Cafe itu sepi di jam segini. Hanya beberapa pengunjung tersebar di sudut-sudut ruangan, ditemani suara mesin kopi dan alunan jazz pelan. Abby memilih meja dekat jendela, biar cahaya matahari masuk dan membuat suasana tidak terlalu mencekik. Di hadapannya, pengacara tua bernama Budiman itu sudah datang lebih dulu, membawa map cokelat tebal yang sekarang terbuka di atas meja. Mereka mengobrol sebentar, tentang wasiat, tentang klausul-klausul yang mungkin akan dipermasalahkan. Pak Budiman menjelaskan dengan suara rendah, nada profesional yang dingin. Abby mengangguk-angguk, tapi jari-jarinya diam-diam meremas tisu di pangkuannya. Barulah sepuluh menit kemudian, Irwan dan Yulinar datang bersama pasangan masing-masing. Irwan dengan istrinya yang bermuka masam, dan Yulinar dengan suaminya yang

