Di sebuah ruangan dengan dinding kedap suara, pimpinan negara, serta staf dan yang lainnya, berkumpul.
"ST Tower. Jakarta Underground. Kita sudah salah mengira."
Seseorang dengan penuh wibawa dan berwajah tegas yang tengah berbicara di depan semuanya. Ia bernama Alfred. Ia adalah salah satu pimpinan rahasia proyek yang berkaitan dengan penelitian di ST Tower.
"Mau tidak mau, perlahan tapi pasti, orang-orang akan segera mengetahui apa yang disampaikan oleh lima orang yang baru saja diselamatkan itu. Ya, kalau mereka tidak bisa ditangani. Mereka sungguh akan jadi sangat merepotkan," jelas Alfred lagi.
"Kita memang tidak punya pilihan. Dua orang yang bernama Revan dan Jodi, mereka membuat tren di media sosial tentang aksi penyelamatan yang harus dilakukan, serta kinerja kepolisian kita yang buruk. Kupikir, tak akan jadi seperti itu. Nyatanya, malah jadi buruk. Lebih buruk malah. Dan ya, kita sudah sampai di tahap ini. Alfred, jangan membuat kami-kami ini berpikir. Ini proyekmu sebelumnya. Jadi, kau yang harus merencanakan semuanya. Kamu yang harus membuat segala sesuatunya kembali seperti semula. Semula yang bagaimana? Aku yakin kau juga akan bertanya soal ini. Semula, seperti saat pertama kali kita menjalankan poroyek ini. Tidak ada kekacauan, mulus-mulus saja. Tak ada kecemasan soal publik akan mengetahui soal proyek kita atau tidak.
Hudoyo, seorang paruh baya yang begitu modis, dengan jas mahalnya berkata seperti itu. Tegas. Membuat Alfred tertawa keras-keras sebelum menanggapi.
"Sungguh, kau memang selalu memberiku peran besar, ketika situasinya mulai mendesak. Padahal, kau juga setuju dengan proyek ini. Bahkan pemimpin negara ini pun, setuju. Kenapa kita tidak mencoba mencari penyelesaian dari masalah ini bersama-sama? Bukankah, tujuan kita berada di sini, berkumpul di sini, adalah untuk itu?"
"Itulah, Alfred. Kenapa kau cemas? Kenapa kau takut? Setiap langkah dan setiap keputusanmu, didukung oleh semua pihak, termasuk pihak paling berkuasa di negeri ini. Jadi, putuskanlah. Apa pun itu, kami akan menerima dan mencoba menjalankannya. Tentu, menjalankan yang terbaik."
Hudoyo berkata mantap. Sebenarnya, bukan hanya mereka berdua saja yang berada di dalam ruangan. Ada beberapa orang penting lainnya, tapi tak ada yang benar-benar berani mengungkapkan pendapat.
"Baiklah, kalau itu memang yang kalian percayai. Kalau kalian memang menyerahkan semua ini kepadaku. Tentu saja, sebelum kita memakai cara yang ekstrim, lebih baik, kita pakai cara klasik. Tapi, tentu saja, dengan lebih elegan."
Hudoyo tersenyum. Sedikit paham mengenai rencana apa saja, yang mungkin akan mereka semua jalankan demi menutupi kebocoran informasi yang mungkin akan segera terjadi.
"Kita bungkam mereka. Harus."
Hudoyo mengangguk. Semuanya pun setuju.
***
"Suara apa itu tadi? Dan apa itu tadi? Kupikir, itu orang yang masih terjebak di sana, sama seperti kalian," tanya Hera. Matanya tak bisa lepas dari gedung yang sudah kian mengecil, karena mereka sudah mulai menjauhi gedung itu.
Aul dan Joni yang berada di dalam helikopter yang sama dengan Hera, saling menatap. "Kita akan jelaskan padamu," ucap Aul.
"Tidak perlu," sela Harry yang masih fokus dengan kemudinya.
"Kenapa?" tanya Aul. Joni menggeleng ke arah Aul, tanda bahwa ia merasa ini bukan waktu yang tepat bagi Aul atau siapa pun untuk bertanya soal itu.
"Aku tidak akan menjelaskan apa pun. Dan kau, Hera, tidak perlu bertanya apa pun. Ingat, teman-teman. Aku tidak mau mengambil resiko terlalu jauh setelah ini. Mungkin, kita semua akan menjalani berbagai interogasi sebelum benar-benar sampai ke rumah. Tapi, kusarankan, untuk semua pertanyaan yang mengarah pada apa-apa yang menurut kalian harus disembunyikan, katakan tidak tahu. Dan jangan libatkan aku atau Hendri. Bilang saja, aku dan Hendri hanya ingin menyelamatkan kalian. Kami sebenarnya tidak diperbolehkan untuk melakukan pencarian atau penyelamatan ke gedung ini. Entah apa alasannya, tapi kupikir memang sebaiknya kita tidak mengetahuinya. Jika pun tahu, mari pura-pura tidak tahu saja."
"Tentu saja. Aku akan mengatakannya seperti itu," ucap Joni.
Kemudian, setelah itu, tak ada lagi pembicaraan apa pun lagi sampai mereka benar-benar dibawa ke sebuah tempat yang tidak mereka ketahui.
Sama halnya dengan Besi, Dollar, dan juga Ipang. Mereka juga dibawa ke tempat itu. Tak perlu waktu lama bagi Hendri dan Harry untuk bisa kembali ke rumah masing-masing. Mereka hanya melalui serangkaian interogasi yang mudah. Karena sepertinya, sejak awal, Hendri hanya fokus ingin menyelamatkan orang-orang yang tertinggal. Sedangkan Harry, ia terlalu sayang dengan pekerjaannya. Ia tidak mau terlibat terlalu jauh.
Revan dan Jodi juga demikian. Mereka tak lama dalam interogasi itu. Hanya sebentar, dan mereka sudah diperbolehkan pulang.
Sedangkan Joni, Aul, Ipang, Dollar, dan Besi, rupanya harus cukup lama melalui berbagai macam pertanyaan. Bahkan, anak buah Alfred yang langsung menanyai mereka. Satu persatu.
Dimulai dari Joni.
"Bagaimana kakimu? Tim medis sudah melakukan pengobatan maksimal, bukan? Tadi?" tanya anak buah Alfred dengan santai dan sangat ramah. Di depan mereka, tepatnya di antara mereka, di atas meja, terdapat koper yang isinya entah apa.
"Sudah membaik. Terima kasih. Tapi, bisa langsung saja? Apa yang mau ditanyakan?" tanya Joni. Ia tidak ingin berbasa-basi. Ia ingin segera bertemu dengan Aul, Besi, dan yang lain. Lebih dari itu, ia ingin segera bertemu dengan kakaknya.
"Hanya ada beberapa pertanyaan yang sangat singkat, kalau kau menjawabnya dengan jelas dan benar. Ini akan lebih cepat jika kau mau bekerja sama."
Joni mengerutkan keningnya. "Kerja sama?"
"Ya, kerja sama."
"Oke. Langsung saja. Pertama, kau pasti sudah tahu soal Jakarta Underground. Karena kau sudah bertemu dengan para tahanan itu. Lalu, kau juga pasti sudah tahu soal ...."
"Percobaan rahasia?"
Anak buah Alfred tersenyum. "Benar. Itu. Tepat sekali. Percobaan rahasia. Sebenarnya, sekarang jadi semi rahasia, ya. Karena sudah ada beberapa orang yang mengetahuinya, termasuk dirimu, Joni."
"Aku tidak bermaksud mengetahuinya. Tidak pernah berniat mencari tahu. Aku hanya bisa dibilang, tidak sengaja mengetahuinya."
"Oke. Tidak sengaja, ya. Tidak pernah berniat untuk tahu. Tapi, sengaja atau tidak, kau sudah tahu. Kau sudah mengetahuinya."
"Ya, lalu, apa?"
"Lalu apa? Pertanyaan menarik. Aku ingin menjelaskan soal ini."
Anak buah Alfred itu membuka koper hitam di antara mereka.
Terlihat ada tumpukan uang di sana. Joni tak pernah melihat uang sebanyak itu seumur hidupnya.
"Kau hanya perlu menandatangi selembar kertas ini, dan kau bisa mengambil uang ini dengan tenang. Kembali ke keluargamu dan hidup dengan layak. Bilang saja pada mereka, kalau uang ini adalah hadiah dari pemerintah. Berhasil bertahan di Kota Jakarta, merupakan sesuatu yang membanggakan."
Joni diam sesaat, kemudian tersenyum. Apakah semua kengerian dan ketakutan, kesulitan, serta perasaan kehilangan seorang teman, hanyalah seharga uang di dalam koper di hadapannya? Bagaimana dengan perasaan keluarga dari tahanan yang tidak akan pernah kembali? Sepicik itukah dirinya?
"Kalau kau tidak mau menerimanya, dan memilih untuk menceritakan semua yang kau tahu, semua yang kau lihat, kau tentu tahu apa akibatnya. Kudengar, kakakmu akan segera menikah, bukan? Jika saja bencana tak terjadi, mungkin dia sudah jadi istri yang berbahagia."
Tiba-tiba ada perasaan takut yang menjalar di benak Joni. Perasaan takut kehilangan sosok satu-satunya yang ia miliki. Kakaknya.
"Ini bukan pilihan sulit, Joni. Kau hidup untuk siapa? Orang-orang yang sudah mati? Atau seseorang yang masih hidup? Aku yakin, mahasiswa sepertimu tentu pintar memilah keadaan."
Gila. Ia kembali dihadapkan pada situasi paling gila. Kali ini, musuhnya bukan lagi monster, tapi manusia. Manusia yang mungkin lebih buruk dari monster itu sendiri.
Lebih buruk dari monster.