“Anghh, M-Mas! Eunghh …” Aiyaz memejamkan erat matanya. “Ca …” Rahangnya mengeras. Lengan kirinya terselip menjadi bantalan Caca, membiarkan wanita ini menoleh bebas, hingga Aiyaz mudah menjangkau ceruk leher yang selalu ia damba. Jika boleh jujur, Aiyaz sudah tidak tahan ingin menyatu seutuhnya dengan pujaan hatinya ini. Namun, ia tidak bisa memaksa Caca untuk menerima lamarannya agar mereka segera menikah. Sikap Caca yang selalu menyerahkan dirinya dengan mudah membuat Aiyaz berulang kali hampir khilaf lebih jauh. Dia bisa saja melakukannya dengan sedikit paksaan, sebab ia tahu kalau Caca tidak akan mungkin bisa menolaknya. Tidak, dia tidak mau memaksa kehendak wanita yang ia cintai ini. Aiyaz tidak akan memanfaatkan ketul