"Kamu sudah siap? Kita pergi sekarang." Emely tersadar dari lamunannya saat Leonardi bicara.
"Ekh ... kita mau ke mana, Pak?" tanya Emely.
Leonardi terdiam sembari menatap tajam Emely. "Sepertinya kamu lupa jika kita harus ke rumah sakit."
Emely menggigit bibir bawahnya, merutuki kebiasaan melamunnya sehingga membuat tidak fokus.
Leonardi meninggalkan ruangannya, diikuti Emely yang berjalan di belakang. Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, Emely hanya menunduk. Dia tidak berani menghadapi tatapan semua orang yang melihatnya.
"Perhatikan langkahmu," ucap Leonardi saat mereka sudah berada di depan mobil Leonardi.
Baru saja Emely akan menaiki mobil, dia merasakan nyeri pada dadanya. Emely menghela napas kasar saat mengingat jika dia belum memompa ASInya selama 7 jam.
Leonardi yang sedang memanaskan mesin mobil, tentu saja heran saat melihat Emely yang hanya berdiri dalam diam.
"Emely!" Bahkan Emely tak mendengar saat Leonardi memanggil namanya dengan suara cukup keras.
Leonardi keluar dari mobil dan melangkah menghampiri Emely yang masih berdiri kaku sambil memegangi bagian dadanya.
"Ada apa denganmu?" tanya Leonardi dengan nada dingin, namun mata laki-laki itu menatap penuh tanya.
Emely menoleh pelan, wajahnya pucat dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Maaf, Pak Leo ... saya ... d**a saya sakit karena belum memompa ASI dari tadi pagi," bisiknya nyaris tak terdengar.
Leonardi mengerutkan alis. Untuk sesaat, dia hanya menatap perempuan itu tanpa berkata apa-apa, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Apa kamu bisa menahannya sampai di rumah sakit?" tanya Leonardi saat melihat Emely meringis.
"Saya ... akan berusaha menahannya, Pak," jawab Emely di tengah rasa nyeri yang mendera dadanya.
Leonardi mengangguk dan membantu Emely duduk. Setelah memastikan wanita itu duduk dalam posisi nyaman, Leonardi melajukan mobilnya meninggalkan gedung perkantoran.
Suasana di dalam mobil terasa hening, Leonardi mengemudi dalam kecepatan yang cukup tinggi, sembari sesekali melihat Emely yang menyandarkan kepala pada kaca mobil.
Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Leonardi membantu Emely turun dan memapah wanita itu menuju ruang perawatan Aluna.
Saat tiba di ruangan NICU, Leonardi hanya melihat Dena yang berjaga. Dia lalu berpikir mungkin Rina sudah pulang.
"Duduklah dulu di sini, saya akan memanggil perawat untuk meminjam alat pemompa ASI," ucap Leonardi.
Emely mengangguk dan menunggu dengan mata terpejam, mengabaikan tatapan sinis yang dilayangkan oleh Dena.
Beberapa saat kemudian, Emely merasa pundaknya ditepuk oleh seseorang dia membuka mata dan melihat seorang perawat wanita yang sudah mempersiapkan alat untuk memompa.
"Mbak Emely, ya. Saya sudah dengar sekilas dari Pak Leonardi. Sekarang cepat Mbak pompa ASInya, supaya nyerinya berkurang."
Emely hanya mengangguk, lalu mulai menempelkan corong ke salah satu dadanya. Perawat itu membantu Emely menampung ASI ke dalam sebuah botol. Rasa nyeri pada sekujur tubuhnya perlahan berganti dengan perasaan hangat saat melihat tetes kehidupan itu keluar sedikit demi sedikit.
'Seharusnya ASI Mama untuk kamu, Carmen. Tapi Mama harus memberikannya kepada bayi yang lebih membutuhkan. Semoga kelak kamu mengerti, jika bukan keinginan Mama meninggalkanmu,' gumam Emely di dalam hati sambil menahan air mata.
Sementara itu di sudut ruangan, Leonardi berdiri sambil memperhatikan Emely dengan sorot mata yang penuh kelembutan.
Dena yang melihat gelagat Leonardi hanya dapat memaki Emely di dalam hati, sebab selama sebulan menjadi pengasuh Aluna, baru kali ini dia melihat wajah Leonardi terlihat melembut.
Saat Emely selesai memompa ASInya 20 menit kemudian, wajahnya terlihat sedikit lebih lega, dan rasa nyeri pada tubuhnya juga sudah menghilang sepenuhnya.
"Pak Leonardi. Hasil ASI Mbak Emely lumayan banyak, ada 4 botol berukuran 120 ml. Ini cukup sampai besok pagi," ucap sang perawat dengan senyum lebar.
"Terima kasih, Ners," ucap Leonardi sebelum perawat itu meninggalkan ruang perawatan Aluna.
Leonardi menghampiri Emely. "Kamu telah melakukannya dengan baik."
Emely hanya terdiam, tak tahu harus berkomentar apa. Hening sejenak sebelum Leonardi kembali berbicara. "Kamu pasti lapar setelah mengeluarkan ASI sebanyak itu. Tunggu sebentar, saya akan belikan kamu makanan."
Leonardi segera keluar dari ruang perawatan Aluna, meninggalkan Emily berdua dengan Dena yang siap mengkonfrontasi wanita itu.
Dena segera menghampiri Emely dan mencengkeram erat tangan wanita itu "Jangan keganjenan di depan Pak Leo. Dia cuma membutuhkan ASI darimu saja untuk Non Luna. Tidak lebih," desis Dena tepat di telinga Emely.
Emely menghirup oksigen dalam-dalam, mencoba menahan kesabarannya yang hanya setipis tisu. Entah apa masalah pengasuh Aluna pada dirinya sampai-sampai wanita itu terus mencari masalah dengan dirinya.
Emely menyentak tangan Dena hingga cengkraman itu terlepas. Mata
Emely menatap wanita itu dengan penuh ketegasan.
"Apa masalah Suster dengan saya? Kenapa sejak awal, Suster terlihat tidak suka melihat saya menyusui Aluna."
Dena tampak gemetar sesaat, terkejut dengan ketegasan Emely yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Padahal waktu awal Leonardi membawa Emely ke rumah, wanita itu terlihat rapuh seperti kaca yang mudah hancur saat tak sengaja tersentuh.
Emely yang ada di hadapannya sekarang terlihat menyimpan kekuatan besar, di balik tubuhnya yang ringkih. Namun, ego dan rasa tidak sukanya pada Emely membuatnya enggan mundur dari pertarungan mental ini.
“Jangan sok suci. Kamu pikir saya nggak tahu maksud kamu deket-deket sama Pak Leonardi?” Dena menyilangkan tangan di d**a. "Jangan-jangan kamu sengaja merancang skenario menyedihkan agar dapat menjerat pria kaya dan ternyata Pak Leonardi yang terkena umpanmu."
Emely menatap Dena lebih lama, matanya tetap tenang meski rasa lelah mulai terasa.
“Saya tidak peduli Suster mau berpikir seperti apa tentang saya. Karena saya tidak punya alasan untuk menjelaskan apa pun kepada orang yang sudah menilai buruk saya," ucap Emely dengan nada tajam.
Suara pintu yang terbuka, membuat kedua wanita itu menoleh. Tampak Leonardi masuk dengan dua kantong plastik berisi makanan dan minuman. Dahinya mengerut saat melihat ekspresi Emely dan Dena yang saling menatap penuh ketegangan.
"Ada apa ini?" tanyanya datar, tetapi matanya menatap tajam ke arah Dena.
Dena buru-buru tersenyum dan mundur satu langkah. "Saya ... hanya menanyakan keadaan Mbak Emely. Takutnya dia masih lemas setelah memompa ASI."
Leonardi menatap wanita itu dalam diam, tak percaya sepenuhnya pada alasan tersebut. Namun, pada akhirnya dia memilih untuk tak memperpanjang masalah ini. Dia beralih pada Emely dan menyodorkan dua buah kantung plastik bening.
"Makanlah ini selagi masih hangat."
Emely mengangguk pelan, menerima kantung itu dengan kedua tangan. “Terima kasih, Pak.”
"Suster sudah makan? Kalau belum pergilah makan sebentar, selagi saya masih ada di sini."
Meskipun Leonardi mengatakannya dengan nada biasa saja, Dena tahu jelas kalau itu adalah perintah agar dia meninggalkan ruangan ini.
“Apa yang terjadi antara kamu dan Suster Dena saat saya tidak berada di ruangan ini?" tanya Leonardi saat suara langkah Dena tak lagi terdengar.
"Tidak terjadi apa-apa antara saya dan Suster Dena. Sepertinya dia masih kesal sama saya," kata Emely.
"Kesal untuk apa?" tanya Leonardi dengan mengernyit kan dahi.
"Mungkin dia kesal, karena Aluna sampai harus dirawat seperti ini," jawab Emely yang mencoba untuk santai.
Namun jauh di dalam hatinya, Emely tahu bahwa kejadian hari ini mungkin awal dari konflik yang lebih panjang dengan Dena.