Berita menampilkan Jakarta sudah benar-benar tenggelam. Tak ada yang bisa diselamatkan dari kota itu, dan pemerintah sudah memutuskan untuk benar-benar tak melakukan pencarian para korban lagi. (Setelah sebelumnya, mereka sempat mengadakan pencarian korban besar-besaran lagi, setelah kasus Aul dan Joni.)
Gedung ST Tower rubuh dan hancur. Joni yang melihat di berita, merasa lega, namun di sisi lain, juga terlintas rasa kecewa terhadap dirinya sendiri. Ya, kecewa karena, ia merasa, masih ada yang tertinggal di sana. Bukti-bukti soal penelitian rahasia, dan semua kenyataan lainnya yang masih terasa begitu mengganjal di dalam hatinya.
Itu masih tertinggal.
Tapi, memangnya, apa yang bisa ia lakukan? Apa yang bisa teman-temannya lakukan? Ia sudah memilih. Teman-temannya juga sudah memilih. Jadi, seharusnya, tak ada penyesalan lagi. Mereka harusnya hidup dengan lebih baik. Ya, seharusnya.
"Tidak menjenguk Aul?" tanya kakaknya sembari menyodorkan minuman hangat pagi itu. Sudah seminggu berlalu, dan meskipun mereka tinggal bersebelahan, tapi Joni belum bertemu lagi dengan Aul. Ia bahkan tidak tahu kalau sahabatnya itu masih sakit. Bukannya hanya demam? pikirnya.
"Apa demamnya parah?" tanya Aul. Kemudian, ia menyeruput minumannya dengan hati-hati.
"Kenapa tidak pergi saja ke sana, dan memeriksanya sendiri?" Kakaknya balik bertanya.
"Aku tidak punya waktu."
Mendengar jawaban tersebut, kakaknya itu tertawa. "Kau tidak punya waktu, kuliahmu belum benar. Belum ditentukan akan ke mana. Kau hanya bermain game, menonton film, makan, lalu tidur. Begitu saja setiap hari. Keluarlah. Kakak bosan melihatmu."
"Ya ampun, Kak. Bukannya Kakak senang, ketika aku pulang. Seolah Kakak sedang melihat uang satu milyar."
Kakaknya tersenyum. "Ya, aku senang kau kembali. Tidak pernah terbayangkan jika kau tidak ada di sini. Kakak akan sendirian dan ah, apakah Kakak akan sanggup?"
"Sudah, aku kan ada di sini."
"Ya, tapi Kakak ingin kau yang ada di sini, adalah Joni yang berbahagia. Oh, bukan berarti kau harus selalu merasa demikian. Merasa sedih, terluka, takut, itu wajar. Itu perasaan umum setiap manusia. Tapi, jangan nyaman berada di sana. Keluarlah. Cobalah."
Kakaknya jadi begitu bijak dan itu membuat Joni merasa nyaman.
"Demamnya Aul, bukan demam biasa," ucap kakaknya kemudian.
"Bukan demam biasa?" Joni penasaran. Apa maksudnya?
"Iya. Sahabatmu itu, tidak hanya mengalami demam biasa. Dia harus menemui psikiater."
Joni terdiam. Terkejut dengan perkataan kakaknya. Psikiater?
"Tidak. Maksud Kakak, apa?"
"Ya, Aul memiliki masalah. Tapi, itu, Kakak belum tahu tepatnya seperti apa. Kakak yakin, dia sudah mendapatkan penanganan yang tepat. Mungkin, ada banyak pengalaman traumatis yang dia alami di sana. Kau juga pasti tahu, kan? Dan ..." Ucapan kakaknya menggantung.
"Dan apa?" Joni penasaran.
"Dan, kalau kau memang merasa tidak nyaman, atau ada yang ingin kau ceritakan, jangan sungkan. Kalau kau juga memiliki keinginan yang sama untuk menemui psikiater, kakak akan membantumu."
Joni terdiam. Ia merasa itu masih tidak perlu dilakukan.
"Bagaimana?" tanya kakaknya lagi. Joni menggeleng. "Tidak perlu, Kak. Aku baik-baik saja."
Kakaknya mengangguk. "Ya, kakak sangat bersyukur kalau begitu. Tapi, sekali lagi, kau harus ingat soal apa yang kakak katakan tadi. Sedih, marah, takut, itu adalah perasaan yang umum dan wajar bagi manusia. Jadi, tidak apa-apa untuk merasa demikian. Oh iya. Apa tidak ada yang mau diceritakan ke Kakak? Soal pengalamanmu?"
Kakaknya masih berusaha tersenyum dan ramah, seolah ia adalah psikiater itu sendiri. Joni paham kenapa kakaknya bersikap demikian. Tapi untuk menceritakan semuanya, ia merasa itu belum saatnya. Bahkan lebih tepatnya, ia tidak mau menceritakannya.
"Tidak ada yang mau kuceritakan. Emmm, maksudku, untuk sekarang, aku belum mau menceritakan semuanya. Nanti saja, aku akan cerita pada Kakak nanti saja."
Kakaknya mengangguk. "Oke, bukan masalah. Kakak akan menunggu sampai saat itu tiba."
Kakaknya beranjak. Joni terdiam. Apakah, sebenarnya, ia juga sama seperti Aul? Apakah ia juga butuh pertolongan. Joni meraba keningnya sendiri. Tidak demam. Ah, konyol!
Kemudian, setelah beberapa waktu berpikir, ia beringsut dari kamarnya. Meninggalkan permainan game-nya dan melangkah, berjalan menuju rumah Aul.
Mamanya Aul sangat senang dengan kedatangan Joni. Ia menyambutnya dengan pelukan dan usapan lembut di kepala. Ah, ia rindu saat-saat seperti ini. Kenapa sekarang, malah jadi canggung? Bukankah sebelumnya, ia sering diperlakukan demikian oleh ibunya Aul?
"Lama sekali tidak berjumpa," ucap ayahnya Aul kemudian. Laki-laki paruh baya itu menepuk pundak Joni.
"Apa kabar Aul?" Jantungnya berdegup tak menentu ketika mengatakan kalimat tanya itu. Padahal, itu merupakan pertanyaan yang biasa saja. Tapi, kenapa ia merasa takut? Takut dengan jawabannya.
"Dia, tidak terlalu baik. Masuklah ke dalam kamarnya."
Joni mengangguk, berjalan menuju kamar yang ditunjuk oleh ibunya Aul.
Sebelum benar-benar masuk, Joni mengetuk pintunya lebih dulu.
"Apa aku boleh masuk?" Joni merasa konyol. Kenapa ia jadi secanggung ini?
Tidak ada jawaban. Joni melirik ke arah ayah dan ibunya Aul lagi.
"Masuk saja," ucap ibunya pelan. Joni pun menurut. Ia buka pintu kamarnya Aul dengan perlahan.
Terlihatlah sosok itu. Aul sedang meringkuk di tempat tidurnya, dengan selimutnya yang masih melekat.
"Ah, sial!" umpat Joni. Ia tidak mengucapkan itu keras-keras, takut orang tuanya Aul mendengar. Nanti, mereka bisa salah paham.
"Kalau tahu begini, kenapa kau tidak pilih untuk cerita saja semuanya ke hadapan publik? Kenapa kau malah memilih uang? Aku tahu, hati nuranimu tidak ingin memilih uang."
Joni bicara sendiri. Karena walaupun Aul mendengarnya, ia tak mau menanggapi.
"Apa yang ingin kamu ceritakan?" tanya Joni. "Kenapa tidak ceritakan kepada keluargamu? Kepada ayah dan ibumu? Kau memiliki mereka!" Joni sedikit berteriak. Ia jadi kesal, karena bahkan, Aul tak bergerak sedikit pun dari tempatnya berbaring.
"Bangunlah," kata Joni lagi. "Bangun dan mari berkelahi. Tonjok aku sampai babak belur. Kapan terakhir kita berkelahi? Kapan terakhir kita berlatih taekwondo? Kita bisa melakukannya sekarang. Bangunlah. Bangun, bodoh!"
Joni takut ia tak bisa mengontrol suaranya, tapi ia juga tak bisa menahan gejolak emosi di dadanya. Bagaimana mungkin ia bisa berdiri, melangkah, berjalan, makan, minum, bermain game, bagaimana bisa ia melakukan semua itu, seolah-olah, tidak pernah ada yang terjadi? Sementara sahabatnya harus menanggung penyesalan dan rasa bersalah di pikirannya. Sendirian.
"Kalau kau memang pergi ke psikiater, kenapa tidak ceritakan semuanya? Ceritakan semuanya. Dia akan percaya. Dia akan mempercayaimu, sekalipun itu terdengar seperti kebohongan. Tapi, apa itu penting? Itu jadi tak penting ketika kau jadi seperti ini!"
Aul akhirnya bangun. Wajahnya pucat, dan ia menatap Joni dengan senyum mengejek. "Aku hanya ingin mati."
Aku hanya ingin mati.