai marmer setiap kali ia berbalik arah. Di sofa, Mia duduk tenang dengan secangkir teh di tangan, tapi matanya mengikuti gerak putrinya dengan penuh perhitungan. "Mama percaya itu?" Sandra berhenti, menatap ibunya dengan mata terbelalak. "Damian dengan ... pengasuh itu?!" Mia menyesap tehnya pelan. "Mama bahkan tidak bisa membayangkan." Sandra menghela napas kasar. Kedua tangannya bergerak di udara, mencoba merangkai kata. "Dia ... aku sudah bilang, Ma. Nol pengalaman sebagai pengasuh. Aku bahkan nggak tahu dari mana Damian mendapatkan perempuan macam itu." Mia meletakkan cangkirnya. Jari-jarinya yang ringkih menyentuh gagang cangkir dengan lembut. "Ini sungguh jang

