8. Konfrontasi

1137 Kata
Emely bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Anna. Raut wajahnya pun terlihat murka. "Aku di sini untuk bekerja, bukan untuk yang lain!" Ekspresi wajah Anna seketika berubah. Seolah tak menyangka Emely akan seberani itu membentaknya di hadapan banyak orang. Tapi Anna segera menguasai raut wajahnya dan kembali menatap Emely dengan kebencian. "Aku nggak menyangka kalau kamu sekarang mulai berani melawan. Apakah ini memang sifatmu yang sebenarnya? Dasar wanita pembawa sial! Karena kamu Mas Aji meninggal, dan tanpa tidak tahu malu kamu meninggalkan anakmu," ucap Anna dengan telunjuk mengacung ke arah Emely. Sementara Melania memutuskan untuk diam, tak mau ikut campur dalam perdebatan keduanya. Namun, seringai tipis dia munculkan saat melihat Emely yang terpojok. Mata Emely mulai memanas, tapi dia tetap menatap Anna lurus-lurus. "Sepertinya logikamu sudah hilang, Anna. Kalian jelas-jelas tahu Mas Aji meninggal karena kecelakaan mobil. Dan aku nggak pernah ninggalin Carmen. Ibumu yang mengambilnya dariku." Anna terkekeh pelan, nada suaranya penuh dengan amarah. "Mengambil? Jangan memutar balikan fakta. Kenyataannya kamu yang meninggalkan Carmen!" Jantung Emely berdegup kencang, tak menyangka jika keluarga Aji memfitnahnya sedemikian rupa. Dia lalu menarik napas dalam-dalam, menyadari sebanyak apapun dia melakukan pembelaan, tidak akan ada gunanya sekarang. Namun Anna seperti predator yang enggan melepaskan buruannya, wanita itu masih menatap Emely dengan sinis dan kembali melontarkan kalimat penghinaan. "Asal kamu tahu. Sebenarnya dari awal Ibu tidak setuju saat Mas Aji ingin menikahimu. Tapi dia begitu gigih memperjuangkanmu. Aku jadi curiga ... jangan-jangan kamu pakai pelet, ya?" Mata Emely melebar saat mendengarnya, tak percaya jika adik—lebih tepatnya mantan adik iparnya dapat berpikiran picik seperti itu. Baru saja dia akan menyangkal semua tuduhan itu, terdengar kasak kusuk yang cukup riuh. Sebagian dari mereka bahkan merekam secara diam-diam dengan ponsel dari awal keributan itu terjadi. "Anna! Teganya kamu menuduhku seperti itu? Sekarang aku tanya padamu ... apakah selama ini kamu melihat aku berbuat yang macam-macam?" ucap Emely yang tak terima dengan tuduhan itu. "Memang aku selama ini tak pernah melihat kamu berbuat yang macam-macam, tapi siapa yang tahu kelakuanmu di belakang kami?" ucap Anna yang semakin menyerang mental Emely. Yulia yang baru saja masuk setelah dipanggil oleh manajer pemasaran langsung menghentikan langkahnya saat melihat Emely yang sedang bersitegang dengan Anna. "Anna! Apa yang kamu lakukan di sini?" Suara Yulia terdengar tegas, membuat semua orang langsung menoleh. Anna menoleh dengan raut tak bersalah. "Oh, Mbak Yulia. Maaf, aku dan Emely sedang ngobrol biasa—" "Tapi yang aku lihat, kamu dan Emely tidak sedang ngobrol biasa," potong Yulia. "Dan lagi kamu kenapa berada di sini sekarang? Apa divisi keuangan memang sesantai ini?" Anna sempat terdiam, namun tak lama kemudian dia menyipitkan mata, menatap Yulia sinis. "Memangnya salah jika aku mau bertemu dengan orang yang aku kenal?" Yulia melangkah maju, berdiri di antara Anna dan Emely. "Jelas salah besar. Karena ini masih jam kerja." Wajah Anna memerah karena malu dengan teguran yang diberikan oleh Yulia. "Ckckck. Sama-sama jadi pegawai saja sok mengatur." Wanita hamil itu mendelik saat menyadari ketidaksopanan Anna terhadap dirinya. Baru saja dia akan berbicara terdengar suara dingin yang memecah keributan dalam ruangan itu. "Kenapa kalian bersantai-santai di saat jam kerja seperti ini?" Semua mata memandang ke sumber suara dan terpaku saat melihat raut dingin bercampur bengis Leonardi. Dia melangkah masuk dengan tatapan menusuk, langkahnya mantap dan penuh wibawa. Dia memindai sekeliling ruangan dan melihat seorang staff pemasaran yang masih terpaku dengan ponsel mengarah pada kedua wanita itu. Di belakangnya, David berjalan cepat sambil membawa tablet. Anna menelan saliva, tubuhnya menegang begitu menyadari siapa yang baru saja masuk. "Pak Leonardi …," gumam Ana gugup, namun mencoba tetap berdiri tegak. Leonardi tidak menanggapi sapaan itu. Tatapannya masih tertuju pada Anna, lalu berpindah sejenak ke arah Emely yang menunduk dalam diam. Dia memicingkan mata saat menilai situasi yang terjadi. "Saya rasa kita semua yang ada di sini tahu apa itu arti profesionalitas. Dan saya tidak butuh orang yang hanya ingin bermain-main." Suara Leonardi terdengar datar, namun sarat dengan ancaman. Tidak perlu berteriak, tapi nada tegasnya cukup untuk membuat siapa pun bergidik. Anna membuka mulut, hendak membela diri, namun tak satu pun kata dapat keluar. Terintimidasi oleh tatapan sang CEO yang terkenal tidak memberi ruang bagi kesalahan. Leonardi kemudian menoleh pada David. "Pastikan semua yang merekam kejadian ini untuk menghapus rekamannya di depanmu. Kita tidak butuh sampah viral dalam lingkungan kerja." David mengangguk cepat. “Siap, Pak.” David langsung mengambil alih. Dengan tegas, dia meminta setiap karyawan yang terlihat memegang ponsel untuk maju satu per satu dan menunjukkan hasil rekaman mereka. Beberapa orang tampak gugup, tapi tak berani menolak. Sementara itu, Anna masih berdiri di tempat, menatap Emely dengan sorot penuh kebencian. Leonardi mengalihkan pandangannya pada Emely, yang masih menunduk, mencoba menyembunyikan gejolak perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya. Namun, pria itu bisa merasakan betapa wanita itu sedang menahan diri untuk tidak runtuh di tempat. "Cepat bereskan barang-barangmu, lalu ke ruangan saya," ucap Leonardi tiba-tiba, membuat Emely tersentak dan seluruh ruangan kembali terkejut. “Pak Leonardi …” Yulia mencoba bicara, khawatir Emely akan disalahkan karena keributan ini. Namun Leonardi hanya melirik Yulia dengan tatapan tajamnya, membuat wanita itu tak lagi dapat berbicara. Leonardi lantas berbalik dan berjalan keluar ruangan, disusul Emely 5 menit kemudian. *** Di dalam ruangannya, Leonardi berdiri menatap Emely yang kini menampakan raut wajah lelahnya. "Kita pergi ke rumah sakit sekarang," ucap Leonardi pelan, namun cukup jelas terdengar oleh Emely. Emely mengangkat wajahnya, menatap Leonardi dengan terkejut. “Sekarang, Pak?" "Iya. Karena kamu harus menyusui Aluna secepatnya." Emely hanya dapat meringis saat mendengar nada suara Leonardi yang datar. Emely menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan gejolak emosi yang muncul saat mendengar nama Aluna. Karena putri Leonardi itu mengingatkannya pada Carmen. Kenangan buruk saat dia diusir oleh Amira, teringat jelas dalam memorinya. Tangannya mengepal erat saat Amira yang tanpa belas kasihan memisahkannya dengan Carmen. Emely lantas menatap Leonardi dengan sorot mata penuh keputus asaan. "Maaf Pak. Apakah saya akan dibayar untuk menyusui Aluna?" Leonardi mengerjap pelan, tidak menyangka Emely akan menanyakan hal itu. Sorot matanya berubah sedikit, dari putus asa menjadi lebih termotivasi. Meskipun sedikit. Leonardi menatap Emely dalam diam, seolah tengah mempertimbangkan jawaban yang tepat. Napasnya tertahan beberapa detik sebelum akhirnya dia melangkah mendekat, suaranya kini lebih rendah namun tetap tegas. "Saya tahu kamu bukan tipe orang yang melakukannya karena uang," ucap Leonardi perlahan. "Tapi kalau kamu merasa memerlukan uang lebih, maka tentu saja kamu akan dibayar sesuai dengan kontrak yang akan saya siapkan nanti." "Saya harap ... Bapak memberi upah saya yang sepantasnya." Emely menunduk, mencoba menyembunyikan kilatan emosi di matanya. Dia tahu seharusnya tidak sepantasnya menukarkan ASI miliknya dengan sejumlah uang. Tapi Emely membutuhkannya untuk mempersiapkan gugatan hukum kepada keluarga mendiang suaminya atas ketidakadilan yang dia terima. Apalagi ternyata dia sekantor dengan Anna, mantan adik iparnya itu pasti akan melakukan segala cara untuk menjatuhkannya. Dan Emely bersumpah di dalam hatinya, jika dia harus semakin kuat. Demi dirinya dan Carmen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN