Besi meminta supir untuk diantar ke penginapan. Untuk sementara, ia merasa harus tinggal di sana saja. Ia pikir, itu akan lebih aman. Lebih baik.
Sebenarnya, jauh di dalam hatinya, ia ingin menemui putrinya. Akan tetapi, setelah berpikir lagi, Besi merasa ia belum memiliki keberanian yang cukup. Ia memasuki penginapan dan menaruh kopernya di sudut. Setelah beberapa saat, ia pun merebahkan dirinya. Lelah.
Kata-kata seseorang yang memberinya penawaran tadi, kembali terngiang.
"ST Tower. Kau tahu kepanjangannya? SecreT Tower. Sekarang, kau tahu satu hal lagi. Satu hal yang harus kau ketahui. Oh iya. Kudengar, anakmu sekarang sudah besar. Dia tumbuh jadi gadis yang cantik, ya. Ah, sayang. Kau tidak ada di sisinya, di saat dia melewati masa kanak-kanak. Sekarang, sudah mau remaja saja."
Sekarang, putrinya mungkin sudah remaja. Begitu cepat mungkin waktu berlalu, bagi anaknya itu. Meksipun bagi Besi, waktu di penjara, terkadang terasa sangat begitu lambat.
Ah, ia jadi bingung sekarang. Tapi, sekalipun ia sangat merindukan putrinya, tetap saja, kerinduannya yang begitu besar itu, tak bisa mengalahkan perasaan ragu dan takutnya.
Ragu kalau putrinya masih mengingatnya. Takut. Takut kalau putrinya, tidak mau menerimanya. Bahkan mungkin, Besi juga ragu soal ini. Bahwa putrinya bisa saja, tidak mengenalnya lagi.
Bertahun-tahun sudah berlalu. Bukan tak mungkin, jika mantan istrinya itu sudah memiliki kehidupan baru dan mungkin sudah sangat berbahagia. Jika ia datang, bisa saja, itu akan membuatnya merasa tak nyaman.
Semua pemikiran buruk itu seolah menyerang Besi habis-habisan. Membuatnya sulit tidur, sekalipun matanya sudah terpejam sejak tadi.
***
Di tempat lain, Ipang dan Dollar, dua orang yang seolah terlahir kembali itu, memulai kehidupan baru. Mereka membeli salah satu rumah di sudut kota dan mulai menatanya bersama-sama.
"Menurutmu, apakah keputusan yang kita pilih sudah benar? Keputusan untuk mengambil uang itu dan hidup seperti ini?" tanya Ipang. Ia juga tidak sepenuhnya merasa tenang. Mengingat soal para tahanan yang dijadikan bahan percobaan, itu agaknya membuat dirinya merasa bersalah.
Apalagi kalau ingat soal Bang Joe.
Karena tak ada jawaban dari Dollar, Ipang kembali mengulang pertanyaannya.
"Menurutmu, keputusan yang kita pilih sudah benar?"
"Benar atau tidak, itu bukan hal yang bisa kita pilih. Nyatanya, kita memang berada di situasi yang tidak bisa memilih."
"Aku hanya merasa bersalah."
"Setiap dari kita, pasti merasa bersalah. Tidak mungkin tidak. Kita akan hidup dengan perasaan itu terus-menerus."
"Selamanya?"
"Sepertinya, selamanya. Selama kita hidup."
Ipang terdiam. Terbesit di benaknya, untuk menemui keluarga Bang Joe.
"Biasakah kita sekadar mengucapkan permintaan maaf, karena tidak bisa membawa serta Bang Joe dengan selamat ke sini? Minta maaf kepada keluarganya?"
Dollar terdiam sesaat.
"Boleh saja. Mari kita lakukan itu. Kita cari tahu soal keluarganya, dan katakan bahwa kita adalah teman dekatnya saat di penjara dulu."
Ipang tersenyum. "Dengan begini, aku merasa lebih baik. Setidaknya, meskipun aku sudah mengambil keputusan yang salah, dengan mengambil uang ini, aku tetap tidak melupakan orang-orang yang jadi korban."
"Kita memang tidak boleh melupakannya," pungkas Dollar.
"Ah, tunggu. Kenapa kita tidak ajak Besi juga?"
"Ya, kita bisa ajak dia. Tapi, mari beristirahat. Kita lakukan lain hari. Masih ada hari esok," ucap Dollar lagi.
"Baik. Haha. Ini lucu. Mungkin karena aku tidak pernah merasa sebebas ini, mungkin karena aku sudah lama tinggal dalam penjara, sudah lama terkurung dalam jeruji besi, sehingga, aku jadi takut. Takut kalau kebebasan yang kumiliki ini, hanya sebentar saja, makanya aku terburu-buru. Ini, terasa mimpi saja," ucap Ipang lagi.
Dollar tersenyum karena ucapan temannya itu. "Aku juga merasakan hal yang sama. Betapa berartinya kebebasan ini."
"Ya, ah, sudah. Kenapa kita jadi melankolis seperti ini, haha. Mari belanja beberapa daging dan makanan enak lainnya."
"Oke!"
***
Setelah kejadian itu, Hera, kembali ke rumahnya dan jadi banyak melamun. Ia memikirkan hal-hal yang masih menjadi pertanyaan. Akan tetapi, ia juga tidak bisa melupakan apa yang Harry katakan di helikopter.
"Aku tidak akan menjelaskan apa pun. Dan kau, Hera, tidak perlu bertanya apa pun. Ingat, teman-teman. Aku tidak mau mengambil resiko terlalu jauh setelah ini. Mungkin, kita semua akan menjalani berbagai interogasi sebelum benar-benar sampai ke rumah. Tapi, kusarankan, untuk semua pertanyaan yang mengarah pada apa-apa yang menurut kalian harus disembunyikan, katakan tidak tahu. Dan jangan libatkan aku atau Hendri. Bilang saja, aku dan Hendri hanya ingin menyelamatkan kalian."
Resiko, sembunyikan, jangan libatkan. Kata-kata kunci itu seakan menancap di benak Hera. Gadis itu memang ditanyai beberapa hal sebelum akhirnya bisa pulang.
"Apa kau melihat sesuatu yang aneh ketika berupaya menyelamatkan mereka?" tanya seseorang ketika itu.
"Tidak."
Sempat akan mengatakan iya, karena Hera sangat penasaran, tapi beruntung ia bisa mengendalikan diri.
"Apa kau mendapatkan cerita-cerita tak masuk akal dari, Aul dan Joni?"
"Tak masuk akal? Maksudnya, bagaimana?"
"Ini terkait dengan kondisi kesehatan mereka secara mental. Maaf, ya. Jika pertanyaanku membuatmu kesulitan."
"Ah, tidak. Iya, eh maksudku, tidak. Mereka, hehe. Mereka tidak menceritakan hal-hal aneh. Karena, sepertinya, mereka tidak sempat atau tidak memiliki waktu untuk menceritakan sesuatu. Mereka terburu-buru. Mereka, saat itu, ingin segera diselamatkan."
Laki-laki itu mengangguk. Jawaban yang cukup masuk akal.
"Baik. Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
Pertanyaan aneh lagi.
"Aku akan kembali beraktivitas seperti biasanya."
"Begitu, ya. Apa tidak ada rencana untuk bertemu dengan orang-orang yang kau selamatkan?"
"Emmm, aku tidak tahu. Tapi, mungkin aku dan mereka bisa berteman. Sesekali, kita bisa saling berbagi cerita dan mengenang apa yang sudah terjadi. Itu hal yang biasa, bukan?" Hera balik bertanya.
"Ya, tidak apa-apa. Kami hanya ingin tahu saja. Kalau begitu, silakan. Dan, ini. Karena kau memiliki keberanian, kamu memberimu hadiah. Masyarakat sangat mengapresiasi apa yang telah kau dan teman-temanmu lakukan. Jadi, tentu saja kami juga sangat menghargainya."
Hera terdiam setelah menerima hadiah berupa uang yang cukup banyak.
"Ini juga terkait dengan kinerja kepolisian yang akan kami perbaiki. Kalian sangat berdampak terhadap kepercayaan masyarakat untuk kepolisian dan pemerintah. Makanya, kami senang karena dengan adanya dirimu dan teman-temanmu, kami juga punya motivasi untuk mengevaluasi kinerja kami."
Hera mengangguk-angguk. Dipuji seperti itu, ia merasa sedikit malu. Apa yang dilakukannya, rasa-rasanya, bagi dirinya sendiri, adalah hal yang memang wajar, bukan? Sudah seharusnya, seseorang menolong seseorang yang lainnya jika sedang dalam kesulitan.
Ya, Hera mengingat semu percakapan itu. Sekarang, ia tak tahu. Harus ke mana untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang terus menari-nari di kepalanya.