Tapi, apa pun yang terjadi, sedalam apa pun kita jatuh, kita harus selalu punya cara untuk kembali. Aku yakin, itu adalah satu-satunya hal yang paling tepat untuk kita jalani saat ini.
***
"Kenapa kau ingin mati?" tanya Joni setelah emosinya mereda. Sementara itu, Aul menatap cangkir berisi teh miliknya. Ibu Aul memberi mereka berdua teh hangat yang wangi. Bahkan aromanya menguar di seluruh sudut kamar Aul.
"Perasaan itu. Perasaan bersalah. Kau tahu, Jon. Aku pikir, aku akan baik-baik saja setelah semua yang terjadi. Seperti katamu, kita tidak boleh gegabah. Kita harus terima saja. Seperti kata Besi, kita semua harus tetap hidup jika ingin melawan. Tapi, apa yang akan kita lakukan? Menerima uang itu, sama dengan membuat kita harus tutup mulut selamanya, bukan?"
Joni menghela napas. "Bukankah kita tidak menyentuh uang itu sama sekali? Demi keluarga korban, demi para tahanan yang diperlakukan tidak manusiawi, aku tidak akan menggunakan uang itu sama sekali. Apalagi jika untuk kepentingan pribadi."
Aul menyentuh cangkirnya. "Aku juga. Tapi apa itu cukup? Bagaimana jika kita buka mulut, apakah keluarga mereka, keluarga para korban akan merasa lebih baik?"
"Lebih baik? Aku tidak yakin. Tahu atau tidak, mereka tetap tidak akan bertemu dengan anak atau ayah atau saudara mereka yang sudah jadi korban, bukan? Jadi, apa bedanya?"
Mendengar itu dari Joni, Aul merasa Joni lama-lama terlihat seperti seseorang tidak peduli. Seperti seseorang yang juga tidak paham akan keinginan dirinya. Tidak mengerti dengan keadaannya.
"Kau tidak pernah mengerti, Jon. Tidak. Apa yang kupikirkan, tidak akan ada yang mengerti."
Joni mengangkat cangkirnya dan menghabiskan teh itu sampai tak tersisa.
"Terima kasih tehnya. Sampaikan itu kepada ibumu. Dan sampai jumpa besok di kampus. Kita akan mulai belajar lagi di tempat perkuliahan yang baru. Jangan lari. Jangan lari dari kenyataan. Kau juga harus memikirkan keluargamu, serta orang-orang yang berada di dekatmu. Bukankah mereka juga mungkin saja tersiksa ketika mengharapkan kita kembali dari tempat mengerikan itu? Pikirkan mereka dan fokus kepada saat ini. Hiduplah. Aku juga akan tetap hidup. Ini bukan permintaan. Ini permohonan."
Keesokan harinya, setelah merenungkan apa yang dikatakan oleh Joni kemarin, Aul mencoba lebih berbaur. Ibunya tentu senang. Tadinya Aul hanya terus mengurung diri dan terlihat seperti orang yang sakit, padahal Dokter yang memeriksanya mengatakan ia tidak ada masalah dengan kesehatan fisiknya, hanya, memang ia mengalami sedikit trauma.
"Kau merasa baikan?" tanya sang ibu ketika Aul bersiap-siap untuk pergi ke kampus baru. Saat itu sang ibu tengah menyiapkan sarapan untuknya. Televisi juga menyala, menayangkan apa yang terjadi setelah Kota Jakarta tenggelam. Rekaman yang menunjukkan kota itu kini tinggal puing-puing juga ditampilkan.
"Kata mereka, Kota Jakarta akan dihancurkan semuanya. Diratakan. Termasuk gedung-gedung yang tersisa di sana."
"Diratakan?"
"Iya."
Aul duduk di meja makan. Dan menatap sepiring nasi goreng yang disodorkan ibunya.
"Mereka semua, gedung-gedung yang tersisa itu akan diratakan dan pembangunan kota itu sedang didiskusikan."
"Pembangunan?"
"Pembangunan kembali. Entahlah. Ibu juga tidak mengerti. Mereka, pihak pemerintah dan yang memiliki kepentingan untuk itu sedang berdiskusi untuk memutuskan yang terbaik."
"Itu tidak mungkin. Pembangunan kembali, itu tidak mungkin dilakukan."
Ibunya mengangguk. "Ibu juga berpikir demikian, Sayang. Kota yang tenggelam tidak mungkin bisa diselamatkan. Kita hanya perlu merelakan kota itu menjadi bagian dari lautan."
Menjadi bagian dari lautan.
Aul menyendok nasinya dengan tergesa. "Di mana Ayah?"
"Dia sudah pergi pagi-pagi sekali. Ayahmu sangat senang ketika kembali mendapat pekerjaan. Ia bekerja di perpustakaan kota sekarang. Kota ini, jujur saja, Ibu rasa, lebih baik dari kota yang sebelumnya kita tinggali."
Aul tak menanggapi. Entah, tapi apa pun pembahasan mengenai Kota Jakarta, di benaknya, itu seolah membangkitkan perasaan yang tak menyenangkan. Bayangan buruk tentang kejadian yang pernah ia lewati, selalu kembali berlalu lalang di pikirannya. Sungguh, ia tak pernah menginginkan perasaan dan pemikiran soal itu. Ia ingin seperti Joni yang tampak baik-baik saja setelah semuanya.
Sial.
"Aku berangkat," ucap Aul. Langkahnya terhenti ketika Joni terlihat berada di depan rumahnya.
"Ah, ada Joni! Bagus. Kalian memang harus berangkat bersama."
Sang ibu menepuk pundak Aul dan tersenyum. Aul hanya mengangguk, lalu bergabung dengan Joni. Mereka berdua berangkat bersama.
"Kita naik apa ke sana?" tanya Aul.
"Bus."
"Apakah jaraknya agak jauh?" tanya Aul lagi.
"Tidak juga."
"Kenapa tidak jalan kaki saja?"
Usul Aul itu sebenarnya bagus juga. Mungkin Aul ingin melihat-lihat sekitaran kota. Sejak kembali ke rumah, ia sama sekali belum pernah jalan-jalan atau melihat-lihat suasana kota.
"Kita akan terlambat kalau jalan kaki. Nanti pulang dari kampus saja, kalau mau melihat-lihat."
Aul mengangguk. "Oke. Dan maaf soal kemarin."
"Maaf? Untuk apa? Tidak perlu. Aku juga salah karena sudah membentakmu. Aku hanya merasa sedikit emosi kemarin."
"Mungkin benar. Aku harus mulai menerima semuanya. Hidup terus berjalan. Tapi aku masih tidak tahu caranya, bagaimana menebus semua kesalahanku kepada keluarga korban. Kepada para korban."
"Bukan kita yang salah. Ada pihak lain yang seharusnya merasa bersalah lebih besar dibandingkan perasaan bersalah yang kita miliki saat ini."
Joni benar, tapi tentu saja Aul masih tak bisa menyingkirkan perasaan itu dengan mudah.
Mereka berdua naik bus dan sepanjang perjalanan menuju ke kampus baru, Aul melihat dari jendela bus. Suasana kota yang bisa dibilang baru baginya. Sangat berbeda jauh dengan kota yang menjadi tempat tinggalnya dulu. Mungkin benar, apa yang ibunya katakan.
Kota ini lebih baik. Semoga.
Setelah sampai di kampus baru yang Aul dan Joni tuju, Aul sudah merasa lebih baik. Perasaannya dan pikirannya, tak terlalu fokus ke apa-apa yang membebaninya. Melihat dunia luar, mencari hal yang bisa menjadi distraksi baginya, itu rupanya cukup berhasil.
"Mari belajar dan mungkin kita bisa dapat pacar di sini, haha." Joni menepuk pundak Joni agak kasar dan kemudian berlari masuk ke lorong kampus.
Ucapan Joni membuat Aul tersenyum. "Dasar playboy!" makinya sembari menyusul Joni.
Setelah beberapa langkah, mereka akhirnya memasuki kelas. Sambil menunggu dosennya datang, Joni kembali memulai percakapan dengan Aul. Sebuah percakapan singkat yang membuat Aul merasa lebih siap menjalani hari-hari ke depannya.
"Aul, dengar."
"Apa?"
"Bukan hanya kau yang merasa bersalah. Aku juga. Dan mungkin perasaan ini juga dimiliki oleh Besi, Dollar, dan Ipang. Kita tidak akan bisa menghapus perasaan bersalah ini. Tidak, kita memang tidak boleh menghapus perasaan bersalah yang sedang kita miliki sekarang. Tapi, apa pun yang terjadi, sedalam apa pun kita jatuh, kita harus selalu punya cara untuk kembali. Aku yakin, itu adalah satu-satunya hal yang paling tepat untuk kita jalani."
Aul mengangguk. Semuanya benar.