"Bagaimana? Kau berhasil menelepon?" tanya Harry ketika mereka masih di tengah perjalanan. Tidak ada halangan yang berarti bagi Harry. Cuaca cukup bagus, tapi tidak tahu kalau nanti sudah memasuki kawasan Jakarta. Bisa saja, lain lagi ceritanya.
"Aku masih belum bisa menghubungi mereka, entah kenapa. Padahal, ponselku memperlihatkan bahwa jaringannya sedang bagus. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Semoga mereka baik-baik saja."
Harry terlihat kecewa dengan jawaban Hera. Ia mempertaruhkan dirinya demi penyelamatan ini. Sebab apa? Kalau orang-orang yang katanya perlu diselamatkan itu tidak ada, atau sudah meninggal, maka tidak ada alasan baginya untuk melawan pemerintah jika pada akhirnya nanti ia dan kawan-kawannya saat ini disalahkan akan keputusannya untuk melakukan pencarian. Pencarian yang ia lakukan saat ini, jelas ilegal, karena tidak mendapat persetujuan dari pimpinan maupun dari pemerintah.
"Terus berusaha menghubungi mereka. Kita akan segera memasuki Kota Jakarta. Bersiaplah. Kudengar, cuaca di kota itu sudah tidak menentu. Tidak dapat diprediksi."
"Ya, aku juga tahu soal itu. Di berita, setiap kali aku menontonnya, Jakarta selalu dikatakan sebagai kota yang sudah tidak memiliki kestabilan lagi. Kota itu sudah berbeda dari yang dulu."
Harry mengangguk. Ia kemudian fokus ke lintasan yang akan dilaluinya. Kawasan Jakarta sudah di depan mata. Terlihat perbedaan udara dan warna langit yang begitu kentara. Mendung dan hujan sepertinya mulai terlihat. Dan itu sedikit mengganggu pandangan Harry.
Ia juga terhubung dengan ATC untuk berjaga-jaga jika ada kemungkinan buruk yang terjadi.
***
Sementara itu, di gudang yang terletak di salah satu lantai sebuah gedung ....
Joni keluar dari sana, setelah berkali-kali menguatkan tekad. Aul juga sebenarnya ingin menemani sahabatnya itu untuk bersama-sama pergi ke lantai atas. Akan tetapi, Joni mengatakan itu tidak perlu.
Aul sadar diri, ia merasa kadang bukannya membantu, ia malah menyusahkan. Ia pun memilih diam, tetap di dalam gudang bersama yang lainnya.
Joni melangkah. Di tangannya, terdapat pistol yang Besi berikan.
"Aku tidak tahu ada berapa peluru yang tersisa di dalamnya. Aku sudah banyak menggunakan itu ketika kita hendak keluar dari penjara. Kau juga tahu, bukan. Semoga saja masih tersisa beberapa. Berhati-hatilah. Ingat. Lebih baik tidak ketahuan. Tetaplah tersembunyi. Diam-diam," ucap Besi tadi, sesaat sebelum Joni keluar dari gudang.
Ya, ia akan berhati-hati. Dengan pemikiran soal mahluk mengerikan yang tak akan pernah bisa lepas dari kepalanya, tentang wajah mereka yang menakutkan, tatapan mata mereka yang seperti haus akan nyawa manusia, erangan dan geraman mereka, liur mereka yang berwarna kehijauan dan sungguh baunya busuk sekali, dengan pemikiran itu, tentu Joni akan sangat berhati-hati.
Dengan ketidakpastian apakah pistolnya masih memiliki banyak peluru, atau tidak ada sama sekali, dengan ketidakpastian apakah teleponnya masih dapat tersambung atau tidak, pemuda itu melangkah pelan menaiki anak tangga yang menghubungkan lantai demi lantai.
Kembali ke lantai itu, ia tak melihat ada tanda-tanda kehadiran mahluk mengerikan yang ia takutkan itu. Ah, mungkin belum. Mereka mungkin masih berkutat dengan potongan-potongan tubuh di loker lantai paling atas. Ya, itu tidak salah lagi.
Dari lantai tempatnya berdiri, ia dapat mendengar suara-suara dari lantai atas. Ya, itu adalah situasi yang cukup menguntungkan baginya. Sebab apa? Sebab itu berarti, ia memiliki beberapa waktu yang mungkin cukup lama untuk berada di sana.
Joni mendekat ke arah telepon. Ah, ia lupa rupanya belum meletakkan gagang telepon ke semula. Sambungannya mungkin sudah terputus. Ketika ia kembali meletakkan gagang telepon ke tempatnya, Joni mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Ia tidak bisa mengingat nomor Hera sebelumnya!
Kini, ia hanya harus menunggu di sana dengan cemas, dengan rasa takut yang terus memburu, menunggu Hera kembali menghubungi telepon itu.
Joni berdoa. Ia bahkan menghitung. Satu sampai enam puluh. Ia terus menghitung berulang-ulang. Ia berjanji di dalam hati, jika ia sudah lelah menghitung, dan sudah bosan, maka ia akan berhenti.
Untuk sekarang, Joni menunduk. Menunggu telepon itu, sambil pandangannya tak lepas ke atas anak tangga yang menuju ke lantai atas. Ia takut jika nanti tiba-tiba saja ada mahluk yang meloncat atau menggelinding ke arahnya.
Pemikiran konyol, memang. Tapi itu bisa saja terjadi. Atau, ia menengok ke belakang. Ya, bisa saja, mahluk itu seperti hantu yang tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang dan kemudian menampakkan wujudnya yang mengerikan.
Joni benar-benar dipenuhi kewaspadaan. Ia memohon kepada telepon itu, seperti orang setengah gila, memohon agar telepon di depannya segera berdering.
"Ayolah, berderinglah," pintanya dengan sangat.
Tapi setelah beberapa saat, telepon itu masih tak berdering.
Sial! Kini, ia mengumpat di dalam hati. Ingin rasanya ia berteriak dan memaki-maki sebab situasinya saat ini benar-benar mengesalkan.
Joni menahan napas. Ah, tidak. Ia bernapas dengan pelan. Bahkan, suara yang ia timbulkan, sekecil apa pun itu, membuat dirinya sendiri ketakutan.
Ia tak henti melirik lantai atas berkali-kali dan kembali menghitung sampai enam puluh. Ia juga berdoa. Terus-menerus.
Hingga akhirnya, telepon itu pun berdering. Belum sampai beberapa detik, ia langsung mengangkatnya.
"Halo?" tanyanya pelan.
"Akhirnya, kau mengangkatnya juga. Ke mana saja? Ya ampun. Aku hampir putus asa. Kalian baik-baik saja? Ada apa sebenarnya? Kenapa baru diangkat?" Hera melancarkan pertanyaan beruntun.
"Ssst." Joni berusaha membuat Hera tak terlalu berisik, sekalipun itu lewat telepon.
"Ke-kenapa?" tanyanya dengan suara yang agak pelan.
Joni menghela napas. Panjang sekali jika harus diceritakan. Nanti akan memakan banyak waktu percuma.
"Panjang ceritanya, tapi ada sesuatu yang berbahaya yang mengintai kami semua di sini. Aku sedang bersembunyi dari sesuatu itu, makanya tadi sempat tak bisa menerima telepon. Kalian sudah di mana? Sudah berangkat?" tanya Joni.
"Sesuatu apa? Ada apa di sana?" tanya Hera penasaran.
"Tidak. Nanti saja ceritanya. Penjelasannya akan sangat panjang. Kalian ada di mana? Apakah sudah sampai?"
"Ya, kami sudah sampai. Ini dengan Harry. Pilot yang tengah bertugas. Jelakan posisimu dengan benar dan detail. Sehingga aku dan tim bisa mendekat dan menyelamatkan kalian dengan cepat." Yang menjawab pertanyaan Joni adalah sang pilot, alias Harry.
Joni kini kebingungan dengan apa yang diperintahkan oleh Harry. Posisi yang benar dan detail? Ia bahkan tidak tahu tepatnya gedung yang sedang ia tempati ini di Jakarta bagian mana. Sungguh menyebalkan, pikirnya.
"Baik. Aku tidak tahu sebenarnya, posisi yang tepat di mana aku dan berada kini. Aku hanya tahu, kami ... sedang berada di dalam sebuah gedung. Ini adalah lantai, empat?"
Joni melihat tanda di sudut, bahwa ia sedang berada di lantai empat. Dan itu berarti, lantai paling atas adalah lantai 5. Itu adalah lantai paling atas. Dan itu juga berarti gedung itu tidaklah terlalu tinggi. Joni mencoba berpikir dan mengingat dengan keras.
"Lantai paling atas adalah lantai lima. Ah, atau lantai enam?" Aku lupa. Gedung ini berwarna putih. Setidaknya itu warna cat yang kulihat di keseluruhan bagian dalam gedung. Tidak tahu kalau di luarnya. Oh iya. Bagian sisi gedung ini adalah kaca. Dipenuhi kaca. Didominasi kaca."
"Begini, Joni. Ada nama gedungnya tidak?"
"Apa? Nama gedung?"
"Iya. Kau tidak melihat? Mungkin di salah satu dinding di sana, ada nama gedungnya?"
Joni mencoba melihat sekeliling. "The ST Tower?" ucap Joni, memastikan.
"Bagus. Itu yang kita tunggu sejak tadi."
The ST Tower.