Karena Hidup Harus Terus Berjalan

1151 Kata
Aul dan Joni akhirnya kembali ke rumah mereka. Pemerintah cukup berbaik hati dengan memberikan masing-masing para korban dari bencana Kota Jakarta sebuah hunian yang cukup layak. Aul dan Joni pun tinggal bersebelahan. Ayah dan ibunya Aul sangat bahagia dengan kedatangan Aul kembali ke rumah. Tangis ibunya bahkan pecah sejak berita mengabarkan kalau anaknya berhasil diselamatkan. "Welcome home!" Ayahnya Aul langsung memberi anak itu pelukan. "Apa yang kau bawa?" tanyanya lagi saat melihat koper uang yang dibawa oleh Aul. Itu membuatnya penasaran. "Ini bukan apa-apa. Aku akan jelaskan nanti, ya." Ayahnya mengangguk, tak ingin jika ia malah mempertanyakan hal-hal berat kepada anaknya itu. Setelah semua yang dialami oleh Aul, ayahnya sedikit cemas soal kondisi mental Aul. "Ibu akan masak makanan yang enak, ya. Kau mau istirahat dulu?" Ibunya mengusap kepala Aul berkali-kali, seperti ia adalah bocah kecil saja. "Ya, aku mau tidur dulu." Ibunya mengangguk. Bahkan mengantarnya sampai ke kamar. Aul kemudian menyimpan kopernya di bawah tempat tidurnya. Ia merebahkan diri dan mengeluarkan ponsel barunya dari saku dan menyimpannya di samping bantal. Ia memikirkan banyak hal sebelum benar-benar tertidur. Ia memikirkan tentang pilihan yang baru diambilnya dan tentang apa yang akan terjadi ke depannya. Ah, pemikiran-pemikiran berat itu, segera ia singkirkan. Ia ingin memejamkan matanya, lalu tertidur selama beberapa waktu dengan tenang. Ya, itu yang seharusnya ia lakukan. Setelah serangkaian kejadian dan pengalaman yang ia alami, ia merasa lelah. Baik itu secara fisik, maupun pikirannya. Aul meraba keningnya. Panas. Ah, ya ampun. Ia baru menyadari soal ini. Betapa Tuhan memang berbaik hati kepadanya. Ketika di penjara, ketika situasi kian genting, bahkan ketika ia juga kesulitan untuk beradaptasi. Apalagi dengan makanan, ia tidak sakit. Ia sehat-sehat saja. Padahal, kalau di hari-hari biasa, ia selalu jadi anak yang mudah terserang penyakit. Sekarang, ketika pulang ke rumah, barulah itu terjadi lagi. Luar biasa memang. Entah itu adalah sesuatu yang patut disyukuri atau bukan, Aul tidak tahu. Tak lama, suara pintu diketuk terdengar. Ibunya datang dengan raut wajah cemas. "Badanmu hangat sejak tadi. Ibu datang untuk memeriksanya lagi," ucap ibunya sembari meletakkan punggung tangannya ke kening Aul. "Ah, benar rupanya. Sudah ibu duga. Demamnya semakin menjadi. Ibu ambilkan obat dulu, ya. Makan ini dulu," katanya sambil meletakkan sepiring nasi dan lauknya. Aul sebenarnya tak ingin bangun, tapi ia memaksakan diri. Ia tak ingin ibunya itu merasa cemas nantinya. Perhatian ibunya kembali hadir. Kembali menyapa telinganya, tapi itu seakan masih tak nyata. Mungkin karena ia demam, mungkin karena ia sakit, segala sesuatu yang membahagiakannya terasa seperti halusinasi. Ia melihat nasi dan telur dadar goreng. Kesukaannya. Ya ampun. Ia bahkan merasa ingin menangis melihatnya. Entah mungkin karena ia sedang sakit juga, Aul merasa jadi sedikit sentimen. Ia ingat saat-saat kelaparan dan makan makanan seadanya di penjara bawah tanah bersama Joni dan yang lainnya. Mengingat semua itu, kepalanya malah sakit. Pusing bukan main. Ia meraih sendok, tapi kembali ia letakkan lagi. Ia tak berselera. Sama sekali tidak. Di sebelahnya, tepatnya di rumah Joni, pertama kali pemuda itu membuka pintu, ia langsung mendapat pelukan dari kakaknya. Seseorang, yang merupakan calon iparnya juga menepuk pundaknya dengan bangga. "Kau kembali. Keren," ucapnya. Joni hanya tersenyum. Biasanya mereka akan berkelahi, semacam candaan sesama laki-laki. Tapi kali ini, tidak. Pikirannya terasa berat, dan ia ingin cepat-cepat masuk ke kamar mandi. Ia ingin segera membersihkan diri, lalu merebahkan tubuhnya ke atas kasur. "Kak, aku mau mandi dan tidur." "Oke. Nanti kakak buatkan makanan enak. Jadi, saat bangun nanti, bisa langsung makan." Joni mengangguk, tanda setuju. "Ya, kali ini, kau adalah rajanya," goda calon iparnya itu. Joni tak menanggapi. Ia hanya melangkah dengan berat, masuk ke dalam kamarnya. Sebelum ke kamar mandi, ia menjatuhkan diri ke atas kasur dan menghirup napas dalam-dalam. Ia harus ke kamar mandi. Ketukan pintu membuatnya kembali membuka mata. "Ada Nadira di depan," ucap kakaknya. Mau tak mau, Joni bangkit. Betapa pun ia merindukan sosok itu, ia lebih ingin istirahat sebenarnya, tapi akan sangat tidak sopan jika ia mengabaikan gadis itu begitu saja. Joni beringsut ke ruang tamu. Nadira tersenyum menyambut Joni. Senyum yang teramat manis. "Maaf mengganggu. Aku tahu, harusnya kamu istirahat. Tapi ...." Joni menggelengkan kepalanya. "Tidak-tidak. Jangan berpikir begitu. Aku belum mau tidur." "Oke. Ini, aku ada sedikit makanan," ucap Nadira. Ia menyodorkan bungkusan. Joni menerimanya. "Terima kasih." "Sama-sama. Aku pulang, ya. Aku senang melihatmu selamat dan tidak terluka. Eh, kakimu?" Nadira melirik kaki Joni yang diperban. "Ah, bukan apa-apa." Gadis itu meraba luka Joni. "Pasti sakit, ya." Joni menatap gadis itu. Ya, sakit. "Sekarang, sudah tidak terlalu sakit." "Syukurlah. Oh iya. Kalau ada apa-apa, kau bisa minta tolong pamanku." "Pamanmu?" Nadira mengangguk. "Dia dulu tinggal di luar negeri, sekarang sudah pindah ke sini. Kudengar, kalian sempat mengalami kesulitan karena ada kendala atau komunikasi yang buruk dengan pemerintah soal upaya penyelamatan. Di berita juga ada soal itu." Joni mengangguk-angguk. "Ah, iya. Komunikasi yang buruk, ya. Ya, sepertinya begitu." "Datanglah ke rumahku. Kalau pamanku berkunjung. Namanya Alfred. Dia punya posisi yang bagus di perusahaan dan dia juga pemilik saham terbesar di ST Tower." "A-apa?" Joni sedikit tak percaya. Pemilik saham terbesar di ST Tower. "Ya, kau harus berkenalan dengannya. Aku yakin, kalian akan berteman baik. Pamanku juga suka meneliti cuaca, badai, apa pun itu. Dia pintar sekali." Joni mulai berpikir keras. Alfred. Namanya, apakah ia pernah mendengar nama itu? "Oke. Nanti aku akan ke rumahmu, kapan-kapan." Nadira mengangguk. "Aku pamit dulu, ya. Kau istirahat saja dulu. Kue itu buatanku." Nadira tersenyum lagi. Membuat Joni juga memabalasnya. Lelahnya sedikit berkurang karena melihat Nadira. Perempuan yang selama ini disukainya, tapi ia tak pernah benar-benar memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya itu kepada Nadira. Padahal, Nadira terlihat memiliki perasaan yang sama juga. Setelah gadis itu pulang, Joni kembali meneruskan rencananya untuk mandi dan tidur. Matanya sudah sangat berat. "Nadira, dia memberimu makanan?" tanya sang kakak. "Iya." Joni tak menunggu pertanyaan atau tanggapan kakaknya lagi, meskipun ia tahu sebenarnya sang kakak masih ingin berbicara. Ia langsung masuk ke kamar, mengambil handuk, dan ke ke kamar mandi. Ritual mandinya pun tidak terlalu lama. Asal basuh saja. Ia bahkan cukup kesulitan dengan luka di kakinya. Berkali-kali, Joni menahan rasa sakit itu. Setelah mandi, ia menatap lukanya lagi. Ia hendak meminta tolong kakaknya, tapi, setelah dipikir-pikir, lebih baik ia saja yang melakukannya sendiri. "Perlu bantuan?" tanya kakaknya. Kepalanya menyembul di balik pintu kamar. Joni masih memakai handuk. Ia hanya tersenyum. Agak canggung rasanya. Padahal, itu kakaknya sendiri. Ia memang tidak sedekat itu. "Boleh. Sebentar. Aku pakai baju dulu." "Oke." Kakaknya masih berdiri di depan pintu. Joni bengong. "Kak, aku juga harus pakai celana." "Ya, silakan." "Kakaaakk." Joni merajuk. Membuat kakaknya itu tertawa. "Haha. Oke-oke. Kakak keluar dulu, ya. Nanti ke sini lagi untuk bantu kamu ganti perbannya." "Iya, Kak." Joni merasa semuanya akan segera kembali normal. Ya, semua aktivitasnya akan kembali ia lakukan, meskipun di kota yang berbeda. Mungkin, ia akan merindukan masa-masa di Kota Jakarta, kota yang penuh dengan kenangan dan perjuangan. Akan tetapi, hidup memang harus terus berjalan. Meskipun di hatinya, ada yang terasa begitu mengganjal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN