Bebas?

1122 Kata
Helikopter sudah mulai memasuki wilayah Kota Jakarta. Harry mencoba mencari posisi untuk mendarat. Tapi, apakah itu mungkin? Pendaratan mungkin hanya bisa dilakukan di atas atap sebuah gedung. Kalau pun tidak, maka mungkin penyelamatan darurat menggunakan tali akan dilakukan. "Kita sudah memasuki kawasan Jakarta," ucap Harry. "ST Tower, nama gedungnya. Itu yang Joni katakan di telepon. Aku sepertinya pernah mendengar nama gedung itu. Kalau tidak salah, itu merupakan salah satu gedung yang cukup terkenal, meskipun tidak terlalu besar dan tinggi dibandingkan gedung lainnya." "Terkenal? Terkenal karena apa?" "Karena, gedung itu sering dikunjungi oleh para mahasiswa." "Untuk apa mereka ke sana? Memangnya, itu gedung apa?" tanya Harry lagi. "Gedung penelitian. Katanya, di sana ada banyak penelitian yang dilakukan. Biasanya terhadap hewan dan tumbuhan. Tapi, sebenarnya itu bukan gedung inti. Katanya, akan dibangun lagi gedung lain, tapi masih dalam tahap perencanaan." "Ah, begitu. Oke. Apa itu gedungnya?!" tanya Harry, setengah tak percaya, karena ia cukup cepat menemukan gedung yang dimaksudkan oleh Hera. "Ya, itu! Lihat, kita bisa melihat nama gedung itu! The ST Tower." Hera tersenyum. Akhirnya, ia menemukan gedung itu. "Joni, kami menemukan gedung itu!" teriak Hera lewat telepon. "Joni? Halo? Kau masih di sana?" Di sisi lain, Joni tengah menahan napas di balik salah satu meja kerja pegawai di lantai itu. Teleponnya masih tersambung dan bahkan ia juga masih bisa mendengar suara Hera yang memanggil namanya berkali-kali. Sial. Seharusnya dia tidak terlalu berisik, umpat Joni di dalam hati. Beberapa saat yang lalu, ia mendapati sosok mahluk itu, sepertinya tertarik untuk ke bawah, untuk turun ke lantai yang sama dengan Joni. Joni yang masih memegang telepon saat itu, langsung bungkam. Tak bersuara sedikit pun. Ia mundur, tapi terlalu tidak rela jika harus menutup teleponnya. Jadi, ia biarkan saja teleponnya tetap tersambung, lalu ia merangkak, menuju ke salah satu meja pegawai yang berderet di sudut lain, dan bersembunyi di sana. Ia tahu, resiko ini akan ia alami. Saat ia memutuskan untuk keluar dari gudang tadi, ia tahu ia bisa saja akan segera ketahuan atau bisa saja, mahluk itu ke bawah dan menemukannya. Ia tahu itu, tapi ia tidak menyangka akan secepat itu. Ia masih memerlukan banyak waktu untuk bergerak dan berbicara di telepon dengan Hera. Sementara itu, suara helikopter sudah terdengar di luar. Orang-orang yang berada di dalam gudang, yaitu Besi, Ipang, Dollar, dan Aul, pun terkejut. "Itu? Itu pasti mereka! Itu tim penyelamat!" seru Aul. Ia begitu antuias. "Iya, itu pasti mereka! Tim penyelamat! Joni berhasil!" teriak Ipang. "Iya, benar. Joni sudah berhasil!" tambah Dollar. Ia terlihat sangat senang. Betapa tidak, mereka akan segera mereguk kebebasan yang selama ini mereka inginkan. "Ayo, keluar. Tapi, ingat. Jangan berisik, jangan keras-keras kalian bersuara," ucap Besi, memperingatkan mereka. Semuanya mengangguk. Tapi, langkah Aul tertahan. "Tapi, kenapa Joni belum kembali? Bukankah dia pasti mendengar suara helikopter juga? Kenapa ia belum kembali kemari? Jangan-jangan, ada sesuatu yang terjadi?" Besi terdiam. "Benar. Bisa saja itu terjadi. Tapi, begini. Untuk bisa diselamatkan, kita harus ke atas. Helikopter itu pasti akan mendarat di atas atap gedung ini. Ayo, kalian temukanlah tangga darurat untuk mencapai ke sana. Aku akan menyusul Joni." Ipang, Aul, dan Dollar mengangguk. Semuanya pun keluar dari gudang. Tiga orang mulai mencari di mana letak tangga darurat yang akan menghubungkan mereka ke atas atap gedung ini. Sementara Besi menyusul Joni. Namun, saat ia sampai, tepat di sana, Besi terpaku. Ia dan sosok itu bertemu. Awalnya, mereka sama-sama diam, membeku. Besi kaget, ia tak menyangka akan langsung menemukan mahluk mengerikan itu. Joni yang melihatnya di sudut lain, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bodoh! Bisa-bisanya, dalam keadaan itu, pertimbangan Besi meleset. Besi mengambil langkah. Mengambil sebuah kursi, bersiap untuk menyerang. Mahluk itu mendekat, mulai memberi serangan kepada Besi. Besi pun melawan. Tanpa basa-basi, Besi memukul si mahluk itu tanpa ampun. Habis-habisan, hingga mahluk itu tersungkur. Namun, malang setelah itu, para mahluk mengerikan yang tadinya berada di atas, setelah mendengar semua keributan yang Besi dan mahluk itu ciptakan. Joni berdecih, lalu bangkit dan bergabung bersama Besi. "Perhitunganmu buruk kali ini," ucapnya. Besi mengangguk. "Ya, aku tidak menyangka tadi. Aku langsung berpapasan dengan salah satu dari mereka. Kau ke mana saja? Seharusnya kau kembali lebih cepat tadi." "Haha. Lucu sekali, dirimu. Aku bersusah payah agar tidak ketahuan. Agar mereka tidak mendengar suaraku atau gerak-gerikku. Tapi, kau malah datang dan ya, ini yang terjadi." Percakapan terhenti, karena para mahluk itu semakin banyak. Besi dan Joni berusaha menyerang dan melawan mereka habis-habisan. Untung saja, mereka sempat mengisi perut mereka tadi. Jadi, kekuatan Besi dan Joni pun terbilang cukup besar. Apalagi, mereka sudah cukup berpengalaman menghadapi para mahluk mengerikan itu. Suara helikopter yang semakin mendekat di atap, sedikit mengalihkan fokus para mahluk itu. Besi dan Joni menggunakan kesempatan itu untuk segera turun. "Kita ke mana?" tanya Joni, seraya menuruni anak tangga. Besi mengikuti dari belakang sambil berjaga-jaga takut ada serangan yang tak terduga. "Ke tangga darurat. Ke atap." "Yang lain bagaimana?" tanya Joni. Ia dan Besi terus berjalan. Besi mencoba berpikir dengan cepat, lalu akhirnya benar-benar menemukan pintu terbuka, bekas tiga orang sebelumnya. Ada tanda yang disimpan di depan pintu menuju tangga. Sepertinya, yang memberi tanda adalah Aul, Ipang, dan Dollar. Mereka sengaja melakukan itu agar Besi dan Joni tidak pusing mencarinya. "Mereka sudah ke atap. Ayo, cepat!" Besi kembali menutup pintu tangga darurat dengan susah payah. Setidaknya, untuk beberapa waktu, mereka--para mahluk itu-- tidak akan bisa mengejar mereka berdua. Segera, mereka pergi ke atap. Di sana, rupanya Dollar, Ipang, dan Aul sudah menanti. Raut haru tak bisa mereka sembunyikan. Helikopter kian dekat, semuanya mundur. Terlihat dari dalam, seseorang melambaikan tangan. Itu pasti Hera. Lalu, di atap yang cukup luas, helikopter itu mendarat. Semuanya berpegangan pada apa saja yang ada di sana, karena angin yang cukup kuat dari helikopter membuat tubuh mereka seakan hendak terbang, terombang-ambing. Hera turun. Ia menatap lima orang yang terlihat berantakan dengan penuh haru. "Akhirnya, aku bisa bertemu dengan kalian." "Kami tidak punya waktu banyak, jadi, mari prakata dan salam perkenalan. Ayo, kita segera pergi dari sini. Di sini berbahaya." "Ah, oke!" Hera mendengar sesuatu yang membuat pergerakannya berhenti. "Tidak, nanti aku jelaskan suara apa itu. Sekarang, kita harus segera pergi," ajak Besi. "Oke. Tapi, helikopter ini hanya muat empat orang saja." "Empat orang?" tanya Besi heran. "Apa-apaan ini? Apa kalian tidak ingat, kalau kita ada lima orang?" Joni protes. "Ini juga ceritanya panjang. Jadi, siapa yang akan masu lebih dulu?" tanya Hera. Besi terdiam sesaat. "Oke. Aku akan memutuskan." "Aul duluan. Dan Joni. Mereka dua anak muda yang terjebak dan mereka harus segera bertemu dengan keluarganya," ucap Ipang. "Ya, benar." Dollar mendukung kata-kata Ipang. "Oke. Aku juga setuju." Besi setuju. "Baiklah. Ah, tunggu. Apa itu?" tanya Hera. Rupanya ada satu lagi helikopter yang datang. Bahkan, bukan hanya satu. Ada dua lagi yang datang. Ada banyak helikopter yang datang. Mereka selamat. Mereka segera bebas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN