AWAL PERTEMUAN
Bina melempar tasnya dengan kasar ke arah pintu kamar yang sudah tertutup. Sampai detik ini, ia tidak percaya kalau masa mudanya akan terenggut dalam lingkaran perjodohan.
Usia Bina belum juga genap dua puluh tahun. Masih sebulan lagi Bina akan berulang tahun. Tapi, desas desus perjodohannya dengan pria tua dari sebuah Kampung yang sama sekali tidak ia tahu semakin membuat telinga Bina gatal.
Nama kampungnya sudah jelas tidak nampak di google maps, itu tandanya Kampung itu tidak terdeteksi alias Kampung terbelakang. Bisa-bisanya, Bina akan dijodohkan dengan pria yang berasal dari sana dan usianya tua. Ingat, tua. Bisa dibayangkan dong pria tua itu gimana? Sudah pasti hanya memakai baju kampungan, celana bahan dengan kemeja yang kadang warnanya nabrak sama sekali tidak tahu dunia fashion.
Bayangan Bina, pria itu sudah memiliki banyak kerutan, warna kulitnya hitam, berkumis, rambutnya tidak rapi. Omegot, sangat tidak berkualitas sekali Kakeknya mencarikan jodoh untuknya.
Padahal, Bina itu cantik, ceria, enerjik, masa iya disandingkan dengan pria kampung. Banyak teman pria Bina yang sudah pasti mau dengan Bina. Atau mungkin dengan anak klien Papanya yang jelas keturunan kaya raya.
Bina duduk di tepi ranjang ia menatap ke arah jendela kamar yang tertutup rapat. Kamarnya dingin dan selalu wangi. Maklum, Bina ini keturunan orang have yang kekayaannya tidak akan habis untuk sebelas keturunan setelahnya. Hidupnya tidak pernah kekurangan dan segala sesuatunya pasti terwujud. Apapun itu.
"Lo dimana Nin," tanya Bina dari sambungan ponselnya.
"Salam dulu kek kalau telepon. Sopan dikitlah," ucap Anin sambil terkekeh.
"Kayak mau jadi ustadzah aja pake salam segala," jawab Bina sambil tertawa lepas.
"Awas kena batunya nanti kamu, Bin. Dapet ustadz," ejek Anin.
"Mana mungkin. Nin, ada ide gak?" ucap Bina tiba-tiba.
"Ide buat apa?" tanya Anin penasaran.
"Lo tahu kan? Lusa gue bakal ketemu sama calon suami gue. Nah, gue mau dia ilfil sama gue. Gimana caranya?" ucap Bina penuh harap.
"Lo sendiri ada ide, Bin?" tanya Anin balik.
"Kalau gue ada ide, kagak perlu nanya lo, Nin. Ehh ... Tapi, Kalau gue cari pacar sewaan buat ketemuan lusa gimana ya?" ucap Bina tiba-tiba.
"Pacar sewaan? Bentar-bentar gue gak paham maksud lo, Bin," seru Anin semakin dibuat bingung dengan pernyataan Bina baru saja.
"Kita ketemu hari ini di Kafe biasa jam empat sore," jelas Bina tanpa debat lagi.
Belum Anin menjawab, Bina sudah menutup sambungan telepon itu lebih dulu.
***
Ibrahim Muzzaki, Pria dengan usia matang menikah yang akan dijodohkan dengan Bina. Pria yang akrab disapa Ibra itu pun telah siap menemui Bina lusa nanti untuk melamar dan menentukan tanggal pernikahan mereka.
Ibra baru saja kembali ke Indonesia dan langsung datang ke Kampung Kakek Bahrul. Ia datang sendiri sesuai permintaan kakek yang sudah tua dan sakit-sakitan. Sebelum melakukan perjalanan ke Kampung, Ibra sempat mampir di sebuah kota besar dan beristirahat di sebuah Kafe untuk sekedar melepas lelah sambil minum kopi.
Pilihan tempat duduk Ibra di pojok dekat jendela besar yang memberikan pemandangan indah di luar Kafe. Tepat di seberang mejanya ada dua wanita yang terlihat cekikikan sambilsibuk dengan laptopnya. Pandangannya kembali ke arah luar sambil menunggu pesanan kopi diantar ke mejanya.
"Upload!" teriak Bina dengan keras saking senangnya. Ibra pun kembali menoleh dan menatap Bina sekilas.
"Sukses!" seru Anin tak kalah keras saking antusiasnya.
Ya, Bina membuat lowongan untuk mencari pacar sewaan dalam dua hari saja. Satu hari untuk perkenalan dan membuat rencana dan hari kedua untuk membuat rencana yang matang itu terwujud.
Bina tersenyum lebar sambil melihat ke arah depan dan tanpa sengaja kedua mata Bina langsung menatap Ibra yang juga sedang menatap dirinya. Bina mencoba tersenyum dan sedikit mengangguk. Boleh jujur, kalau pria di depannya itu sangat tampan sekali. Sebagian besar secara fisik, tipe Bina banget. Lihat saja, tinggi, putih, blesteran, bersih, rapi, matang dan gagah. Usianya jelas berada di atas Bina tapi tidak tua. Pas lah dengan Bina yang masih dua puluh tahunan ini.
Tidak ada respon dari pria itu, malahan pria itu seolah membuang muka dan melihat ke arah lain. Bina semakin penasaran dengan pria itu. Bina menyenggol lengan Anin dan berbisik lirih sekali, "Lihat cowok depan kita. Ganteng juga kan? Kayaknya perlu gue perlu tawarin lowongan yang gue buat deh. Kapan lagi bisa dapat pacar sewaan se -ganteng itu."
"Harga diri lo dimana, Bin. Lo yang butuh tapi lo yang ngemis. Lihat dong, tuh cowok perfeksionis. Mana mungkin butuh kerjaan yang gajinya cuma bisa nebus beberapa gelas kopi aja. Kayaknya dia orang have deh, Bin." Anin mencoba menerka dan menasehati Bina.
"In this ekonomi. Gak semua orang butuh duit itu sekarang dilihat dari penampilan. Justru yang keren begitu biasanya butuh duit. Percaya sama aku," ucap Bina penuh kesombongan.
Bina sudah memundurkan kursinya dan ia hendak berdiri lalu berjalan menuju meja pria ganteng di depannya. Bina begitu percaya diri kalau tawarannya pasti diminati oleh pria itu.
Baru saja, Bina berdiri, tangan Anin menahan Bina, "Jangan gegabah, Bin. Gue tahu lo butuh cowok dalam waktu singkat. Tapi, jangan merendahkan diri lo. Gue malu."
"Lepas Nin. Kita perlu mencoba," jelas Bina semakin percaya diri.
Bina melangkahkan kakinya menuju meja Ibra. Langkahnya terhenti saat seorang pelayan mengantarkan minuman kopi pesanan pria itu. Tapi, terlihat ada perdebatan sedikit. Kopi itu kembali diletakkan di atas nampan dan pelayan itu nampak marah. Bina semakin penasaran lalu mendekati meja itu dengan gaya sok pahlawannya, "Ada apa ini? Ributnya sampai ke meja saya."
Pelayan dan Ibra yang sedang berdebat pun menoleh ke arah Bina. Aslinya, Bina mengkerut ditatap begitu. Tajam banget soalnya mirip pisau daging yang baru saja diasah.
"Ini, dia gak bisa bayar pesanan kopinya," ucap pelayan itu ketus.
"Hello ... Saya bukan tidak bisa bayar. Saya lupa tukar uang," jawab Ibra membela diri.
Bina tersenyum penuh kemenangan. Sepertinya ini yang disebut, gayung bersambut. Bina langsung mengeluarkan dompet dan mengeluarkan uang lembaran seratus ribu, "Berapa harganya? Segini cukup?"
Pelayan itu mengangguk, "Cukup. Kembali malahan."
"Ambil saja kembalinya. Dan letakkan kopi itu di meja," titah Bina pada sang pelayan.
Pelayan itu mengangguk dan segera pergi dari meja itu sambil bicara pelan, "Kalau gak punya uang untuk nongkrong di Kafe. Gak usah pesan kopi. Masuk aja dan pakai wifi gratis. Itu lebih mulia, dibanding pesen kopi tapi tidak bisa membayar dengan berbagai alasan."
Ibra namapak marah sekali. Wajahnya memerah karena kesal dan malu seklaigus. Dengan santainya Bina duduk di kursi tepat di depan Ibra.
"Berhubung saya sudah membantu kamu. Kini giliran kamu harus membantu saya," tegas Bina tanpa basa basi. Memang ini tujuan Bina. Kayaknya memang berjodoh sih.
"Membantu kamu?" ucap Ibra mengulang.
Bina mengangguk penuh kemenangan. Ia menyodorkan selembar kertas yang berisi lowongan menjadi pacar sewaan. Ibra membaca sekilas dan menatap Bina lekat, "Pacar sewaan?"
Lagi-lagi Bina mengangguk dan menjawab, "Yup."