Alshad pandangi sosok Airin dari kejauhan. Sambil menyandarkan bahu pada dinding dan melipat kedua tangan di depan dadaa, ia perhatikan baik-baik bagaimana Airin yang sedang sibuk menangani pasien. Jujur, hati Alshad menghangat. Ia suka pemandangan siang ini. Tapi, ketika teringat permintaan sang ibu yang memerintahkan dirinya untuk menjaga jarak dengan perempuan yang paling ia sayang, seketika itu juga hatinya berubah sakit. Susah payah Alshad bersabar menunggu. Senantiasa berdoa siang malam agar diberi kesempatan untuk kembali bersama dengan Airin. Dan, ketika ia merasa doa itu Tuhan kabulkan, tiba-tiba saja cobaan datang. "Alshad nggak mau! Pokoknya, apa pun itu, Alshad nggak akan pernah jauhi Airin." Di depan sang ibu, Alshad memberi penegasan. Walau sudah diberi peringatan, ia ber