Menjalankan Misi

1091 Kata
Hendri, Hera, serta Harry berangkat menuju ke tempat di mana helikopter yang mereka gunakan berada. Harry meminta kepada Hera dan Hendri agar mereka bersikap seperti biasa, selayaknya kawan dekat Harry. "Bersikaplah, seolah-olah kalian sudah sangat dekat denganku." Hendri dan Hera mengangguk. "Hendri, kau bisa pergi ke ruangan ATC. Mengambil alih yang bekerja di sana. Kau hanya perlu menunjukkan kartu ini," ucap Harry. "Wah, aku tidak menyangka kalau kau setahu itu soal hal ini. Dan kau punya kendali yang cukup besar juga rupanya." "Tidak juga. Aku hanya pandai sedikit memanipulasi orang. Tapi tetap, kau yang harus berusaha lebih. Kau harus terlihat seperti seorang pekerja di sana. Oke?" Hendri mengangguk. Berangkatlah mereka, dan perjalanan itu pun tak memakan waktu yang lama. Hanya lima belas menit, mereka sudah sampai. Hendri, seperti intruksi dari Harry, ia pergi ke ruangan ATC dan berusaha tetap tenang, mencoba memikirkan kata-kata seperti apa yang akan diucapkannya di hadapan para pekerja yang lain. Ia melangkah agak ragu, apalagi ketika berpapasan dengan pekerja lain, tapi ia berusaha terus meyakinkan dirinya, agar tetap tenang dan fokus. "Pagi," ucap seseorang saat ia hampir membuka pintu ruangan ATC. "Pagi juga," jawabnya. Orang itu terdiam dan tidak juga pindah dari hadapan Hendri. "Ah, iya." Konyolnya, Hendri lupa menunjukkan kartu yang diberikan Harry kepadanya tadi. Ia pun segera menunjukkan kartu itu kepada orang di depannya. Segera, setelah kartu itu ditunjukkan, Hendri dipersilakan masuk. "Oke, semuanya. Biar kami yang ambil alih. Ini perintah dari atasan." Orang-orang yang berada di ruangan tersebut pun keluar. Hendri sempat terkejut dengan apa yang terjadi. Ia tak menyangka kalau Harry memiliki pengaruh yang cukup besar. "Duduklah. Gunakan alat-alatmu. Agar kita bisa berkomunikasi dengan Harry." Hendri tersenyum. Ternyata, tak sesulit yang ia kira sebelumnya. "Oke. Panggil aku David." "Ah, aku Hendri." "Sepertinya, kau kenal dekat dengan Harry? Hanya beberapa orang yang memiliki kartu itu di perusahaan ini. Dan Harry memberikannya padamu, itu berarti kau salah satu orang kepercayaannya." "Ah, iya. Aku memang dekat dengannya." Hendri ingat apa yang Harry katakan kalau ia harus terlihat seperti orang yang memiliki hubungan dekat dengan Harry. "Oke. Mari kita pantau." Hendri pun menurut. Ia sekarang dapat berkomunikasi dengan Harry dan Hera yang berada di dalam helikopter. Tapi tunggu, itu berarti, David akan tahu kalau mereka akan melakukan penyelamatan. Apakah itu tidak masalah? "Sebentar. Apa itu berarti, kau tahu kalau kami akan melakukan penyelamatan?" "Penyelamatan? Terserah kalian saja. Aku tidak peduli. Mau itu penyelamatan, atau mau itu ada barang berharga atau barang rahasia yang hendak dibawa, itu bukan masalah. Aku hanya bekerja. Itu saja. Aku tidak akan melarangmu, karena itu adalah hal kalian. Apalagi Harry, dia punya andil besar di sini. Dan aku sudah sangat berutang besar padanya. Jadi, silakan saja. Aku akan dengan senang hati membantu." Hendri mengangguk-angguk. Sebenarnya, ia masih tak percaya dengan apa yang ia dengar dari David. Sekali lagi, ini tak terlalu sulit baginya. "Oke. Sekarang, kita fokus, ya," ucap David. Hendri mengangguk. Di tempat lain, Hera tampak takjub dengan helikopter yang akan ia dan Harry naiki. Itu pertama kalinya dalam hidup Hera, ia akan menaiki helikopter dengan tujuan yang dramatis pula. Menyelamatkan orang. Ia hanya tahu dan hanya sering melihat helikopter di layar televisi atau di layar ponsel. Pernah ia melihat, itu pun dari kejauhan, di atas langit. Kini, ia akan masuk ke dalamnya. Hera merasa itu akan jadi pengalaman yang luar biasa baginya. "Ayo, naik." Hera pun dibantu oleh Harry agar segera naik ke helikopter. Harry sudah siap di kemudi. Ia mulai menerbangkan helikopternya dan ia juga sudah terhubung dengan pihak ATC yang sedang bertugas dan memantaunya, yaitu Hendri dan David. "Apa petunjuknya?" tanya Harry. "Mereka terjebak di dalam sebuah gedung. Salah satu gedung yang ada di Jakarta." "Oke. Ada banyak gedung di Jakarta yang masih berdiri kokoh. Ya, meskipun ada beberapa juga yang sudah rubuh, karena cuaca, tapi banyak juga yang masih kokoh berdiri." Hera tak menjawab. Ia mencoba menghubungi nomor telepon yang tadi sempat masih tersambung. Namun, masih juga tak ada jawaban. "Telepon lagi mereka," perintah Harry. "Iya. Ini sedang kucoba. Sebenarnya, sejak tadi, aku sudah mencobanya berkali-kali, tapi tetap saja, tak ada respon. Apa jaringannya benar-benar sangat jelek?" "Entah. Mungkin, kalau kita semakin dekat dengan mereka, jaringannya akan segera membaik. Kita akan menuju ke sana, segera." Helikopter yang Harry kemudikan sudah mulai naik dan mulai mengudara, tujuan utama mereka adalah Kota Jakarta. *** Sementara itu, di dalam gudang, lima orang yang sedang menanti tim penyelamat, mulai merasa gelisah. Aul dan Joni, seperti biasa, seperti yang sudah-sudah, merasa tak bisa jika harus berdiam diri saja. Mereka ingin keluar dari gudang dan ingin kembali ke atas, barang mengecek telepon. Apakah masih bisa tersambung atau tidak, jangan-jangan, Hera sejak tadi menanti respon. Itulah yang Aul dan Joni pikirkan saat ini. Mereka ingin mengetahui itu. "Kenapa?" tanya Besi, ketika melihat tingkah Aul dan Joni yang dinilai tak biasa. Karena tak ada jawaban, Besi mengulangi pertanyaan yang sama. "Kenapa?" "Tidak apa-apa," ucap Joni dan Aul bersamaan. "Kalau begitu, kenapa wajah kalian seperti itu?" tanya Besi lagi. "Iya, ada apa memangnya?" tanya Ipang, mencoba bergabung dengan percakapan. "Begini," ucap Joni, hendak menjelaskan. "Aku dan Aul, sepertinya memikirkan hal yang sama. Ini hampir sama situasinya dengan di penjara. Diam saja, itu adalah sesuatu yang salah. Kita harus bergerak. Aku pikir, kita harus mengecek telepon. Kita harus menghubungi nomor Hera lagi. Siapa tahu, mereka memang sedmag dalam perjalanan ke sini, tapi nanti mereka kesulitan kalau hendak mencari posisi kita. Sebelumnya, kita tidak memberi petunjuk apa-apa soal lokasi gedungnya." "Memangnya, kau tahu kita berada di mana? Lokasi tepat gedung yang kita tempati ini di mana? Tidak, bukan?" Pertanyaan Besi, ada benarnya juga. "Ya, tapi kan, tetap saja, kita tidak bisa terus berdiam diri!" Joni sedikit berteriak, membuat Besi harus sedikit memperingatinya dengan kasar, dengan sedikit pukulan. "Aku akan ke atas," ucapnya. "Jangan, terlalu berbahaya." Besi tidak mengizinkan. "Tapi di sini saja, itu tak dapat menjamin keselamatan kita semua. Iya, kan? Diam saja di sini, itu juga berbahaya. Sampai kapan kita diam saja?" "Ya, benar apa yang Joni katakan. Sampai kapan?" Ipang dan Dollar yang sedang menyimak, sebenarnya cukup mendukung apa yang diinginkan oleh Joni dan Aul. Mereka juga menyadari kalau diam saja bukan hal yang bagus. Itu tidak akan ada manfaatnya sama sekali. "Aku akan ke atas. Tidak apa-apa, sendiri saja," ucap Joni lagi. "Aku ikut," kata Aul. Joni menggeleng. "Tidak perlu. Aku akan sendiri ke atas. Tenang saja, aku akan berusaha untuk tetap hidup dan tidak ketahuan oleh mereka." "Kalau begitu, begini. Kalau kau ketahuan dan dikejar mahluk itu, jangan lari kemari," ucap Besi. Itu adalah pernyataan yang agak kejam, tapi Joni setuju. Ia harus ke atas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN