Bab 25: Pagi Paling Rapuh dan Amukan Penyesalan Pagi itu, udara di apartemen Reyna terasa beracun. Agrata tersentak bangun, dan sedetik setelah kesadaran penuhnya kembali, ia merasakan kehilangan kontrol yang mutlak. Kemeja di tangannya terasa kotor, dan gengsi-nya bagai pecahan kaca yang menusuk-nusuk akalnya. Ia melihat Reyna, dan kengerian membanjiri dirinya. Reyna duduk di sofa, tubuhnya menggigil hebat. Ia tidak mengeluarkan suara, tetapi isakan tertahan yang hanya bisa dilihat dari bahunya yang bergetar jauh lebih menghancurkan daripada jeritan. Ia memeluk lututnya, berusaha mengisolasi diri dari dunia, dari Agrata, dan dari dirinya sendiri. Agrata berlutut di depannya, melupakan statusnya. “Reyna… Saya mohon. Lihat saya,” pinta Agrata, suaranya putus asa, penuh getaran. Saat

