Setelah mereka cukup mengisi perut, kelimanya berjalan di lantai itu, mencoba menjauh ke sudut lain. Besi mengajak mereka pergi ke sudut yang agak tersembunyi. Sepertinya ada gudang di tepi lantai itu. Akan tetapi, tak sengaja, saat hendak melangkah ke sana, mereka melihat ke lantai bawah, setelah lantai yang sedang mereka tempati saat ini.
"Ya ampun," lirih Joni, terkejut dengan apa yang ia saksikan. Di lantai bawah itu, semua orang dapat menyaksikan dengan jelas, air yang sudah mulai meninggi. Lantai bawah itu sudah terendam air. Air berwarna kecokelatan terlihat sudah memenuhi lantai. Terlihat juga barang-barang yang mengapung di sana.
"Kita benar-benar terjebak. Kita dalam keadaan yang cukup gawat. Di bawah adalah air yang mungkin akan segera menenggelamkan kita. Sedangkan di atas, ada para mahluk yang bisa saja menyerang kita dengan brutal."
Joni berucap lagi, tapi Besi segera menepuk pundaknya, memberi isyarat agar ia jangan terlalu banyak bicara dan mengajaknya menepi ke ruangan yang diduga adalah gudang tadi.
Mereka sampai ke ruangan itu. Agak gelap, tapi bagi Besi, itu bagus. Besi menutup rapat-rapat pintu ruangan tersebut dan mulai membuka percakapan. Kini, mereka merasa lebih leluasa berbicara, meskipun harus dengan hati-hati dan tidak terlalu keras. Takutnya, suara yang keras, akan mengusik dan membuat mahluk-mahluk itu datang ke tempat mereka. Besi belum dapat memastikan jumlah mereka sebanyak apa.
"Baik. Mari kita pikirkan apa yang harus kita lakukan setelah ini. Kita semua berada dalam situasi yang cukup sulit dan genting. Pertama, kita kembali harus berhadapan dengan para mahluk itu, kedua, kita tidak bisa menghindar ke lantai bawah lagi, karena di lantai bawah, seperti yang kalian tahu, sudah terendam air. Banjir. Kota ini, benar-benar akan segera tenggelam. Seperti yang kita sudah tahu."
Ipang, Dollar, Joni, dan Aul mengangguk-angguk, menyimak apa yang Besi katakan. Apa pun yang Besi katakan, akan mereka simak baik-baik.
"Lalu, soal tim penyelamat itu, aku tidak tahu apakah mereka akan datang atau tidak, atau mereka sebenarnya memang sedang sangat terkendala sesuatu hal yang sulit, hingga belum juga sampai kemari. Aku, tidak bisa meyakinkan kalian soal itu. Percaya saja, tapi jangan berharap lebih. Satu-satunya yang harus kita lakukan saat ini adalah bertahan hidup selama mungkin."
"Sambil berdoa, semoga mereka benar-benar hendak menyelamatkan kita. Aku percaya, Besi. Hera dan teman-temannya, akan menyelamatkan kita semua. Terakhir kali, di telepon, dia bilang dia sudah jadi bagian tim penyelamat. Itu berarti, dia juga akan berjuang, untuk menyelamatkan kita. Ingat ketika dia bilang soal para pendemo? Dia terlihat bersikeras untuk menyelamatkan kita semua. Aku yakin. Sungguh. Mereka pasti akan datang," ucap Joni menambahkan deretan kalimat dari Besi.
Besi mengangguk. "Ya, benar. Kita harus menaruh kepercayaan untuknya. Untuk mereka, meskipun kita tidak pernah tahu akan bagaimana berakhirnya ini nanti."
"Percaya saja. Itu akan terasa lebih baik," ucap Joni lagi.
Aul mengulangi kalimat Joni. "Percaya saja. Itu akan terasa lebih baik. Percaya saja."
Kelimanya kembali dalam hening. Berkutat dengan pikiran masing-masing, hingga Joni kembali berucap, "Bagaimana soal teleponnya? Aku yakin, Hera menunggu kita merespon."
Besi menggeleng. "Terlalu berbahaya untuk bisa kembali ke atas. Teleponnya tidak bisa diambil, kan? Itu terhubung oleh kabel? Bagaimana bisa, telepon semacam itu masih ada di zaman secanggih ini. Aku tidak mengerti."
"Mungkin karena ini gedung penelitian rahasia," timpal Aul. "Jadi, ada banyak hal yang ya, tidak bisa kita prediksi, kita duga, dan banyak yang tidak umum juga. ada di gedung ini."
Besi mengangguk lagi. "Ya, mungkin. Aku sebenarnya sudah sangat tidak sabar, ingin mengungkapkan semua yang kulihat dan kuketahui dari gedung ini ke publik. Aku ingin, mereka mengetahui ada banyak hal yang tersembunyi. Dan mungkin, pemerintah kita adalah pelakunya. Siapa lagi, memang. Siapa pihak yang bisa menutupi sesuatu, sampai serapi dan terstrukutu seperti ini."
"Iya, benar. Aku sudah menduganya juga," balas Joni.
"Oh iya. Jadi, apa yang kau temukan di ruangan itu? Kau sudah melihatnya, bukan? Potongan kaki? Potongan tubuh?" tanya Dollar. Sebab Besi awalnya terlihat tidak terlalu percaya terhadap apa yang ia katakan soal potongan kaki itu sebelumnya.
Besi mengangguk. "Ya, aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, bahkan aku melihat potongan kaki itu sedang disantap dan terlihat dinikmati oleh salah satu mahluk mengerikan. Terlihat sangat menikmati."
Mendengar pernyataan Besi soal itu, keempat orang yang mendengarnya merinding. Mereka merasa jijik sekaligus ngeri.
"Mari bicarakan soal ini," ucap Ipang memulai.
"Soal apa?" tanya Joni.
"Soal ini. Pikirkan. Tadinya, mahluk-mahluk itu, adalah manusia biasa seperti kita. Kita semua juga sudah melihat kan. Bagaimana Bang Joe pada akhirnya berubah dan menjadi bagian dari mereka. Sangat menakutkan. Pada akhirnya, mereka kehilangan akal dan perasaan. Bang Joe berhasil menahannya, meskipun pada akhirnya ia berubah juga. Aku bertanya-tanya, sebenarnya, percobaan yang dilakukan oleh para sipir itu bertujuan untuk apa? Mereka ingin menemukan obat apa?"
Sekarang, pertanyaan-pertanyaan kritis itu juga mondar-mandir di kepala yang lainnya. Mereka jadi ikut berpikir keras soal itu.
"Satu yang pasti, apa pun yang mereka hendak buat, itu sangat merugikan. Mereka tidak memikirkan dampak yang akan terjadi jika mereka gagal, atau mereka memang memikirkan dampaknya, tapi tetap tidak peduli akan hal itu," ucap Besi.
"Ya, tentu saja, mereka tidak akan memikirkan itu. Kenapa? Karena yang mereka uji coba adalah para tahanan. Mereka menyepelekan nyawa-nyawa yang mungkin menurut mereka, adalah beban negara. Beban yang tentunya harus disingkirkan," timpal Dollar.
"Sial. Menyebalkan sekali," umpat Ipang. "Aku dianggap beban. Oleh negara."
"Mungkin, kita ini memang beban," ucap Besi sambil tertawa pahit.
"Orang jahat itu beban, orang jahat itu, mungkin bagi pemerintah adalah kerikil yang masuk ke dalam sepatu mereka. Sangat mengganggu, dan harus secepat mungkin disingkirkan. Itulah sepertinya, yang mereka pikirkan soal kita."
Setelah kalimat Besi itu, tak ada lagi pembicaraan. Masing-masing dari mereka, kembali bergelut dengan pemikiran masing-masing.
Joni, sebenarnya juga cemas soal apakah tim penyelamat yang dikatakan Hera itu akan datang, atau tidak. Tapi, ia juga tidak punya pegangan lain. Ia ingin mempercayai kata-kata Hera, karena setelah ia pikir-pikir, hanya kata-kata itulah yang bisa ia jadikan pegangan untuk tetap berpikir positif. Untuk tetap berpikir bahwa, mereka pasti datang. Tim penyelamat itu, pasti akan datang. Segera.
Suara rintik hujan kembali terdengar. Sepertinya, sudah jadi hal yang biasa, hujan hampir setiap waktu mengguyur Jakarta. Seolah musim sudah tak lagi memiliki aturan, sebab langit kota itu sudah kian tercemar. Hujan sudah tak dapat diprediksi kapan kedatangannya. Badai apalagi. Sudah sering terjadi, memporak-porandakan kota.
Sekilas, kadang-kadang, baik Joni atau Aul, saat melihat kota yang mereka tinggali sudah seperti sekarang ini, terlintas perasaan yang tak biasa, perasaan kecewa, tapi juga perasaan bersalah. Aul atau Joni berpikir, apakah warga kota yang lainnya juga merasakan hal yang sama? Perasaan itu, adalah perasaan yang penuh dengan pertanyaan.
Apakah aku melakukan kesalahan terhadap kota ini?
Apakah aku adalah bagian dari kehancuran kota ini?
Apakah kota ini masih bisa diperbaiki?
Pertanyaan-pertanyaan itu yang sekilas, selalu hadir di dalam pikiran Aul atau Joni dan mungkin di dalam pikiran warga Kota Jakarta lainnya.