Bibir Caca membeku. Ucapan Aiyaz barusan benar-benar membuatnya tidak berkutik. “Kau memang rendahan sekali!” Plakk!! Caca sudah tidak tahan lagi. Sikap pria ini sudah diluar batas kesabarannya. Bukankah selama ini ia selalu bersabar bahkan menabung kekesalannya hingga tiada terbatas. Tangan kirinya masih tergepal sangat erat. Ingin rasanya ia tidak hanya menampar pria ini, tapi juga menghajar bibirnya yang dengan mudah mengatakannya sebagai w************n. Sejujurnya ia sangat takut jika saja pria ini tidak terima jika ia menamparnya barusan. Tapi, apakah salah kalau ia bergerak refleks karena dirinya disebut sebagai murahan? Bukankah itu terdengar sangat menyakitkan bagi seorang wanita, pikir Caca. “Kau mengatakan aku rendahan??” gumamnya dengan