Ruangan itu sunyi. Hanya isak tangis Audrey yang memecah keheningan, wajahnya terkubur di d**a Mia yang duduk di sofa, tangan neneknya mengusap-usap punggungnya lembut. Sandra duduk di kursi tunggal, tubuhnya kaku, matanya terpaku pada Damian. Wanita itu masih shock, bibirnya sedikit terbuka, dadanya naik turun cepat. Damian duduk di hadapan mereka. Punggung tegak, wajah terkendali. Tapi di balik ketenangan itu, rahangnya mengeras. "Audrey." Suaranya pelan, nyaris memohon. "Ayo pulang. Daddy antar." Audrey tidak bergeming. Tangannya semakin erat memeluk neneknya, seolah sofa dan pelukan itu adalah satu-satunya tempat aman. Sandra menegakkan punggung. Matanya menyipit. "Apa buktinya kamu sudah menikahinya?" Nadanya tajam, menusuk. "Bisa saja kamu bohong. Nutupin perzinahan yang kamu la

