Malam kian larut, cahaya gelap menyelimuti, ketika langit tak lagi memancarkan sinarnya. Namun, langkah-langkah kaki yang letih itu masih terus berjalan menyusuri aliran sungai, mengandalkan sedikit cahaya dari obor kayu. Napas Rigel sudah ngos-ngosan, dengan keringat bercucuran deras membasahi wajah dan sekujur tubuhnya. Meski semangatnya masih menggebu-gebu, nyatanya stamina tubuhnya sudah tak lagi mampu memompa daya untuk terus melangkah. Ditambah kondisi kaki yang belum pulih dan sering kumat-kumatan, Rigel hanya bisa menahan diri untuk tidak merintih kesakitan ataupun mengeluh. Ia tidak mau membuat Joanna yang sudah antusias menyelesaikan misi, kembali drop mentalnya karena merasa bersalah lagi. "Rigel." Joanna berhenti melangkah, napasnya terengah-engah saat ia berbalik menghadap

