Bergerak

1262 Kata
"Tidak ada jawaban," ucap Hera kepada orang-orang yang berada di ruangan itu. Jodi, Hera, dan Revan, yang meskipun--Revan-- tadinya tidak ingin ikut bergabung, akhirnya ikut juga karena merasa akan sangat keren kalau nantinya mereka berhasil. Walaupun kemungkinan kerennya kecil, karena bisa saja mereka semua, meskipun berhasil menyelamatkan orang-orang yang terjebak, pada akhirnya nanti akan dipenjara karena sudah melanggar aturan pemerintah. Revan tetap ikut dengan segala gengsi yang ia miliki. "Ini buruk. Seseorang akan segera datang, dia dari angkatan udara. Namanya Harry. Dia juga yang akan menerbangkan helikopter untuk kita agar bisa menuju ke sana. Tapi, kalau Aul dan Joni tidak juga bersuara, bagaimana caranya agar aku bisa meyakinkan Harry kalau mereka masih ada di gedung itu dan masih hidup. Bukankah, tidak ada salah satu pun dari kita yang bisa menjamin apakah mereka memang masih hidup, atau sudah mati. Penuturan Hendri membuat Revan, Jodi, dan Hera jadi berpikir agak pelik. Hera berulang kali memanggil Aul dan Joni, karena memang telepon mereka masih tersambung, alias belum terputus, tapi tetap saja belum ada yang menjawab. Tidak ada respon sama sekali. Hening, tanpa suara apa-apa. "Tadi, masih ada. Saat kubilang ponselku mau di-charge, aku masih mengobrol dengan Ayo dan Joni, tapi kenapa sekarang, mereka tidak menyahut?" "Ya ampun. Kasihan sekali. Mungkinkah mereka mati kelaparan? Mereka terjebak di sebuah gedung, bukan? Coba pikir, apakah mereka bisa menemukan makanan? Kalau mereka terjebak di gedung mall, ya, bisa saja. Kalau di gedung perusahaan, misal. Kasihan mereka," ucap Revan. Ia malah berpikir negatif. "Mungkin, mereka turun ke lantai selanjutnya?" tanya Jodi. "Untuk apa? Tidak masuk akal, ketika mereka seharusnya tetap menjaga komunikasi penting, tapi malah pergi dari lantai itu. Itu adalah hal konyol," sanggah Hera. Hendri bangkit, berdiri dan berjalan mondar-mandir, berusaha berpikir keras dengan apa yang sedang ia hadapi. "Kita harus tetap menyelamatkan mereka. Aku yakin, mereka masih hidup." Hera mengangguk. "Ya, aku juga. Aku yakin, mereka masih hidup. Telepon ini, bisa saja terkena gangguan. Benar, kan? Itu adalah kemungkinan paling pasti. Badai dan hujan hadir di Jakarta dalam kurun waktu yang cukup lama dan sering. Jadi, bisa saja, itu membuat jaringan komunikasi menjadi terganggu." Pernyataan Hera, sepertinya, bagi Hendri adalah pernyataan paling masuk akal. Ada gangguan pada jaringan telepon, sehingga tidak ada suara yang terdengar. Ya, bisa saja. Banyak hal yang bisa terjadi ketika sebuah bencana mengubah sebuah kota. "Aku akan tutup teleponnya. Dan menghubungi mereka, beberapa saat lagi. Semoga dapat tersambung nanti." Hendri mengangguk-angguk. "Sekarang, apa kalian punya ide untuk meyakinkan Harry, temanku, agar ia mau membantu, sementara kita tahu, kita masih belum bisa menghubungi Aul dan Joni lagi?" "Tentu. Kita punya dua orang yang menerima telepon itu secara langsung. Jadi, seharusnya dia yakin soal itu. Dia temanmu, bukan? Sudah seharusnya dia mau membantu dan mempercayaimu, mempercayai kita semua." Sesaat setelah Jodi mengatakan itu, suara ketukan pintu terdengar. Itu pasti Harry. Tidak salah lagi. "Halo," ucap seseorang itu. Tubuhya tegap dan berisi. Ia menyapa Hendri dan mereka saling menepuk bahu masing-masing, seolah mereka memang sudah sangat dekat dan itu membuat Jodi semakin percaya diri. Untuk bisa meyakinkan temannya Hendri agar mau membantu mereka. "Aku sudah dengar rencanamu. Sangat berbahaya dan memiliki resiko yang tinggi. Tapi, kami tentu bisa melakukan itu. Kenapa kami tidak diberitahu soal ini?" tanya Harry. Setelah duduk dan bergabung dengan Revan, Jodi, dan Hera. Sesaat sebelumnya, mereka sudah berkenalan dan bersalaman. Hendri menarik napas panjang sebelum benar-benar menjelaskan. Ia hendak menjelaskan dengan panjang lebar, tapi Jodi keburu mengingatkan, kalau mereka sudah tak memiliki banyak waktu lagi. "Pemerintah tidak akan menyetujuinya. Meskipun seharusnya, jauh-jauh hari mereka sudah melakukan upaya-upaya penyelamatan itu, tapi mereka tidak melakukannya. Lebih tepatnya, tidak mau melakukannya. Aku yakin, kau paham. Sejak awal, mereka seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari kita. Dan sekarang, kita tak punya banyak waktu. Kita semua, sudah kian terdesak." Segera, Jodi menyela. Hendak menambahkan pernyataan dan mengefisienkan waktu, agar mereka tak berlama-lama dalam obrolan tersebut. "Begini, singkatnya, pertama, pemerintah menyembunyikan sesuatu dan mereka sudah menghentikan pencarian para korban baik itu korban yang meninggal atau yang terjebak di sana. Kedua, kita tidak punya waktu, sebab orang-orang yang hendak kita selamatkan ini, mereka terjebak di sebuah gedung dan kelaparan. Mereka tidak punya banyak waktu. Kita tidak banyak waktu. Ketiga, ini ilegal, bukan? Maka, kita harus serapat mungkin menyusun rencana ini dan diam-diam ke sana. Keempat, kita sangat memerlukan bantuanmu. Kelima, kita harus bergerak sekarang juga." Hendri, Revan, dan Hera, mengangguk-angguk mendengar pernyataan panjang yang begitu jelas dari Jodi itu. Harry seperti tengah berpikir, lalu ia lihat satu demi satu wajah yang ada di depannya itu. Tidak ada terlihat kalau mereka seperti sedang berbohong. Pernyataan dari Hendri dan Jodi, sangat serius. "Kalau kau tidak mempercayai kami, tanyakan kepada Revan dan Hera. Mereka adalah dua orang yang menerima telepon langsung dari Aul dan Joni, salah dua orang yang terjebak di gedung tersebut." Revan dan Hera langsung mengangguk. "Iya, itu benar. Aku dan Revan mendengar langsung. Bahkan, belum lama ini, aku juga berbicara dengan mereka lewat telepon dan mereka sudah dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Mereka harus segera diberi pertolongan. Hanya, tadi, teleponnya mengalami gangguan jaringan. Kau tahu sendiri bagaimana kondisi Kota Jakarta saat ini. Buruk sekali. Jadi, jaringan yang kacau adalah sesuatu yang tidak akan bisa terhindarkan. Harry, anggota angkatan udara itu mengangguk-angguk. Kini, ia percaya. Apalagi, Hendri adalah teman karibnya sejak di masa sekolah. Mana mungkin Hendri berbohong soal sesuatu yang sedemikian serius. Lagi, ia juga tahu soal pemerintah yang memang sejak awal, ia juga merasa, pemerintah sedang menyembunyikan sesuatu. "Baik. Kalau memang itu yang benar-benar terjadi, kita harus menyusun rencana. Tapi, muatan helikopter itu terbatas. Dan aku, tidak bisa mengajak rekanku yang lain, karena ini merupakan misi yang tidak resmi, dan rahasia. Berapa orang yang terjebak di sana? Ada yang bisa menjawabnya?" tanya Harry. Hera angkat bicara. "Ada lima orang yang terjebak di sana." "Oke. Tapi, muatan helikopter yang ada saat ini, hanya memiliki kapasitas empat orang saja. Jadi, kalian tahu sendiri apa yang harus dilakukan. Pertama, aku tidak bisa mengajak kalian berempat untuk ke sana semuanya. Jadi, hanya dua orang. Hendri dan? Siapa?" Hera mengacungkan tangan. Harry mengangguk. "Oke. Kau dan Hendri. Yang lain, mungkin kalian harus memiliki rencana lain untuk mengalihkan fokus pemerintah. Untuk membuat mereka terkecoh dengan aksi penyematan yang akan kita lakukan ini." Empat orang itu mengangguk mantap. "Sekarang, Hendri, Hera, ikut aku. Kita akan ke tempat helikopter diam-diam. Ada beberapa orang di sana, dan semuanya merupakan rekan serta kepercayaanku. Aku memiliki jabatan yang terbilang tinggi, bersikaplah seakan kita sedang dalam kepentingan lain, bukan dalam upaya penyelamatan. Mungkin, ada beberapa orang yang bisa kuajak kerja sama. Akan tetapi, beberapa lainnya, bisa saja tidak bisa diajak kompromi." Jodi mengangguk. "Ya, selalu ada beberapa orang yang menyebalkan dalam suatu perkumpulan." "Tepat, Jodi. Ayo, kita berangkat. Tunggu apa lagi. Jodi dan Revan, kalian mungkin bisa mulai memviralkan kasus ini. Terserah dengan cara apa, tapi berhati-hatilah. Jangan sampai kalian tertangkap." Jodi dan Revan mengangguk. Hera, Hendri, dan Harry pun bergegas ke tempat di mana helikopter itu berada. Di tengah perjalanan menuju ke sana, Hera bertanya-tanya soal skenario penyelamatan yang akan mereka lakukan. "Berarti, karena helikopter itu hanya muat empat orang saja, kita harus ke sana dua bukan?" Harry mengangguk. "Benar. Pertama, begini saja. Aku, dan kau, kita ke sana dan angkut dua orang. Kemudian, dalam penyelamatan kedua, aku saja yang ke sana. Karena kan aku sudah tahu lokasinya. Jadi, tidak perlu petunjuk lagi." "Hendri, aku memerlukanmu untuk mengelabui para rekanku yang lain. Mereka tidak begitu terfokus kepada upaya penyelamatan atau apa pun soal Jakarta. Karena, kami, di sana, seperti tengah difokuskan kepada hal lain." Hendri mengangguk. "Ya, aku mengerti. Bersikaplah natural. Dan berwibawa. Seolah kau adalah pimpinan upaya penyelamatan ini." Hendri mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN