Setelah menyelesaikan makannya, Emely merasa tubuhnya sedikit lebih segar, meskipun matanya sekarang terasa mengantuk. Dia lalu berdiri dan menuju inkubator tempat Aluna berbaring.
Emely langsung terpaku saat pandangannya tertuju pada tubuh mungil Aluna
yang terpasang alat bantu pernapasan serta selang infus. Bayi itu begitu kecil, begitu rapuh … namun ada kekuatan besar dalam setiap detik napasnya.
Air mata langsung menggenang di pelupuk mata Emely. Dia menggenggam sisi inkubator, menatap Aluna dengan hati yang penuh ⁹oleh rasa yang tak dapat dia gambarkan.
“Aluna,” bisiknya. “Kamu kuat sekali, Nak .…”
Leonardi berdiri sedikit di belakang Emely, tak ingin mengganggu momen itu. Tapi hatinya tersentuh saat melihat Emely yang sedang memandangi Aluna dalam diam.
Sementara itu, Dena yang baru kembali ke ruangan Aluna, memperhatikan interaksi keduanya dengan tatapan tajam. Mulutnya mengatup rapat dan rahangnya mengeras. Ada bara yang menyala dalam hatinya, dan dia tak akan tinggal diam saat merasa posisinya sebagai pengasuh Aluna akan tergeser perlahan oleh wanita yang baru datang dalam kehidupan Leonardi.
Dena berdiri mematung di ambang pintu ruangan inkubator, menatap tajam ke arah Emely yang tengah berdiri dekat Aluna. Dadanya terasa sesak melihat cara Leonardi memandang wanita itu — penuh kehangatan, penuh harapan. Tatapan yang belum pernah sekalipun dia dapatkan, meskipun selama satu bulan ini Dena sudah mencurahkan seluruh waktunya untuk merawat Aluna.
Satu langkah pelan ia ambil, lalu dengan sengaja membiarkan suara sepatunya terdengar agar keberadaannya disadari. Leonardi menoleh cepat, lalu tersenyum tipis.
"Pak Leo. Maaf ... sekarang sudah hampir magrib, saya mau pulang dan istirahat," ucap Emely yang membuat tersadar dari lamunannya.
“Suster Dena juga sudah kembali. Kalau begitu saya antar kamu pulang."
Emely sempat terdiam. Dalam hatinya, dia merasa tawaran Leonardi terlalu sayang untuk ditolak. Namun, bagian lain dari dirinya juga merasa ragu, takut menimbulkan gunjingan atau salah paham orang banyak.
“Tidak usah repot-repot, Pak. Saya bisa naik ojek online,” ucap Emely mencoba menolak halus.
"Saya tidak bisa membiarkan kamu pulang sendiri," ucap Leonardi dengan nada yang tak ingin dibantah.
Leonardi lalu menoleh ke arah Dena. "Suster. Saya pulang dulu, cepet hubungi saya kalau ada terjadi sesuatu dengan Aluna."
"Ayo kita pulang, Emely," kata Leonardi setelah memastikan jika Dena sudah mengerti ucapannya.
Emely mengangguk pelan lalu mengikuti Leonardi keluar dari rumah sakit.
Sepanjang perjalanan menuju kontrakan Emely, suasana terasa hening untuk beberapa saat. Lampu jalan menyinari wajah Emely yang termenung menatap ke luar jendela.
Leonardi meliriknya sekilas. "Tadi kenapa kamu bisa berdebat dengan salah satu staff divisi keuangan?"
Emely terdiam, tak menyangka Leonardi akan mengajukan pertanyaan itu. Untuk sesaat Emely merasa bimbang, bingung harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
"Saya ... bingung harus mengatakannya dari mana," ucapnya lirih.
"Kamu hanya perlu bercerita dan saya akan mendengarkan," kata Leonardi.
Emely menghela napas panjang, otaknya mulai menyusun kalimat yang akan dia rangkai. Setelah merasa siap, Emely mulai membuka mulutnya.
"Orang yang berdebat dengan saya tadi adalah Anna, dia itu adik ipar saya. Sejujurnya juga nggak menyangka akan satu kantor dengannya ...."
Emely menghentikan sejenak ucapannya, menahan amarah yang tiba-tiba menyeruak. Tangannya bahkan mengepal erat.
"Saya tidak tahu apa kesalahan ibu mertua saya mengusir saya dari rumah suami saya. Malahan mereka memisahkan saya dari putri saya yang masih berusia 1 bulan."
Leonardi terdiam saat mendengarnya, bingung harus bereaksi seperti apa. Terlalu larut dalam lamunannya membuat Leonardi tak menyadari ada seekor kucing yang melompati mobilnya.
"Pak Leo! Awas ada kucing di depan!"
Leonardi memang sempat menginjak rem, tapi sayang mobilnya tak sempat menghindari sebuah pohon yang cukup besar. Teriakan dari luar mobil pun terdengar saling bersahut-sahutan. Mereka mencoba untuk memeriksa keadaan orang yang berada di dalamnya.
Mata Emely yang sempat tertutup kini terbuka lebar, dia menoleh ke arah Leonardi yang terlindungi oleh airbag mobil. Tapi sayangnya, efek kecelakaan ini ternyata menimbulkan trauma mendalam pada Emely.
"Mas Aji ... kenapa Mas tega meninggalkan aku," racau Emely di sela isak tangisnya.
Emely yang terus menerus menangis, akhirnya menyadarkan Leonardi dari keterpakuannya. Dia segera membuka seatbelt miliknya dan keluar dari mobil untuk melihat keadaan sekitar.
Suasana di luar mobil sudah mulai ramai. Beberapa orang berlari mendekat, sementara suara klakson kendaraan lain bersahut-sahutan. Leonardi sedikit terhuyung saat berdiri, tapi ia mengabaikan rasa nyeri di pelipisnya yang sepertinya terbentur cukup keras.
“Emely!” panggilnya panik begitu menyadari wanita itu masih terisak di dalam mobil.
Leonardi buru-buru membuka pintu sisi penumpang, mencondongkan tubuh ke arah Emely yang masih gemetar hebat.
"Saya di sini ... tenanglah, Emely," bisiknya sambil mengelus pundak wanita itu. “Kita sudah aman dari bahaya."
Tapi Emely tak menjawab. Tubuhnya kaku, matanya kosong menatap ke depan, dan tangisnya kini berubah menjadi isakan yang teredam. Leonardi menggeram saat melihatnya.
Orang-orang mulai mengerubungi mobil. Seorang pria paruh baya mendekat dan bertanya, "Mas dan Mbaknya tidak apa-apa?"
Leonardi mengangguk cepat. "Kami baik-baik saja. Terima kasih, Pak.”
"Mas. Istrinya masih nangis, mungkin syok. Ini air untuk istri Mas," ucap seorang pria yang sedang memegang sebotol air mineral.
"Tidak usah, Pak. Saya masih ada stok air minum di mobil. Saya akan akan menelepon mobil derek dulu."
Seketika saja pria yang menawarkan minum Emely merasa gemetar saat mendengar nada suara Leonardi yang dingin.
"Kalau begitu, kami permisi dulu. Nanti sampai di rumah Istrinya ditenangin lagi ya, Mas." Setelah mengatakan itu beberapa orang yang menolong keduanya langsung meninggalkan tempat kejadian.
Leonardi menghela napas lega karena dapat mengusir orang-orang yang memiliki niat buruk pada mereka. Setelah memastikan hanya ada dirinya dan Emely, Leonardi menelepon layanan mobil derek.
Leonardi lalu beralih pada Emely yang gemetar hebat.
Wanita itu masih larut dalam lamunannya membuat Leonardi menggeram kasar. Dia segera mengguncang tubuh keras tubuh Emely.
"Emely! Sadarlah! Ini saya, Leonardi!" seru Leonardi sambil mengguncang keras bahu Emely.
Emely akhirnya berkedip, napasnya memburu dan pandangannya mulai fokus. Dia menatap Leonardi dengan mata merah dan wajah pucat. Tubuhnya masih gemetar, tapi kesadarannya mulai kembali.
“A-aku … aku kira aku akan kehilangan nyawaku, seperti Mas Aji …,” lirihnya terbata, masih terisak.
"Jangan menangis lagi. Kita sudah aman sekarang," ucap Leonardi sembari menatap Emely dengan sorot mata sulit untuk dijelaskan.
Beberapa menit kemudian, suara deru mobil derek mulai terdengar dari kejauhan. Ketiga petugas derek mulai menangani mobilnya, Leonardi menoleh ke Emely yang duduk diam di kursi trotoar.
"Saya sudah pesan taxi dan drivernya sudah tiba," ucap Leonardi yang menunjuk sebuah mobil hitam.
Emely mencoba berdiri, meskipun masih merasa lemas. Di dalam taxi keheningan menyelimuti mereka.
Sampai akhirnya Leonardi bersuara.
"Saya tidak tenang membiarkan kamu tinggal sendirian saat perasaanmu masih kacau seperti ini. Bagaimana kalau kamu tinggal di rumah saya untuk sementara. Setidaknya sampai kamu benar-benar tenang."
Emely menoleh cepat, ragu. “Saya tidak mau diusir untuk ketiga kalinya, Pak."
Leonardi menghela napas kasar setelah mendengarnya. Ucapan Emely terasa seperti sindiran baginya.