Jorce perlahan membuka mata, kepalanya serasa berdenyut, pandangannya juga kunang-kunang. Tapi ia mencoba memulihkan kesadaran, memaksa penglihatannya yang samar untuk melihat sekitar. Ia memegangi kepalanya, pandangannya berangsur-angsur normal dan ia bisa melihat jika dirinya saat ini berada di sebuah ruangan tertutup. Ruangan tanpa celah dengan warna putih menutupi seluruh bagian. "Aku di mana?" Jorce meringis, mencoba menahan denyut menyiksa di dalam kepalanya. Rasanya seperti ada palu besar yang menghantam kepalanya bertubi-tubi dan rasanya sakit sekali. Jorce mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan bernuansa putih. Tidak ada apa pun di ruangan ini selain dirinya dan kursi berwarna putih yang ia duduki sekarang. Warna putih yang membuat penglihatannya jadi tidak nyaman, sepert

